Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / Kurangi Ketergantungan Impor, Industri Garam Nasional Ditata Ulang

Kurangi Ketergantungan Impor, Industri Garam Nasional Ditata Ulang

Kamis, 19 Februari 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri
Ilustrasi garam. [Foto: net via tribratanews polri]

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah mempercepat penataan ulang industri garam nasional guna menekan ketergantungan impor dan mengejar target swasembada pada 2027. Langkah tersebut dilakukan di tengah proyeksi kebutuhan garam nasional yang terus meningkat, seiring pertumbuhan sektor industri dalam negeri.

Direktur Sumber Daya Kelautan KKP, Frista Yoharnita, menyebut kebutuhan garam diperkirakan mencapai 5,3 juta ton pada 2029 atau tumbuh sekitar 2 persen per tahun. Sementara pada 2024, dari total kebutuhan sekitar 4,8 juta ton, lebih dari separuhnya masih dipenuhi impor, khususnya untuk kebutuhan industri dengan standar kadar natrium klorida (NaCl) tinggi. 

“Tantangannya bukan hanya kuantitas, tetapi kualitas. Industri membutuhkan garam dengan spesifikasi tertentu yang belum seluruhnya dapat dipenuhi produksi dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima pada Kamis (19/2/2026).

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mengandalkan strategi hilirisasi berbasis kawasan terintegrasi. Melalui pembangunan sentra produksi, modernisasi teknologi evaporasi, serta penguatan fasilitas pencucian dan kristalisasi, pemerintah menargetkan produksi garam industri dengan kadar NaCl di atas 97 persen. 

Selain itu, dukungan infrastruktur seperti gudang penyimpanan dan teknologi pengeringan bergerak disiapkan guna menjaga mutu dan ketersediaan pasokan sepanjang tahun.

Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan, menegaskan pihaknya akan mempercepat investasi dan penerapan teknologi untuk mendukung program tersebut. 

“Kami fokus meningkatkan kapasitas produksi garam industri melalui teknologi yang lebih efisien agar mampu memenuhi kebutuhan domestik secara berkelanjutan,” katanya.

Dari sisi pengguna, industri makanan dan minuman menyatakan kesiapan menyerap produksi dalam negeri selama standar kualitas terpenuhi. Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman, mengatakan kepastian pasokan menjadi faktor penting bagi keberlanjutan industri pengolahan. 

“Kami mendukung percepatan hilirisasi asalkan roadmap dan standar mutu jelas, sehingga pelaku industri bisa merencanakan kebutuhan bahan baku jangka panjang,” ujarnya. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI