Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Politik dan Hukum / Ketua BEM FH USK: Rektor Baru Harus Buktikan USK sebagai Jantong Hate Rakyat Aceh

Ketua BEM FH USK: Rektor Baru Harus Buktikan USK sebagai Jantong Hate Rakyat Aceh

Rabu, 14 Januari 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum USK, Annas Maulana. Dokumen untuk dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Proses pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026-2031 kini memasuki tahapan lanjutan. Setelah melalui pendaftaran serta pemaparan visi, misi, dan program kerja, tiga calon resmi dinyatakan lolos tahap penyaringan dan berhak melaju ke pemilihan akhir.

Ketiga kandidat tersebut yakni Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU, ASEAN Eng, Prof. Dr. Ir. Marwan, dan Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., MBA, DBA. Penetapan dilakukan dalam Rapat Terbuka Majelis Wali Amanat (MWA) yang digelar di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Senin (12/1/2026).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum USK, Annas Maulana, menegaskan bahwa siapapun yang terpilih nantinya harus mampu membuktikan bahwa USK benar-benar menjadi jantong hate rakyat Aceh, bukan sekadar slogan.

“Kami berharap siapapun yang terpilih nanti benar-benar amanah, visioner, serta terbuka terhadap kritik dan aspirasi mahasiswa. USK selama ini selalu digaungkan sebagai jantong hate rakyat Aceh, tetapi itu harus dibuktikan lewat kebijakan yang nyata dan berdampak,” ujar Annas kepada media dialeksis.com, Rabu, 14 Januari 2026.

Menurut Annas, mahasiswa menilai hingga saat ini kebijakan kampus belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat Aceh secara luas.

“Kalau melihat kondisi di lapangan hari ini, jantung hati rakyat Aceh itu justru lebih pantas disematkan pada kampus lain, karena kebijakan yang diambil lebih terasa langsung dampaknya. Sementara di USK, kami menilai masih banyak kebijakan yang belum menyentuh kebutuhan mahasiswa dan masyarakat,” katanya.

Selain itu, Annas juga mengatakan pentingnya peran rektor baru dalam menyiapkan mahasiswa USK menghadapi dunia kerja. Ia menilai banyak lulusan baru yang masih kebingungan menentukan arah setelah wisuda.

“Banyak sarjana fresh graduate yang lulus tapi bingung mau kerja di mana. Ini karena tidak ada fase persiapan dunia kerja yang matang. Kami berharap rektor terpilih bisa menyiapkan sistem yang membantu mahasiswa menghadapi dunia kerja setelah lulus,” ujarnya.

Dalam konteks Aceh yang kerap dilanda bencana, Annas juga berharap kepemimpinan baru USK mampu mengambil peran lebih besar dan strategis, tidak sebatas pengiriman relawan.

“Kami berharap di masa bencana, kebijakan kampus bisa lebih berpihak pada mahasiswa terdampak, misalnya pengurangan UKT, pembebasan UKT, atau bantuan tempat tinggal sementara. Jangan hanya menurunkan relawan, karena dengan kapasitas kampus sebesar USK, seharusnya bisa berbuat lebih dari itu,” tegasnya.

Ia menambahkan, USK memiliki sumber daya keilmuan yang besar dan seharusnya dapat diterapkan secara langsung untuk membantu masyarakat.

Annas juga berharap agar rektor terpilih nantinya mampu membawa USK lebih dekat dengan mahasiswa dan masyarakat Aceh, serta mengambil peran nyata dalam menjawab tantangan sosial dan kebencanaan di daerah.

“Ilmu yang kami miliki bisa diterapkan. Misalnya mahasiswa teknik menyiapkan kebutuhan teknis masyarakat terdampak. Itu jauh lebih berdampak daripada sekadar membersihkan rumah, yang faktanya sudah banyak dilakukan,” tutup Annas.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI