Sudah hampir enam bulan musibah hidrometeorologi, namun normalisasi sungai Jambo Aye, di Linge, Aceh Tengah belum dilakukan. Warga dibalut perasaan takut ketika hujan turun, sungai meluap, banjir susulan terjadi.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Kami membutuhkan seorang ayah yang akan memberikan punggungnya untuk melindungi anak-anaknya dari ancaman maut. Ayah yang rela tubuhnya tertusuk belati, dihujani panah. Ayah yang rela kembali ke Ilahi demi menyelamatkan anak-anaknya. Kami rindukan ayah sejati.
DIALEKSIS.COM | Feature - “Bagaimana kami mau menonton pacuan kuda. Untuk makan saja susah. Kami bertahan hidup dalam bayang-bayang maut,” sebut Khairuddin Aman Alfi, Warga Dedamar, Bintang, Aceh Tengah. Apakah event yang dinilai banyak pihak ini menambah luka diatas luka saat negeri ini dilanda bencana, akan tetap dilaksanakan Pemda Aceh Tengah menjelang lebaran Idul Adha ini?
DIALEKSIS.COM | Feature - Demi sesuap nasi mereka terus bergerak. Ancaman maut itu mereka sadari, namun tidak ada pilihan lain. Kalau diam berarti mereka akan mati, masa depan anak-anaknya tidak jelas. Demi sesuap nasi dan buah hati, semua tantangan itu mereka lalui.
DIALEKSIS.COM| Takengon- Hujan yang menguyur Kawasan Bireun, Bener Meriah dan Aceh Tengah, telah membuat akses jalan dari negeri Juang menuju Bener Meriah, Aceh Tengah tidak bisa dilalui.
DIALEKSIS.COM- Feature| Sudah banyak kenderaan yang terjungkal, barang barang berserakan. Namun pihak yang bertanggungjawab memperbaikinya abai. Acuh tak acuh, bagaikan menyiapkan tumbal nyawa.
DIALEKSIS.COM| Indept- Bagaikan tertusuk ke relung hati, perih merintih bertindih. Itulah perasaan yang dialami para korban bencana Aceh, ketika “ayah” orang nomor satu di Pertiwi menyebutkan pemulihan bencana Aceh hampir 100 persen.
DIALEKSIS.COM| Feature- Penjara terbuka. Apakah bakal ada yang mengisinya karena bantuan bencana? Tidak tertutup kemungkinan bila penyidik mampu membuktikan, ada manusia yang menyanyat luka di atas luka terhadap korban bencana.
Dimana ibu dan ayah mereka yang menyatakan dirinya mampu mengurus para korban bencana? Sampai saat ini negara belum serius mengurus mereka. Atau negara tidak mampu, sehingga ada anak tiri dan anak kandung?
Dialeksis.com |Feature- Ada korban hidrometeorologi bagaikan pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Penderitaanya berlapis. Sudah didera musibah, namun dia terlewatkan tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Tidak masuk dalam data.
DIALEKSIS.COM| Feature- Tajamnya lidah mengundang bencana. Itulah yang dilakukan pejabat negara. Karena ucapanya rakyat dipaksa untuk panik buying. Antri berjam-jam untuk menyetok kebutuhan.
DIALEKSIS.COM| Indepth - Perang Iran apa hubunganya dengan korban bencana hidrometerologi? Dampaknya sangat besar, tanpa perang saja pemerintah sudah lamban mengurus korban bencana, apalagi kini kepulan asap mesiu mempengaruhi dunia.
DIALEKSIS.COM | Kolom - Kepemimpinan selalu berada di antara dua kemungkinan, yaitu menjadi berkah atau berubah menjadi musibah bagi rakyat yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin bukan lah posisi yang netral, sebab setiap kata dan keputusan yang lahir darinya menyentuh kehidupan banyak orang. Kekuasaan bersentuhan langsung dengan harapan, kecemasan, dan rasa keadilan publik. Di situlah bobot moralnya.
Validkah data tentang musibah di Aceh Tengah? Mengapa sebagian sudah mendapatkan hunian sementara (huntara) ada sebagian lainya yang masih menunggu kepastian. Apakah ada diskriminasi?
Sejumlah pertanyaan itu kini menjadi pembahasan public. Bahkan di lapangan diantara korban memunculkan kecemburuan social. Bagaikan ada anak kandung dan anak tiri.
Lantas mengapa ada sebagian korban yang masih berbalut dingin menginap di tenda pengungsian. Bukankah seharusnya mereka sudah menempati hunian sementara (Huntara). Mengapa ada yang sudah menetap di huntara, namun masih banyak korban yang belum mendapat sentuhan?
DIALEKSIS.COM| Takengon- Warga Kala Segi, Bintang, Aceh Tengah membangun rumah hunian sementara (Huntara) dengan swadaya. Warga para korban musibah banjir bandang saling bahu membahu.
DIALEKSIS.COM| Takengon- Sudah lebih dua bulan bencana yang melanda Aceh Tengah, namun negeri penghasil kopi itu masih menyisakan 8 kampung yang terisolir, dan 24 kampung masih gelap gulita tanpa penerangan listrik.
DIALEKSIS.COM | Feature - Angka angka itu bila dicermati dengan seksama, goresanya mengerikan, mengambarkan bagaimana luluh lantaknya sebuah negeri. Tanah yang subur, selama ini menjadi idola karena fanorama alamnya, hasil pertanian dan budaya, dalam sekejab luluh lantak diterjang banjir bandang.
DIALEKSIS.COM | Opini - Setelah hampir dua bulan musibah banjir dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh sejak 26 November 2025, pemerintah dan masyarakat Aceh harus terus berbenah untuk menata kembali kehidupan yang porak-poranda dan menyisakan duka.
DIALEKSIS.COM| Takengon- Walau Aceh Tengah masih memberlakukan tanggap darurat, karena masih ada 24 perkampungan yang masih terisolasi, namun langkah menyiapkan rumah hunian sementara (Huntara) negeri penghasil kopi ini sudah selangkah di depan.