DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Direktur TBM Pondok Baca Al-Munawwarah sekaligus pengelola Perpustakaan Kecamatan Montasik, Jamalidiana mengajak generasi muda untuk kembali meramaikan perpustakaan dan meningkatkan budaya literasi di tengah perkembangan era digital yang semakin pesat.
Ia menilai rendahnya minat baca di kalangan anak muda menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi bersama.
Menurutnya, saat ini banyak generasi muda lebih banyak menghabiskan waktu bermain gawai dan media sosial dibandingkan membaca buku.
Padahal, membaca merupakan salah satu cara utama untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
“Kalau anak muda malas membaca, maka wawasan mereka akan sempit. Mereka akan lebih mudah menerima informasi mentah tanpa memahami isi dan kebenarannya,” kata Jamalidiana kepada media dialeksis.com, Kamis, 14 Mei 2026.
Ia menjelaskan, rendahnya minat baca juga berdampak pada kemampuan generasi muda dalam memahami informasi secara mendalam. Menurutnya, kebiasaan malas membaca dapat membuat seseorang sulit berpikir kritis dan kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat.
“Orang yang jarang membaca biasanya lebih sulit memahami sesuatu secara mendalam. Bahkan untuk menyampaikan pendapat saja kadang kesulitan karena kurang referensi dan pengetahuan,” ujarnya.
Karena itu, Jamalidiana mengajak pelajar dan generasi muda mulai membangun kebiasaan membaca secara perlahan dan konsisten setiap hari. Menurutnya, membaca tidak harus dilakukan dalam waktu lama, tetapi dimulai dari hal sederhana sesuai minat masing-masing.
Ia juga membagikan beberapa cara agar membaca terasa lebih mudah dan menyenangkan, seperti memilih buku sesuai hobi atau ketertarikan agar tidak cepat bosan.
“Kalau suka olahraga, baca buku olahraga dulu. Kalau suka cerita atau motivasi, mulai dari situ. Jangan langsung membaca buku yang terlalu berat karena nanti cepat bosan,” katanya.
Selain itu, ia menyarankan agar pembaca fokus memahami inti bacaan dengan membuat catatan kecil, menandai poin penting, dan mencoba menceritakan kembali isi buku menggunakan bahasa sendiri.
“Kalau ingin cepat paham, setelah membaca coba ceritakan kembali isi buku dengan bahasa kita sendiri. Itu sangat membantu melatih pemahaman,” jelasnya.
Jamalidiana juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan sering menjadi penyebab anak muda malas membaca. Karena itu, ia mengajak generasi muda mulai membatasi distraksi dari gawai dan melatih fokus saat membaca.
“Kadang orang malas membaca karena terlalu sering terdistraksi media sosial. Jadi harus mulai membatasi itu dan melatih fokus sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Menurutnya, perpustakaan juga harus bertransformasi menjadi ruang yang nyaman, kreatif, dan ramah bagi anak muda agar budaya membaca dapat tumbuh secara alami.
“Perpustakaan hari ini tidak boleh lagi dianggap tempat yang membosankan. Harus menjadi ruang belajar yang hidup, tempat anak muda berdiskusi, berkarya, dan mengembangkan kreativitas,” katanya.
Dalam kegiatan Studi Literasi tersebut, para siswa diajak membaca buku pilihan mereka, membuat resume, hingga mengembangkan hasil bacaan menjadi poster kreatif dan konten video literasi untuk media sosial.
Jamalidiana menilai pendekatan kreatif seperti itu efektif untuk menarik minat generasi muda agar lebih dekat dengan dunia literasi di era digital.
“Anak muda sekarang dekat dengan media sosial. Jadi literasi juga harus mengikuti perkembangan zaman agar mereka tertarik membaca dan belajar,” ujarnya.
Ia berharap budaya membaca dapat kembali tumbuh di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pelajar dan generasi muda di Aceh Besar.
“Membaca itu investasi masa depan. Semakin banyak membaca, semakin luas cara berpikir seseorang. Anak muda jangan malu datang ke perpustakaan dan mulai membiasakan diri membaca dari sekarang,” tutupnya.