Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Sosok Kita / Di Balik Langkah Zig-Zag Nazaruddin Dek Gam

Di Balik Langkah Zig-Zag Nazaruddin Dek Gam

Senin, 16 Februari 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Nazaruddin akrab disapa Dek Gam pengusaha, politikus dan pejuang agama. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Soki - Riuh tepuk tangan membelah Stadion H. Dimurthala, Lampineung, pada suatu sore menjelang akhir 2019. Persiraja Banda Aceh berada di ambang sejarah. Di tribun kehormatan, Nazaruddin akrab disapa Dek Gam berdiri dengan wajah tegang. Ia telah menjanjikan bonus ratusan juta rupiah jika Laskar Rencong menembus Liga 1. Janji itu bukan sekadar angka. Ia menjadi simbol keterlibatan personal seorang pengusaha sekaligus politikus dalam denyut sepak bola Aceh.

Nama Nazaruddin Dek Gam dalam satu dekade lebih terakhir bergerak di tiga gelanggang sekaligus, apa saja? Ia berhasil menorehkan dan membesarkan dirinya sendiri di bisnis, politik nasional, dan olahraga. Kini, satu dimensi lain kian menguat dalam jejaknya melalui pembangunan aqidah generasi muda melalui pendidikan dayah.

Penelusuran redaksi Dialeksis melalui arsip pemberitaan, dokumen resmi, dan berbagai sumber informasi yang tervalidasi, memperlihatkan sosok yang membangun pengaruh melalui kombinasi modal ekonomi, posisi politik, jejaring sosial, dan loyalitas terhadap identitas Aceh baik dalam sepak bola maupun pendidikan keagamaan.

Lahir di Leupung, Aceh Besar, 20 Mei 1979, Nazaruddin tumbuh dalam lanskap sosial Aceh yang penuh dinamika: konflik, tsunami, dan proses rekonstruksi panjang. Pendidikan dasarnya ditempuh di Aceh sebelum melanjutkan studi dan meraih gelar sarjana Ilmu Hubungan Internasional.

Jejak bisnisnya dimulai sejak 2004. Ia memimpin sejumlah unit usaha di berbagai sektor. Dunia usaha membentuk karakternya cepat mengambil keputusan, berani mengambil risiko, dan terbiasa menghadapi tekanan.

Karakter itu pula yang kelak tampak ketika ia memasuki dunia politik dan sepak bola.

Di politik nasional, Nazaruddin kembali terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2024 - 2029 dari Daerah Pemilihan Aceh I dengan perolehan suara signifikan. Tak lama kemudian, ia dipercaya menjadi Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI posisi yang mengawasi etika dan kehormatan anggota parlemen.

Penunjukan itu memperlihatkan dua hal dari sosok Nazaruddin pertama kepercayaan politik internal partai dan kedua kemampuan membangun komunikasi lintas fraksi.

Namun di Aceh, namanya tak hanya dikenal sebagai anggota DPR atau ketua MKD. Ia lebih dulu dikenal sebagai “bos Persiraja”.

Persiraja bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah simbol identitas Aceh. Ketika Nazaruddin masuk sebagai pemilik dan presiden klub pada periode 2016 - 2017, kondisi Persiraja belum stabil secara finansial.

Pada 2019, momentum kebangkitan datang. Menjelang semifinal Liga 2, Nazaruddin menjanjikan bonus Rp300 juta jika tim menang. Janji itu ditepati ketika Persiraja akhirnya memastikan promosi ke Liga 1 musim 2020.

Di musim berikutnya, ia kembali memberikan bonus Rp100 juta setelah kemenangan penting di Liga 1. Publik melihatnya sebagai figur yang bukan hanya duduk di belakang meja, tetapi terlibat langsung dalam atmosfer pertandingan.

Namun perjalanan tak selalu mulus. Pada 2022, ia menyerahkan pengelolaan klub kepada pihak lain karena alasan kesibukan. Transisi itu memunculkan sengketa saham dan persoalan pembayaran yang sempat berujung pelaporan hukum.

Pada 2023, konflik berakhir damai. Persiraja kembali ke tangannya. Salah satu langkah awalnya adalah melunasi tunggakan gaji pemain dan ofisial dari era manajemen sebelumnya.

Bagi pemain, itu pemulihan hak. Bagi publik, itu pemulihan kepercayaan.

Langkah berikutnya adalah kerja sama jangka panjang dengan Pemerintah Kota Banda Aceh untuk menyewa Stadion H. Dimurthala selama lima tahun. Klub mendapatkan kepastian infrastruktur. Kota memperoleh pendapatan daerah.

Pada 2025, Persiraja menggelar seleksi Elite Pro Academy (EPA) U-19 yang diikuti ratusan pemain muda dari berbagai daerah di Aceh. Regenerasi menjadi agenda nyata.

Nazaruddin juga membawa manajemen klub belajar pengelolaan stadion ke Eropa. Ia ingin Persiraja tak hanya kuat di lapangan, tetapi juga profesional dalam tata kelola.

Namun jejak Nazaruddin tidak berhenti pada lapangan hijau. Dalam beberapa tahun terakhir, ia memberi perhatian khusus pada pembangunan aqidah generasi muda. Ia mendirikan sebuah dayah yang diberi nama Dayah Sidiq. Dayah ini dirancang sebagai pusat pendidikan berbasis penguatan nilai-nilai tauhid, akhlak, dan pembinaan karakter generasi penerus Aceh.

Bagi Nazaruddin, membangun sepak bola tanpa membangun aqidah adalah fondasi yang timpang. “Generasi Aceh harus kuat iman dan kuat mental,” begitu salah satu pandangan yang kerap ia sampaikan dalam forum-forum keagamaan.

Selain Dayah Sidiq, ia juga rutin memberikan bantuan ke berbagai dayah di Aceh baik dalam bentuk dukungan fasilitas, bantuan operasional, maupun kontribusi pembangunan sarana pendidikan.

Beberapa laporan media lokal mencatat penyerahan bantuan ambulans untuk dayah dan organisasi pemuda. Pada masa pandemi Covid-19, ia membagikan ribuan paket sembako kepada masyarakat terdampak, termasuk lingkungan pendidikan keagamaan. Bahkan kepedulian itu sampai kini rutin dilakukan termasuk saat musibah bencana banjir dan longsor mendera Aceh di akhir tahun 2025 banyak bantuan bersama partainya yakni PAN membantu korban.

Kepedulian itu juga tampak ketika ada putra-putri Aceh yang membutuhkan bantuan pendidikan. Dalam sejumlah kasus, ia merespons langsung permintaan bantuan biaya studi, baik di dalam maupun luar daerah.

Bagi Nazaruddin, investasi paling strategis bukan hanya infrastruktur atau politik, melainkan manusia. Pendidikan dan aqidah menjadi dua pilar yang ia sebut sebagai fondasi masa depan Aceh.

Di arena politik, Nazaruddin dikenal memiliki gaya yang tak mudah ditebak. Lawan politiknya menyebut langkahnya sebagai “zig-zag” bergerak luwes, fleksibel, dan sering kali di luar perkiraan.

Ia mampu membangun komunikasi lintas kelompok. Di tingkat nasional, ia berada di jantung parlemen. Di daerah, ia aktif membangun struktur partai dan jaringan sosial.

Dalam kontestasi politik lokal maupun nasional, gaya ini membuatnya diperhitungkan. Lawan sulit membaca arah manuvernya. Kawan pun sering kali baru mengetahui langkahnya ketika keputusan sudah diambil.

Strategi itu terlihat dalam beberapa momentum politik termasuk ketika ia mengonsolidasikan kekuatan partai di Aceh dan tetap menjaga posisi strategis di Senayan.

Bagi sebagian pengamat, politik zig-zag adalah bentuk adaptasi terhadap lanskap politik Aceh yang dinamis. Di daerah dengan sejarah konflik dan polarisasi yang kuat, kemampuan membaca situasi dan bernegosiasi lintas kepentingan menjadi kunci bertahan.

Bagi Nazaruddin sendiri, fleksibilitas adalah bagian dari seni politik. Sebagai figur publik, ia juga tak lepas dari kontroversi. Ia pernah dikenai sanksi disiplin oleh otoritas sepak bola nasional terkait dugaan pelanggaran dalam sebuah pertandingan. Peristiwa itu menjadi catatan dalam perjalanan panjangnya di dunia olahraga.

Namun bagi pendukungnya, satu hal yang sulit dibantah adalah konsistensinya menjaga eksistensi Persiraja dan keterlibatannya dalam pendidikan keagamaan.

Di satu sisi, ia berdiri di tribun stadion, menyemangati pemain.

Di sisi lain, ia hadir di lingkungan dayah, berbicara tentang aqidah dan masa depan generasi.

Menilai Nazaruddin Dek Gam tak cukup dari satu sudut pandang. Ia adalah pengusaha yang masuk ke politik. Politikus yang menaruh energi besar pada sepak bola. Dan figur publik yang membangun pendidikan aqidah melalui dayah.

Di Persiraja, ia tampil sebagai penyokong finansial dan pengambil keputusan.

Di Senayan, ia duduk sebagai legislator dan penjaga etika parlemen.

Di dayah, ia berbicara tentang tauhid dan karakter generasi.

Jejak tapak tilasnya memperlihatkan pola yang sama yakni membangun pengaruh melalui kehadiran langsung. Ia tidak hanya menjadi sponsor di balik layar, tetapi memilih tampil di depan, menerima pujian sekaligus kritik.

Apakah kombinasi bisnis, politik, sepak bola, dan pendidikan agama ini akan terus membentuk arah masa depannya? Waktu yang akan menjawab.

Namun satu hal jelas: dalam narasi publik Aceh hari ini, nama Nazaruddin Dek Gam telah menjadi bagian dari percakapan tentang kekuasaan, identitas, dan masa depan generasi.

Di stadion, di parlemen, dan di dayah jejaknya terpatri dalam ruang yang berbeda, tetapi dengan satu benang merah yaitu “pengaruh”.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI