Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Pemerintahan / Viral Usulan Gerbong KRL, Menteri PPPA Akhirnya Minta Maaf

Viral Usulan Gerbong KRL, Menteri PPPA Akhirnya Minta Maaf

Kamis, 30 April 2026 09:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Menteri PPPA Minta Maaf soal Usul Gerbong KRL Wanita Pindah ke Tengah. Foto: Istimewa


DIALEKSIS.COM | Jakarta -  Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi akhirnya menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya terkait usulan pemindahan gerbong khusus perempuan ke bagian tengah rangkaian KRL.

Sebelumnya, Arifah mengusulkan agar gerbong perempuan ditempatkan di tengah, sementara gerbong laki-laki berada di bagian depan dan belakang. Usulan tersebut disampaikan usai insiden kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Cikarang Line di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026).

“Tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujar Arifah kepada wartawan di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Pernyataan tersebut memicu polemik luas, terutama di media sosial. Banyak pihak menilai usulan itu bukan solusi atas persoalan keselamatan transportasi. Bahkan, sejumlah meme bermunculan sebagai bentuk kritik publik.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, turut menanggapi dengan menegaskan bahwa aspek keselamatan tidak dibedakan berdasarkan gender.

“Kita tidak membedakan dari tingkat keselamatan, tidak kita bedakan antara gender perempuan dan gender laki,” tegas Bobby di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026).

Empat Poin Permintaan Maaf

Menanggapi polemik tersebut, Arifah Fauzi menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf melalui video yang diunggah di akun Instagram resmi @kemenpppa, Rabu (29/4/2026) malam. Berikut poin-poin pentingnya:

1. Sampaikan Dukacita

Arifah mengawali pernyataannya dengan menyampaikan belasungkawa mendalam atas tragedi kecelakaan di Bekasi Timur.

“Hati dan doa kami bersama seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.

2. Akui Pernyataan Kurang Tepat

Ia mengakui bahwa pernyataannya sebelumnya tidak tepat dan menimbulkan ketidaknyamanan di masyarakat.

“Saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya para korban dan keluarga korban,” ucapnya.

Arifah juga menegaskan tidak ada niat untuk mengabaikan keselamatan penumpang lain.

3. Tekankan Keselamatan Prioritas Utama

Menurutnya, dalam situasi duka, fokus utama seharusnya adalah keselamatan, penanganan korban, dan empati bagi keluarga terdampak.

“Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu, baik perempuan maupun laki-laki,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah saat ini memprioritaskan penanganan korban secara cepat, adil, dan menyeluruh sesuai arahan Presiden.

4. Pastikan Perlindungan Korban

Arifah menegaskan komitmen Kementerian PPPA dalam memberikan pendampingan bagi korban, terutama anak-anak dan keluarga yang mengalami trauma.

“Kementerian PPPA berkomitmen memberikan pendampingan psikologis, perlindungan, serta dukungan yang diperlukan,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Arifah mengajak seluruh pihak untuk fokus pada penanganan korban serta perbaikan sistem keselamatan transportasi publik.

“Keselamatan seluruh penumpang harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan transportasi ke depan,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI