Kamis, 11 Juni 2026
Beranda / Berita / Nasional / BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 Terjadi Juli-Agustus, Durasinya Lebih Panjang

BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 Terjadi Juli-Agustus, Durasinya Lebih Panjang

Rabu, 10 Juni 2026 22:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Konferensi pers pemaparan perkembangan musim kemarau 2026 di Jakarta, Rabu (10/6/2026). [Foto: BMKG]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026. Musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal seiring meningkatnya peluang terjadinya fenomena El Nino.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan puncak musim kemarau akan terjadi secara bertahap mulai Juli hingga September 2026.

"Sebagian besar wilayah Indonesia kita prediksikan akan mengalami puncak musim kemarau pada Juli 2026, yaitu sebanyak 83 zona musim atau mencakup 12,26 persen luas daratan Indonesia," kata Ardhasena dalam konferensi pers perkembangan musim kemarau 2026 di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

BMKG mencatat puncak musim kemarau pada Agustus diperkirakan terjadi di 369 zona musim atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia. Sementara pada September, puncak kemarau diprediksi terjadi di 169 zona musim yang mencakup 25,41 persen luas daratan.

Wilayah yang diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Juli meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, serta Papua bagian timur.

Adapun pada Agustus, puncak kemarau diprediksi melanda Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara.

Sementara itu, wilayah yang diperkirakan mengalami puncak kemarau pada September antara lain sebagian Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku, serta wilayah Pegunungan Tengah Papua.

Tak hanya puncak kemarau, BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.

"Durasi musim kemarau 2026 ini kita prediksi lebih panjang. Sebanyak 437 zona musim atau 48,77 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau lebih lama dari normal," ujarnya.

BMKG mencatat hanya 70 zona musim atau 8,32 persen luas daratan Indonesia yang diprediksi memiliki durasi kemarau normal. Sementara 79 zona musim atau sekitar 9,23 persen wilayah diperkirakan mengalami musim kemarau lebih singkat.

Secara umum, BMKG menyimpulkan musim kemarau 2026 cenderung datang lebih awal dengan curah hujan yang berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dibandingkan biasanya.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG meminta kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan masyarakat melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Di sektor pertanian, BMKG menyarankan penyesuaian jadwal tanam serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan dan membutuhkan air lebih sedikit. Sementara di sektor sumber daya air, pemerintah daerah didorong melakukan revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air, serta memastikan pasokan air bagi masyarakat tetap terjaga.

BMKG juga mengingatkan sektor energi untuk menjaga kapasitas air bendungan guna mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Selain itu, kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan serta dampak penurunan kualitas udara perlu ditingkatkan.

Meski demikian, BMKG menilai kondisi musim kemarau juga dapat memberikan manfaat bagi sejumlah sektor. Di antaranya sektor perikanan dan tambak garam melalui pemanfaatan fenomena upwelling yang berpotensi meningkatkan hasil tangkapan ikan dan produktivitas garam.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim melalui saluran resmi BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi cuaca yang berkembang. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI