Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / Lukisan Gua Tertua Dunia Ada di Indonesia, Usianya Kalahkan Eropa

Lukisan Gua Tertua Dunia Ada di Indonesia, Usianya Kalahkan Eropa

Senin, 26 Januari 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Penemuan lukisan gua tertua di dunia di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, mengubah cara dunia memandang asal-usul kreativitas manusia. Seni cadas berupa stensil tangan itu diperkirakan berusia setidaknya 67.800 tahun, berdasarkan hasil penelitian terbaru yang terbit di jurnal ilmiah Nature pada 22 Januari 2026.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut temuan tersebut sebagai tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia, sekaligus memperkuat posisi Nusantara sebagai wilayah kunci perkembangan budaya awal Homo sapiens.

“Penemuan ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir simbolik dan ekspresi budaya sudah hadir sangat dini di wilayah kepulauan Indonesia,” kata Fadli yang dilansir pada Senin (26/1/2026).

Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Griffith University, Australia. Tim peneliti menggunakan metode penanggalan Uranium Series berbasis laser pada lapisan kalsit di atas pigmen lukisan. Hasilnya menunjukkan usia lukisan tersebut lebih tua sekitar 1.100 tahun dibanding seni cadas purba di Spanyol, yang sebelumnya dianggap tertua di dunia.

Menurut Fadli, temuan di wilayah Wallacea ini juga berdampak besar pada kajian migrasi manusia modern. Lokasi Liang Metanduno berada di jalur penting migrasi awal manusia menuju Sahul, memperkuat teori bahwa manusia purba telah menguasai teknologi maritim sekaligus membawa tradisi simbolik yang maju. 

“Ini memperluas peta peradaban manusia dan menegaskan peran Nusantara dalam sejarah global,” ujarnya.

Penelitian seni cadas di Sulawesi Tenggara sendiri telah berlangsung sejak 2019 dan mendokumentasikan puluhan situs prasejarah. Selain stensil tangan, sejumlah motif figur manusia dan geometris juga ditemukan. Salah satu ciri unik di Liang Metanduno adalah bentuk ujung jari yang sengaja dibuat meruncing, yang hingga kini masih menjadi teka-teki bagi para arkeolog.

Pemerintah menyatakan akan menindaklanjuti temuan ini melalui riset lanjutan, pengamanan situs, serta pengusulan status cagar budaya nasional hingga warisan budaya dunia UNESCO. 

“Warisan ini bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga kontribusi bagi kemanusiaan,” kata Fadli. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI