Sabtu, 17 Oktober 2026
Beranda / Berita / Nasional / 34 Juta Orang Sudah Cek Mata, 1,6 Juta Terindikasi Gangguan Penglihatan

34 Juta Orang Sudah Cek Mata, 1,6 Juta Terindikasi Gangguan Penglihatan

Jum`at, 16 Oktober 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sekitar 1,6 juta orang terindikasi mengalami gangguan penglihatan dari 34 juta orang yang menjalani pemeriksaan mata melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). [Foto: dok. Kemenkes]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sekitar 1,6 juta orang terindikasi mengalami gangguan penglihatan dari 34 juta orang yang menjalani pemeriksaan mata melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Temuan ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini. Secara global, diperkirakan 1,1 miliar orang mengalami gangguan penglihatan yang belum tertangani. Sebanyak 90 persen kasus tersebut dinilai dapat dicegah atau diobati.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pemeriksaan mata perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan sejak dini, bukan hanya dilakukan ketika muncul keluhan.

“Jangan tunggu sampai mata kita terasa berat, kabur, atau menyakitkan. Jagalah organ pertama yang bekerja untuk kita setiap hari,” ujar Dante dalam kegiatan peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2026.

Kemenkes memperkuat upaya deteksi dini gangguan penglihatan melalui program CKG dan pengembangan layanan kesehatan mata berbasis masyarakat. Salah satunya melalui program Comprehensive Community Eye Care (CCEC), yang menargetkan skrining mata terhadap lebih dari 60.000 siswa dan pekerja di lima provinsi dan 19 kabupaten/kota dalam tiga tahun ke depan.

Selain skrining, program tersebut menargetkan pelatihan bagi lebih dari 2.000 tenaga kesehatan dan guru, dukungan terhadap 16.500 operasi katarak, serta distribusi lebih dari 100.000 kacamata.

Kemenkes juga mendorong pengembangan vision center untuk mendekatkan layanan pemeriksaan mata kepada masyarakat. Melalui model ini, pemeriksaan, dukungan tenaga profesional, dan penyediaan kacamata diharapkan dapat diperluas hingga tingkat Puskesmas.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan selama ini sebagian besar pelayanan kesehatan mata dilakukan di rumah sakit. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat harus menempuh perjalanan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.

Dengan pengembangan vision center, layanan kesehatan mata diharapkan lebih mudah dijangkau melalui kerja sama Puskesmas, dinas kesehatan, organisasi profesi, kader kesehatan, dan mitra pembangunan.

Selain pemeriksaan rutin, masyarakat juga diimbau menerapkan kebiasaan yang membantu menjaga kesehatan mata, terutama saat menggunakan perangkat digital. Salah satunya dengan aturan 20-20-20, yakni mengistirahatkan mata selama 20 detik setiap 20 menit menatap layar dengan melihat objek sejauh 20 kaki atau sekitar enam meter.

Melalui skrining dan edukasi kesehatan mata, Kemenkes berharap gangguan penglihatan dapat diketahui lebih awal sehingga masyarakat bisa memperoleh penanganan yang sesuai. [red]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI