Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Opini / Mihrab Algoritma: Menguji Moral Quality dan Teologi Mustad’afin di Penghujung Risalah Ramadhan

Mihrab Algoritma: Menguji Moral Quality dan Teologi Mustad’afin di Penghujung Risalah Ramadhan

Sabtu, 14 Maret 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Said Fadhlain

Said Fadhlain, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Teuku Umar (UTU) dan Ketua Bidang Pengkaderan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Aceh Barat. [Foto: Dokpri]


Gugatan dari Ufuk Barat untuk Aceh Berkemajuan

DIALEKSIS.COM | Opini - Di kedalaman malam ke-24 Ramadhan, saat semilir angin dari pesisir Barat menyentuh dinding-dinding akademik Universitas Teuku Umar (UTU), sebuah kegelisahan eksistensial menyeruak. Namun, ini bukan sekadar suara dari satu sudut geografis. Dari Meulaboh, kita sedang memandang cermin besar yang memantulkan wajah seluruh Aceh -- dari rimbunnya pegunungan Tengah hingga hiruk-pikuk pesisir Timur dan Utara. Kita semua, sebagai satu kesatuan umat di Tanah Serambi, sering kali begitu khusyuk merayakan memori monumental Ramadhan yang dideklarasikan pada Abad ke-2 Hijriah -- sebuah era di mana wahyu dan akal bersetubuh melahirkan peradaban emas.

Namun, kepahitan yang harus kita akui bersama adalah: kita sering terjebak dalam "Glorifikasi Sejarah" (Glorifying the Past) hingga mengalami kejumudan intelektual di masa kini. Kita fasih menghafal kehebatan masa lalu, namun tampak gagap, bahkan lumpuh, dalam memaknai Ramadhan di tengah kepungan algoritma Abad ke-21. Ketidakmampuan kita untuk menarik nilai-nilai profetik masa lalu ke dalam realitas teknologis masa kini adalah sebuah tragedi komunikasi. 

Ramadhan, yang seharusnya menjadi laboratorium perubahan karakter, sering kali hanya menjadi ajang pengulangan ritual tahunan yang hambar secara sosial. Di sinilah letak krisisnya: ketika mihrab ibadah terputus dari mihrab kehidupan publik. Kita butuh kesadaran untuk membedah realitas ini, pelan-pelan saja, agar kita tidak kehilangan arah di tengah percepatan zaman yang kian tak terkendali.

Dekonstruksi "Lisan Hampa" dan Krisis Integritas Komunikatif

Dalam tradisi intelektual Jurgen Habermas, ruang publik (public sphere) idealnya menjadi arena bagi "Tindakan Komunikatif" yang jujur, setara, dan mencerahkan. Habermas menuntut klaim kebenaran (truth), kejujuran (sincerity), dan ketepatan norma (rightness). Namun, bagi kita di Tanah Serambi, kriteria ini belumlah cukup jika tidak dibasuh dengan spirit Dakwah Profetik. Realitas komunikasi kita hari ini justru sering terjebak dalam apa yang saya sebut sebagai Lisan Hampa -- sebuah fenomena di mana retorika megah diucapkan di podium, namun keropos secara Moral Quality dan kehilangan "Ruhul Quddus".

Fenomena Lisan Hampa ini secara tajam telah diperingatkan dalam Al-Qur'an melalui surat Ash-Shaff ayat 2-3: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Ini adalah teguran teologis yang sangat pedas bagi para pemilik lisan yang hanya pandai berwacana tanpa menapak di bumi kenyataan. Rasulullah SAW juga memberikan hikmah dalam sebuah hadits: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari & Muslim).

Inilah yang saya sebut sebagai Kesalehan Solidaritas. Kesalehan ini bukan sekadar akumulasi ibadah individual di mihrab masjid, melainkan sebuah 'Tindakan Komunikatif' yang berpihak. Integritas sejati adalah mewujudkan Qaulan Sadida -- perkataan yang benar dan tepat sasaran -- sebuah komunikasi yang menyembuhkan, bukan yang sekadar manipulasi diksi demi kepentingan pragmatis sempit. 

Jika kita masih memelihara sekat-sekat feodalistik yang membungkam suara kritis kaum mustad’afin sembari terus bersilat lidah dengan jargon suci, maka kita sedang mengundang kebencian Ilahi. Tanpa integritas komunikatif yang kuat, setiap narasi tentang kemajuan Aceh hanya akan menjadi tumpukan "Lisan Hampa" yang akan menguap ditelan panasnya zaman. Kita harus mulai membenahi lisan kita, pelan-pelan saja, dimulai dari kejujuran di dalam kalbu.

Teologi Pembebasan: Membela Mustad’afin dari Tirani Algoritma

Di penghujung risalah Ramadhan ini, kita perlu menghidupkan kembali Teologi Pembebasan yang bersumber dari ruh kenabian, sebagaimana dicontohkan oleh Abu Dharr al-Ghifari. Sahabat Nabi ini adalah ikon perlawanan terhadap ketidakadilan sosial yang tidak membiarkan lisannya diam melihat ketimpangan; beliau adalah suara lantang yang mengingatkan para penguasa bahwa harta dan kekuasaan adalah amanah untuk membela kaum miskin. Kisah Abu Dharr memberikan kita keberanian: bahwa membela kaum yang lemah (mustad’afin) adalah perintah agama yang paling purba.

Di abad ke-21, khususnya di pesisir Barat Selatan Aceh (Barsela), kaum mustad’afin baru adalah mereka yang terpinggirkan oleh arus informasi dan dimanipulasi oleh algoritma digital. Di Universitas Teuku Umar (UTU), semangat Abu Dharr inilah yang harus kita transformasikan. Ilmu komunikasi tidak boleh hanya melahirkan "tukang poles citra", melainkan harus melahirkan "pembela martabat" (dignity defenders). Kita berpuasa bukan hanya untuk merasakan lapar, tapi untuk membangkitkan empati radikal terhadap petani sawit yang harganya anjlok, nelayan yang terjerat utang, dan masyarakat marginal yang suaranya ditelan hiruk-pikuk disrupsi.

Rasulullah SAW bersabda: “Carilah keridhaan-Ku melalui orang-orang lemah di antara kalian” (HR. Abu Dawud). Solidaritas dalam Islam bukanlah sekadar belas kasihan, melainkan transformasi struktur sosial melalui komunikasi yang memberdayakan. Kesalehan solidaritas menuntut kita menjadikan ilmu komunikasi sebagai "Mihrab Sosial" -- tempat di mana setiap kata yang kita ucapkan menjadi doa yang mewujud dalam aksi nyata pembelaan martabat manusia. Kita bangun kekuatan solidaritas ini, pelan-pelan saja, agar fondasinya kokoh dan tak tergoyahkan oleh kepentingan sesaat.

Melampaui Branding Positioning: Spirit Perlawanan Intelektual Berkemajuan

Dari rahim Universitas Teuku Umar (UTU), kita membawa warisan nilai yang melampaui batas geografis: The Spirit of Teuku Umar. Namun, spirit ini harus kita baca dalam spektrum yang luas dan inklusif. Sebagaimana perjuangan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien yang berdiri di atas martabat kemanusiaan, spirit ini searah dengan visi Islam Berkemajuan yang konsisten disuarakan oleh Prof. Haedar Nashir, di mana agama menjadi penggerak pencerahan dan moderasi publik. Ia juga senafas dengan kegigihan Prof. Din Syamsuddin dalam membangun dialog antar-peradaban demi menjaga martabat manusia (Karāmah al-Insān) di kancah global.

Spirit pahlawan kita bukan sekadar romantisme lokal, melainkan manifestasi dari intelektualitas yang membumi. Sebagai kader yang dibesarkan dalam rahim Muhammadiyah, saya meyakini bahwa tajdid (pembaruan) adalah kunci. Jika hari ini kita hanya sibuk mengejar branding positioning demi angka kredit, maka kita sedang mengkhianati nilai profetik yang diperjuangkan para tokoh bangsa. Integritas diri adalah "Pedang Rencong" sekaligus "Pena Keadilan" kita di era Post-Truth. Tanpa integritas, intelektualitas hanyalah aksesori yang hampa. 

Mahasiswa kita tidak butuh dosen yang hanya pandai berteori di menara gading; mereka butuh teladan yang mampu menerjemahkan spirit perjuangan pahlawan menjadi aksi nyata. Mari kita tanamkan nilai ini kepada generasi muda, pelan-pelan saja, hingga menjadi karakter yang mendarah daging.

Epilog: Menjemput Fajar Shadiq Pembebasan

Ramadhan ke-24 ini bukanlah panggung seremoni tanpa nyali. Kita sedang berada di Ambang Penentuan Etika. Membangun peradaban tidak terwujud melalui retorika yang mengawang di langit, melainkan melalui Integritas Diri yang berakar di bumi. Di penghujung risalah ini, mari kita akhiri narasi 'omon-omon' dan 'lisan hampa'.

Kita tidak butuh fajar palsu; kita butuh Fajar Shadiq pencerahan di mana ilmu komunikasi dan dakwah bersatu menjadi energi perlawanan terhadap ketidakadilan informasi dan kejumudan struktural. Mari kita jalankan "Puasa Komunikasi" -- berhenti menyebarkan kepalsuan, "puasa" dari lisan hampa, dan "puasa" dari mengkhianati amanah ilmu. Inilah fajar peradaban Rahmatan lil 'Alamin yang sesungguhnya -- fajar yang tidak hanya menyinari masjid, tapi juga menerangi ruang publik yang selama ini gelap oleh kemunafikan. Melepaskan ketergantungan pada pujian manusia dan beralih pada pengabdian sejati memang sulit, maka lakukanlah pelan-pelan saja, namun pasti. 

Mari jemput kemenangan itu dengan kejujuran, karena hanya dengan kejujuranlah, fajar pembebasan akan menyingsing di Tanah Teuku Umar, menyinari seluruh pelosok Aceh, hingga ke ujung dunia. [**]

Penulis: Said Fadhlain (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Teuku Umar (UTU) dan Ketua Bidang Pengkaderan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Aceh Barat)

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI