DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Rencana pengembangan cadangan gas raksasa South Andaman oleh Murbadala Energy kembali menjadi perhatian publik. Di tengah harapan besar terhadap kebangkitan sektor migas Aceh, muncul pertanyaan yang terus berkembang di tengah masyarakat: apakah Aceh akan menjadi pemain utama atau hanya penonton dalam proyek bernilai miliaran dolar tersebut?
Ketua Fraksi Partai NasDem Aceh di DPRA sekaligus kandidat Doktor Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Ir. Nurchalis, S.P., M.Si, menilai proyek South Andaman merupakan momentum strategis yang tidak boleh disia-siakan. Menurutnya, Aceh harus memastikan keterlibatan nyata dalam rantai bisnis migas, mulai dari pengolahan, pemasaran hingga aktivitas lifting gas.
“Pertanyaan yang berkembang hari ini sangat sederhana, Murbadala untung atau buntung bagi Aceh? Aceh menjadi pemain atau hanya penonton? Ini menjadi diskursus yang sangat masif di tengah masyarakat, terutama ketika kondisi fiskal Aceh sedang menghadapi tantangan,” kata Nurchalis kepada Dialeksis, Rabu (3/6/2026).
Ia menyatakan dukungannya terhadap keinginan Gubernur Aceh agar gas dari South Andaman dapat diolah melalui fasilitas yang telah tersedia di kawasan Arun, Aceh Utara. Menurutnya, keberadaan infrastruktur migas di Arun merupakan aset strategis yang harus dimanfaatkan untuk memberikan nilai tambah bagi daerah.
Nurchalis menegaskan, jangan sampai gas yang ditemukan di wilayah Aceh justru seluruh manfaat ekonominya mengalir ke luar daerah, sementara Aceh hanya memperoleh dampak yang minim.
“Yang diinginkan masyarakat Aceh adalah adanya kepastian bahwa daerah ini menjadi pusat pengolahan dan pemasaran gas. Jangan sampai seluruhnya dipipanisasi ke luar Aceh tanpa memberikan efek ekonomi yang signifikan bagi daerah,” ujarnya.
Menurut Nurchalis, keberhasilan Aceh mendapatkan porsi strategis dalam proyek South Andaman tidak hanya bergantung pada potensi sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga pada kemampuan pemerintah daerah membangun komunikasi dan lobi dengan pemerintah pusat serta investor.
Karena itu, ia meminta seluruh pemangku kepentingan di Aceh untuk memperkuat kolaborasi dan menyatukan langkah dalam memperjuangkan kepentingan daerah.
“Jangan lengah. Pemerintah Aceh, DPRA, BPMA, akademisi, hingga seluruh elemen masyarakat harus membangun kekuatan bersama. Pendekatan yang baik, jejaring yang kuat, serta sinergi yang berkelanjutan sangat dibutuhkan agar pemerintah pusat melihat Aceh sebagai bagian terpenting dalam tata kelola investasi ini,” katanya.
Meski berbagai spekulasi mulai bermunculan, Nurchalis mengaku masih optimistis Aceh akan memperoleh posisi strategis dalam pengelolaan proyek tersebut. Ia menilai peluang itu masih terbuka karena regulasi terkait tata kelola migas nasional masih dalam proses penyempurnaan.
“Saya yakin Aceh masih memiliki ruang untuk menjadi bagian penting, baik dalam pemasaran maupun lifting gas South Andaman. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana seluruh pihak di Aceh bergerak cepat dan tidak kehilangan momentum,” ujarnya.
Di sisi lain, Nurchalis menilai perkembangan proyek South Andaman juga menjadi ujian bagi Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA). Lembaga yang diberikan mandat khusus mengelola sektor hulu migas di Aceh itu dituntut mampu memperjuangkan kepentingan daerah secara maksimal.
“Ini ujian bagi BPMA. Publik tentu menunggu apakah BPMA mampu tampil tajam dalam mengawal kepentingan Aceh atau justru terlihat tumpul ketika momentum besar ini datang,” pungkasnya.