Sabtu, 05 September 2026
Beranda / Pemerintahan / Jemput Dukungan Pusat, Dinas Dayah dan DPRA Dorong Ekonomi Kreatif Santri

Jemput Dukungan Pusat, Dinas Dayah dan DPRA Dorong Ekonomi Kreatif Santri

Jum`at, 04 September 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin Thahir, S.Pd.I., M.Pd.I. bertemu dengan Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya. Foto: Kolase Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Potensi kreativitas santri Aceh mulai diarahkan menjadi kekuatan ekonomi baru. Dinas Pendidikan Dayah Aceh bersama Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menjajaki kolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) RI untuk memperkuat keterampilan, pendampingan usaha, dan akses pasar bagi produk-produk santri.

Upaya tersebut dibahas dalam kunjungan kerja Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin Thahir, S.Pd.I., M.Pd.I., ke Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif RI di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Muhsin hadir bersama Wakil Ketua Komisi VII DPRA, Romi Syah Putra, dan Anggota Komisi VII DPRA, Zamzami. Rombongan diterima Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, didampingi Staf Khusus Menteri Ekonomi Kreatif, Rian Syaf.

Pertemuan itu membahas peluang menyinergikan program pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis dayah. Santri dinilai memiliki potensi besar untuk mengambil peran dalam sektor ekonomi tanpa meninggalkan identitas utama dayah sebagai pusat pendidikan agama dan pembentukan akhlak.

Muhsin mengatakan, santri Aceh tidak boleh hanya dipandang sebagai generasi yang memiliki kedalaman ilmu agama. Mereka juga perlu dibekali keterampilan, keberanian berinovasi, serta kemampuan mengelola usaha agar mampu menjawab tantangan zaman.

“Melalui koordinasi ini, kami berharap adanya dorongan program serta kolaborasi konkret dari Kementerian Ekraf RI,” ujar Muhsin.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan jangka pendek. Santri membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, mulai dari pengembangan keterampilan, pengelolaan usaha, peningkatan mutu produk hingga terbukanya akses terhadap pasar yang lebih luas.

Ruang pengembangan ekonomi kreatif di lingkungan dayah terbuka lebar. Potensi itu dapat tumbuh melalui produk kuliner, kerajinan, fesyen muslim, penerbitan, seni, hingga pemanfaatan teknologi dan media digital. Setiap dayah dapat mengembangkan unit usaha berdasarkan potensi, sumber daya, dan karakter wilayah masing-masing.

Muhsin menegaskan, penguatan ekonomi santri bukan semata-mata bertujuan melahirkan pelaku usaha baru. Program tersebut juga diharapkan menjadi jalan menuju kemandirian kelembagaan dayah.

“Kemandirian ekonomi dayah akan memperkuat fondasi pembangunan daerah,” tegasnya.

Sebelumnya, Muhsin menyampaikan terdapat 1.827 dayah yang tersebar di 23 kabupaten/kota di Aceh. Sebagian besar lembaga tersebut masih bergantung pada bantuan pemerintah dan dukungan masyarakat dalam menjalankan kegiatan pendidikan.

Dinas Pendidikan Dayah Aceh kini menyiapkan peta jalan pemberdayaan ekonomi dengan memanfaatkan potensi pertanian, perkebunan, dan berbagai usaha produktif yang dapat dikelola oleh dayah.

“Ke depan, kita ingin dayah-dayah di Aceh mampu lebih mandiri,” kata Muhsin dalam keterangannya pada Agustus 2026.

Kemandirian tersebut diharapkan membuat dayah mempunyai sumber pendapatan produktif untuk membantu keberlangsungan pembelajaran, memperkuat sarana pendidikan, serta mendukung kesejahteraan tenaga pengajar tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.

Pengembangan usaha produktif bagi santri dan pimpinan dayah juga merupakan salah satu fungsi Dinas Pendidikan Dayah Aceh. Karena itu, kerja sama lintas lembaga dinilai penting agar program pemberdayaan memiliki perencanaan, pendampingan, dan sasaran pasar yang jelas.

Dukungan terhadap agenda tersebut turut disampaikan Komisi VII DPRA. Romi Syah Putra dan Zamzami menyatakan siap mengawal penyelarasan program antara Pemerintah Aceh dan Kementerian Ekonomi Kreatif RI.

Komisi VII DPRA juga akan mendorong dukungan dari sisi kebijakan dan penganggaran daerah agar program pemberdayaan ekonomi santri dapat dilaksanakan secara terarah dan berkelanjutan.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Ekonomi Kreatif RI, Rian Syaf, menyambut baik inisiatif Dinas Pendidikan Dayah Aceh dan DPRA. Kementerian Ekonomi Kreatif disebut berkomitmen memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di berbagai daerah, termasuk potensi usaha yang tumbuh dari lingkungan pesantren dan dayah.

Pertemuan ditutup dengan penyerahan cenderamata dan plakat sebagai simbol komitmen untuk melanjutkan sinergi antara Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Dinas Pendidikan Dayah Aceh, dan DPRA.

Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya program yang menyentuh kebutuhan nyata santri. Dengan dukungan pelatihan, pendampingan, dan akses pasar, dayah di Aceh bukan hanya menjadi pusat lahirnya generasi berilmu dan berakhlak, tetapi juga tempat tumbuhnya santri kreatif, produktif, dan mandiri secara ekonomi.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub