Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Opini / Olahraga dan Kebersamaan

Olahraga dan Kebersamaan

Selasa, 31 Maret 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Rahmat Fadhil

Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc, Dosen Universitas Syiah Kuala dan Peminat Olahraga Bulutangkis.[Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Opini - Di era digital yang serba cepat ini, kita sering kali terjebak dalam gaya hidup sedentari atau justru berolahraga dalam kesendirian. Kita berlari di atas treadmill sambil mendengarkan podcast, atau mengikuti panduan video workout di kamar yang sepi. Kemajuan teknologi memang menawarkan kemudahan, namun ada sesuatu yang fundamental yang hilang, interaksi manusiawi.

Sebagai seorang akademisi yang juga menggemari olahraga bulutangkis, saya sangat meyakini bahwa esensi olahraga melampaui sekadar pembakaran kalori atau pembentukan otot. Olahraga, ketika dilakukan bersama teman, keluarga, atau komunitas, menjelma menjadi alat yang ampuh untuk membangun kebersamaan, memantik motivasi, dan memperkuat ketahanan mental.

Pandangan ini bukan sekadar refleksi dari pengalaman pribadi di lapangan bulutangkis, melainkan didukung kuat oleh data dan temuan ilmiah terkini.

Mari kita telaah mengapa berolahraga secara berkelompok jauh lebih unggul dalam meningkatkan kualitas hidup kita secara holistik.

Sains di Balik Kekuatan Kelompok

Data ilmiah secara konsisten menunjukkan bahwa olahraga kelompok lebih efektif daripada latihan individual dalam hal konsistensi, penurunan tingkat stres, dan penciptaan ikatan sosial yang langgeng.

Pertama, Peningkatan Motivasi dan Konsistensi. Kita semua tahu betapa sulitnya melawan rasa malas saat harus berolahraga sendirian. Namun, ketika kita memiliki janji dengan orang lain, muncul akuntabilitas alami. Kita merasa enggan mengecewakan teman atau tim. Penelitian menunjukkan hasil yang mencengangkan: 95% peserta program penurunan berat badan yang berolahraga bersama teman berhasil menyelesaikan program mereka, dibandingkan dengan hanya 76% pada mereka yang berlatih sendiri. Bahkan, mereka yang berolahraga dalam kelompok 46% lebih mungkin untuk mempertahankan hasil penurunan berat badan mereka dalam jangka panjang.

Studi klasik dari University of New England yang dipublikasikan oleh Yorks et al. pada tahun 2017 memberikan bukti yang lebih dalam. Peserta yang mengikuti kelas kebugaran kelompok mengalami penurunan stres yang signifikan hingga 26%, serta peningkatan kualitas hidup yang substansial: mental (12,6%), fisik (24,8%), dan emosional (26%). Sebaliknya, mereka yang berolahraga sendiri, meski berlatih dua kali lebih lama, hanya mendapatkan sedikit peningkatan kualitas hidup mental (11%) dan tidak menunjukkan perubahan stres yang berarti. Kelompok besar juga cenderung berolahraga lebih sering dan merasa lebih puas dengan aktivitas mereka.

Kedua, Mempererat Silaturahmi dan Melawan Kesepian. Di tengah masyarakat modern yang cenderung individualis, kesepian telah menjadi “wabah” yang mengancam kesehatan mental. Olahraga bersama membuka pintu komunikasi yang tulus. Di lapangan atau lintasan lari, kita berbagi tawa, cerita, dan semangat sambil bergerak bersama.

Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik berkelompok secara signifikan mengurangi rasa kesepian dan isolasi sosial. Program parkrun (lari komunitas 5K gratis) adalah contoh nyata. Peserta yang datang bersama keluarga atau teman merasa lebih energik, lebih menikmati lari mereka, dan bahkan mencatat waktu yang lebih cepat berkat dukungan sosial. Bagi saya yang sering bermain bulutangkis ganda, momen seperti ini bukan hanya tentang memukul shuttlecock, melainkan sebuah silaturahmi yang hidup dan menyegarkan.

Ketiga, Membangun Kekompakan dan Kerja Sama. Olahraga tim seperti bulutangkis, atau sepak bola, melatih lebih dari sekadar kemampuan fisik. Aktivitas ini menuntut komunikasi, kepercayaan, dan penciptaan kenangan bersama.

Analisis meta menegaskan bahwa olahraga kelompok “sejati””bukan sekadar kelas biasa”jauh lebih unggul dalam membangun kohesi sosial dibandingkan olahraga individu. Hasil akhirnya adalah ikatan yang lebih kuat dan rasa memiliki komunitas yang mendalam.

Keempat, Faktor Keamanan dan Kepercayaan Diri. Berolahraga sendirian, terutama di luar ruangan, membawa risiko tersendiri. Namun, dengan adanya teman, kita memiliki “mata ekstra” untuk mengawasi bahaya, visibilitas yang lebih tinggi bagi pengendara, dan bantuan langsung jika terjadi kelelahan atau cedera. Penelitian dari YMCA menemukan bahwa pelaku olahraga kelompok memiliki tingkat kepercayaan keselamatan tertinggi.

Mari Bergerak Bersama

Kita tidak perlu memulai dengan hal yang rumit. Aktivitas sederhana seperti lari pagi atau jogging bersama tetangga bisa menjadi langkah awal yang baik. Bersepeda bersama keluarga di akhir pekan tidak hanya menyehatkan jantung tetapi juga menciptakan momen berharga. Sebagai peminat bulutangkis, saya sangat merekomendasikan olahraga ini karena melatih kelincahan, strategi, dan sportivitas tim. Pilihan lain seperti senam bersama atau yoga kelompok juga sama efektifnya.

Sebagai akademisi di Universitas Syiah Kuala dan pecinta bulutangkis, saya berpendapat bahwa olahraga dan kebersamaan adalah investasi paling bijak untuk kesehatan holistik kita. Data ilmiah telah berbicara bahwa olahraga kelompok membuat kita lebih rutin bergerak, lebih bahagia, lebih terhubung, dan lebih aman.

Di tengah kesibukan dari berbagai aktivitas dan masyarakat modern yang rentan kesepian, mari kita hidupkan kembali kebiasaan baik ini. Ajaklah satu teman untuk jogging pagi esok hari, bergabunglah dengan komunitas bulutangkis, atau adakan acara bersepeda bersama keluarga.

Tubuh yang sehat, pikiran yang segar, dan hati yang saling terhubung”itulah keajaiban dari olahraga dan kebersamaan. Kita akan jauh lebih sehat dan bahagia ketika melakukannya bersama-sama. Ayo kawan kawan.[**]

Penulis: Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc (Dosen Universitas Syiah Kuala dan Peminat Olahraga Bulutangkis)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI