Rabu, 15 Juli 2026
Beranda / Berita / Aceh / Pakar Indonesia-Malaysia Bahas Digitalisasi Manuskrip Nusantara di UIN Ar-Raniry

Pakar Indonesia-Malaysia Bahas Digitalisasi Manuskrip Nusantara di UIN Ar-Raniry

Selasa, 14 Juli 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Seminar Seri Jilid 2 Webinar Kajian Studi Islam yang diselenggarakan Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (14/7/2026). Foto: for Dialeksis 


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pakar manuskrip dari Indonesia dan Malaysia menyoroti pentingnya digitalisasi manuskrip Nusantara sebagai upaya menjaga warisan intelektual, memperkuat ketahanan budaya, sekaligus memperluas kolaborasi riset di tingkat global. 

Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Seri Jilid 2 Webinar Kajian Studi Islam yang diselenggarakan Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (14/7/2026).

Seminar bertema "Digitalizing Nusantara Manuscripts for Intellectual Sustainability, Cultural Resilience, and Global Knowledge Exchange" itu menghadirkan Dr Farid Mat Zain dari Pusat Kajian Bahasa Arab dan Tamadun Islam, Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang bergabung secara virtual dari Malaysia serta Abdullah Maulani MHum dari DREAMSEA-PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang hadir langsung di Pascasarjana UIN Ar-Raniry.

Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof Eka Srimulyani MA PhD, mengatakan manuskrip Nusantara merupakan aset intelektual yang menyimpan sejarah, tradisi keilmuan, dan identitas budaya masyarakat. Karena itu, upaya pelestariannya harus menjadi perhatian bersama, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital.

"Tema ini sangat penting karena tidak hanya berbicara mengenai sejarah manuskrip Nusantara, tetapi juga bagaimana warisan intelektual tersebut menjadi bagian dari penguatan ketahanan budaya sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan secara global," kata Eka saat membuka seminar.

Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan saat ini hanya dapat tumbuh melalui kolaborasi antarlembaga dan lintas negara. Perguruan tinggi, kata dia, memiliki tanggung jawab menjadi ruang diseminasi ilmu sekaligus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

"Pertukaran pengetahuan secara global menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kita tidak akan berkembang sendiri, tetapi melalui kolaborasi dan jejaring akademik yang kuat," ujarnya.

Eka juga mengapresiasi Program Studi Doktor Studi Islam yang menghadirkan seminar dalam format berseri. Menurutnya, model tersebut menjadi ruang berkelanjutan untuk menghadirkan gagasan baru dan memperkuat tradisi akademik di lingkungan Pascasarjana UIN Ar-Raniry.

Sementara itu, Ketua Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof Dr Syamsul Rijal MAg mengatakan kegiatan tersebut merupakan webinar perdana Seri Jilid 2 yang digagas Program Studi Doktor Studi Islam sebagai ruang diskusi ilmiah berkelanjutan. 

Menurutnya, seminar berseri tersebut menjadi bagian dari komitmen Pascasarjana UIN Ar-Raniry dalam memperkuat budaya riset, memperluas jejaring akademik, serta menghadirkan forum ilmiah yang mempertemukan pakar nasional dan internasasional untuk membahas isu-isu strategis dalam kajian Islam.

Dalam kesempatan itu, Abdullah Maulani memaparkan materi bertajuk "Dari Pusaka ke Pustaka: Digitalisasi Naskah oleh DREAMSEA." Ia menjelaskan bahwa digitalisasi merupakan bagian dari upaya penyelamatan manuskrip yang terancam rusak akibat usia, kondisi lingkungan, maupun keterbatasan akses penyimpanan. 

Menurut Abdullah, banyak manuskrip Nusantara masih berada di tangan masyarakat dan komunitas lokal. Sebagian disimpan di tempat-tempat sakral, ruang yang lembap, hingga lokasi yang sulit dijangkau sehingga berisiko mengalami kerusakan. Kondisi tersebut menjadi tantangan utama dalam pelestarian manuskrip. 

Melalui program DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia), digitalisasi difokuskan pada penyelamatan manuskrip milik perseorangan dan komunitas yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi. Seluruh hasil digitalisasi disediakan melalui skema akses terbuka (open access) sehingga dapat dimanfaatkan oleh peneliti dan masyarakat luas. 

Ia mengatakan tantangan pelestarian tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik manuskrip, tetapi juga akses menuju lokasi penyimpanan, keterbatasan listrik di lapangan, hingga keberlanjutan program konservasi. Karena itu, DREAMSEA membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga, termasuk Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, untuk menyediakan fasilitas penyimpanan yang lebih aman bagi manuskrip serta memberikan salinan digital dan sertifikat kepada para pemilik naskah. 

Abdullah menambahkan, digitalisasi juga membuka peluang pemanfaatan manuskrip sebagai sumber inovasi budaya. Sejumlah naskah kuno telah diadaptasi menjadi motif batik, komik digital, hingga materi edukasi sehingga warisan intelektual Nusantara tetap hidup dan dapat dikenalkan kepada generasi muda. 

Sementara itu, Dr Farid Mat Zain yang mengikuti seminar secara virtual dari Malaysia menyampaikan materi "Digitalisasi Manuskrip Melayu Nusantara: Pemerhatian Awal." Ia menekankan bahwa manuskrip Melayu merupakan sumber penting dalam memahami sejarah peradaban, perkembangan Islam, bahasa, sastra, hukum, dan pemikiran masyarakat Melayu di Asia Tenggara.

Menurut Farid, kemajuan teknologi digital membuka peluang besar bagi pelestarian manuskrip karena memungkinkan koleksi yang tersebar di berbagai perpustakaan, lembaga maupun koleksi pribadi terdokumentasi dengan baik tanpa mengurangi keamanan naskah aslinya.

Ia menegaskan bahwa digitalisasi tidak boleh berhenti pada proses pemindaian. Tahapan identifikasi, katalogisasi, transliterasi, penelitian hingga publikasi ilmiah harus berjalan beriringan agar manuskrip mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan memperkuat kajian Islam di kawasan Melayu.

Farid juga mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, perpustakaan, lembaga arsip, peneliti, dan komunitas pemilik manuskrip di Indonesia, Malaysia, serta negara-negara Asia Tenggara lainnya. Menurutnya, sinergi lintas negara menjadi kunci untuk memastikan warisan intelektual Nusantara tetap lestari sekaligus dapat diakses oleh masyarakat akademik dunia. 

Webinar yang dimoderatori Nurrahmi SPdI MPd tersebut diikuti mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry, dosen, peneliti, serta peserta dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga. [ ]

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI