Rabu, 01 Juli 2026
Beranda / Berita / Nasional / PW Matahari Pagi Indonesia Aceh Dikukuhkan, Siap Perkuat Gerakan Sosial dan Pemulihan Bencana

PW Matahari Pagi Indonesia Aceh Dikukuhkan, Siap Perkuat Gerakan Sosial dan Pemulihan Bencana

Rabu, 01 Juli 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Pengurus Wilayah (PW) Matahari Pagi Indonesia (MPI) Provinsi Aceh periode 2026–2029 resmi dikukuhkan dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Selasa malam (30/6/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pengurus Wilayah (PW) Matahari Pagi Indonesia (MPI) Provinsi Aceh periode 2026–2029 resmi dikukuhkan dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Selasa malam (30/6/2026). 

Pengukuhan tersebut menjadi momentum awal bagi organisasi untuk memperkuat gerakan sosial, kemanusiaan, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan Aceh.

Prosesi pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua Majelis Pertimbangan Pengurus Besar (PB) Matahari Pagi Indonesia yang juga Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Dalam kepengurusan baru ini, Anggota DPRA Irpannusir Rasman dipercaya sebagai Ketua PW MPI Aceh. Ia didampingi Musliadi M. Tamin sebagai Sekretaris dan Robi Erianto sebagai Bendahara.

Kegiatan yang mengusung tema "Menyinari Nusantara dengan Semangat Kebersamaan, Kreativitas dan Kepedulian Sosial" tersebut dihadiri berbagai unsur penting, mulai dari jajaran Pemerintah Aceh, Kejaksaan Tinggi Aceh, perwakilan Kodam Iskandar Muda, Polda Aceh, anggota DPRA, DPRK Banda Aceh, hingga tokoh masyarakat dan berbagai organisasi.

Dalam sambutannya, Ketua PW MPI Aceh, Irpannusir Rasman, mengungkapkan rasa syukur atas terlaksananya pelantikan yang menurutnya telah dipersiapkan sejak lama. Ia menilai pengukuhan tersebut menjadi titik awal bagi MPI Aceh untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Alhamdulillah, setelah melalui berbagai persiapan, hari ini pengurus Matahari Pagi Indonesia Aceh resmi dilantik. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan ini," ujar Irpannusir.

Menurutnya, amanah yang diberikan kepada kepengurusan baru bukan sekadar menjalankan roda organisasi, tetapi juga menghadirkan program-program yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat Aceh.

Ia menegaskan, PW MPI Aceh akan menjadikan kerja-kerja sosial sebagai prioritas utama organisasi. Salah satu fokus yang akan mendapat perhatian serius adalah pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.

"Kami ingin memastikan saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus mendapatkan perhatian yang layak. Jika masih ada yang membutuhkan alat bantu seperti kursi roda maupun kebutuhan lainnya, tentu akan menjadi salah satu prioritas yang kami perjuangkan," katanya.

Selain itu, Irpannusir menyampaikan bahwa MPI Aceh juga akan aktif membantu masyarakat yang hingga kini masih terdampak bencana besar yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025.

Menurutnya, masih banyak warga yang membutuhkan uluran tangan, sehingga organisasi akan berupaya menghimpun bantuan dari berbagai elemen masyarakat untuk disalurkan kepada para korban.

"Kami akan terus berusaha menggalang bantuan yang nantinya diserahkan kepada masyarakat terdampak bencana. Semangat gotong royong harus terus kita hidupkan agar proses pemulihan Aceh berjalan lebih cepat," ujarnya.

Irpannusir juga menilai keberadaan MPI memiliki kekuatan besar karena menghimpun berbagai unsur masyarakat dari latar belakang yang beragam.

"Di dalam MPI berkumpul berbagai elemen, mulai dari lintas profesi, organisasi, hingga latar belakang politik yang berbeda. Potensi besar ini harus kita manfaatkan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat Aceh," katanya.

Sementara itu, Ketua Majelis Pertimbangan PB MPI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa Matahari Pagi Indonesia memiliki perjalanan yang cukup panjang. Ia mengakui organisasi tersebut berawal dari sebuah gerakan politik yang dibentuk ketika Presiden Prabowo Subianto mengikuti kontestasi Pemilihan Presiden.

Namun, setelah proses politik nasional berakhir, organisasi tersebut memilih bertransformasi menjadi gerakan sosial dan kebudayaan yang terbuka bagi seluruh elemen bangsa.

"Matahari Pagi Indonesia memang lahir sebagai gerakan politik. Tetapi setelah seluruh proses kontestasi selesai, organisasi ini berubah menjadi gerakan kebudayaan dan gerakan sosial yang bertujuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat," ujar Dahnil.

Politikus Partai Gerindra itu menegaskan bahwa MPI merupakan organisasi kemasyarakatan yang menghimpun seluruh potensi anak bangsa tanpa membedakan agama, suku, profesi maupun afiliasi politik.

Menurutnya, keberagaman tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

"Kami berharap MPI menjadi wadah yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Aceh. Gerakan yang kami bangun sederhana, yaitu gerakan sosial, kepedulian kepada kelompok disabilitas, membuka peluang agar mereka dapat bekerja, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar," katanya.

Dahnil menyebutkan, sejumlah program sosial telah disiapkan, di antaranya gerakan berbagi makanan gratis, kegiatan membersihkan rumah ibadah seperti masjid, hingga berbagai aksi sosial lainnya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Ia menambahkan, semangat tersebut sejalan dengan gagasan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong seluruh potensi bangsa untuk bersatu dalam kerja-kerja yang membawa manfaat.

"Seluruh potensi yang baik harus disatukan agar mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Itu semangat yang ingin dibangun oleh Matahari Pagi Indonesia," ujarnya.

Secara khusus, Dahnil juga mengingatkan bahwa Aceh saat ini masih berada dalam fase pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah pada akhir 2025. Karena itu, ia meminta seluruh pengurus MPI Aceh untuk hadir di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari solusi.

Menurutnya, kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui program besar, tetapi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang memberi dampak langsung kepada masyarakat.

"Aceh masih dalam proses pemulihan. Karena itu, MPI harus aktif membantu masyarakat dan bersinergi dengan pemerintah agar Aceh bisa segera bangkit. Mulailah dari gerakan-gerakan kecil seperti berbagi makanan, membantu warga yang membutuhkan, dan menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat," kata Dahnil.

Di akhir sambutannya, ia mengajak seluruh pengurus yang baru dikukuhkan agar menjadikan amanah organisasi sebagai ruang pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan sebuah organisasi tidak diukur dari besarnya struktur kepengurusan, melainkan dari sejauh mana organisasi tersebut mampu menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Pengurus Matahari Pagi Indonesia harus mampu menyinari Aceh melalui karya nyata. Berikan kualitas terbaik, berkontribusilah dengan sepenuh hati, dan jadikan organisasi ini sebagai wadah untuk menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat," pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes