DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Banyak cerita heroik yang mengiringi keberadaan Radio Rimba Raya, sebuah stasiun radio perjuangan yang menjadi corong Republik Indonesia ke dunia internasional di masa awal kemerdekaan.
Namun, di balik suara yang mengudara dari belantara Aceh itu, tersimpan kisah panjang tentang penyelundupan, pengkhianatan terhadap penjajah, dan kolaborasi lintas bangsa yang jarang diketahui publik.
Radio Rimba Raya bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah simbol perlawanan di tengah Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947, ketika Republik Indonesia terancam lenyap dari peta diplomasi internasional.
Untuk menjaga agar suara kemerdekaan tetap terdengar, tentara Divisi X (Gajah I) Aceh merancang operasi rahasia, menyelundupkan pemancar radio dari Malaya ke pedalaman Aceh.
Tokoh kunci di balik pembelian dan pengaturan penyelundupan perangkat radio adalah Mayor Reni P. Sarim (juga dikenal sebagai Nip Xarim).
Ia merupakan pejuang Republik yang memiliki jaringan luas di Singapura dan Malaya. Menggunakan dana sumbangan rakyat Aceh, Mayor Reni membeli peralatan pemancar radio di Malaya, jauh sebelum Agresi Militer Belanda I meletus.
Sejumlah catatan sejarah menyebut, peralatan tersebut sempat disimpan di Pangkalan Brandan sebelum akhirnya dikirim ke Aceh. Proses ini berlangsung senyap, di tengah ketatnya blokade laut Belanda.
Sebagai Panglima Divisi X Aceh, Kolonel Husein Yusuf (Hoesein Yoesoef) menjadi penanggung jawab operasional Radio Rimba Raya. Demi keamanan, ia memerintahkan agar pemancar radio dibawa jauh ke pedalaman hutan Gayo, wilayah Aceh Tengahâ“Bener Meriah.
Pemancar pertama kali dipasang di Krueng Simpo, sekitar 20 kilometer dari Bireuen ke arah Takengon. Menariknya, studio siaran Radio Rimba Raya kala itu hanya berupa salah satu kamar di rumah kediaman Kolonel Husein Yusuf sendiri.
Nama John Lie, atau John Lai, kerap disebut dalam berbagai literatur sebagai aktor penting dalam penyelundupan ini. Ia dikenal sebagai perwira Angkatan Laut Republik Indonesia keturunan Tionghoa-Manado, yang dijuluki âThe Black Speedboatâ karena keberaniannya menembus blokade laut Belanda.
Buku âPeran Radio Rimba Rayaâ terbitan Kanwil Depdikbud Aceh (1990) mencatat, John Lie menggunakan dua speedboat dalam operasi tersebut. Satu boat berisi bahan makanan dan kelontong, sementara yang lain mengangkut pemancar radio.
Saat berpapasan dengan patroli laut Belanda, speedboat bermuatan logistik melaju kencang dan memancing kejaran. Patroli Belanda pun terpancing, sementara speedboat berisi pemancar melaju tenang dan berhasil mendarat di Sungai Yu, pedalaman Aceh Timur.
Meski demikian, terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan. Ali Hasjmy dan T.A. Talsya menyebut John Lie sebagai pembeli peralatan radio.
Namun, sutradara dokumenter Radio Rimba Raya, Ikmal Gopi, menyatakan John Lie baru tiba di Singapura pada 1947, bertepatan dengan Agresi Militer I, dan singgah di Medan serta Kuala Simpang pada September 1947.
Keunikan Radio Rimba Raya terletak pada kru penyiarannya. Sejumlah tentara Sekutu yang membelot -- asal Inggris, India, dan Pakistan -- turut membantu pengoperasian radio.
Di antaranya John Edward Abdullah, warga Inggris yang menjadi teknisi sekaligus penyiar bahasa Inggris; Abu Bakar Syamsuddin, warga Pakistan yang menyiarkan berita dalam bahasa Urdu; serta Lieutenant Satucandra Sersanagris dari India yang membantu aspek teknis.
Mereka bekerja bersama kru lokal Aceh, termasuk Wong Fie, penyiar bahasa Mandarin dari Bireuen, dan Suryadi, penyiar berita berbahasa Indonesia.
Setelah peralatan radio berhasil mendarat di Aceh, tugas paling berbahaya justru dimulai. Tanggung jawab itu berada di pundak Nukum Sanani, perwira lapangan yang menguasai medan pegunungan Gayo.
Di bawah komandonya, perangkat radio dipikul, disembunyikan dalam gerobak, berpindah dari rumah penduduk, dan dibawa mendaki tebing-tebing terjal. Nukum Sanani memastikan alat komunikasi itu aman dari sergapan tentara Belanda hingga akhirnya terpasang kokoh di tengah belantara hutan. [nh]