Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Kolom / Suara Langit, Hati Bumi: Upaya Mengembalikan Tawadhu dalam Beragama

Suara Langit, Hati Bumi: Upaya Mengembalikan Tawadhu dalam Beragama

Sabtu, 18 April 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Muhamad Fawazul Alwi

Muhamad Fawazul Alwi (tengah) bersama sesepuh Al Washliyah Aceh Barat, Ayahanda Tgk Syamsul Bahri (kiri) dan Sekretaris PD GPA Aceh Barat, Tgk Ampon Tami (kanan). [Foto: dokumen pribadi untuk dialeksis]


DIALEKSIS.COM | Kolom - Dunia hari ini sedang menyaksikan sebuah ironi yang menyesakkan. Di tengah kemudahan akses informasi dan melimpahnya sumber pengetahuan, kita justru sering mendapati pemandangan yang kontradiktif: semakin tinggi jenjang akademik seseorang atau semakin dalam pemahaman agamanya, terkadang justru semakin lebar jarak emosionalnya dengan sesama. 

Ilmu yang seharusnya menjadi pelita untuk menuntun, perlahan berubah menjadi tembok tinggi yang memisahkan antara "si pintar" dan "si bodoh", antara "si paling sunnah" dan "si awam".

Kita kini terjebak dalam fenomena "Menara Gading". Mereka yang memiliki kecemerlangan intelektual sering kali memandang rendah mereka yang tak bersekolah, seolah kecerdasan adalah kasta yang melegitimasi penghinaan. Di sisi lain, dalam ranah spiritual, muncul arogansi keberagamaan. Sering kali, lisan yang fasih mengutip dalil justru digunakan untuk merobek kehormatan orang lain. 

Inilah maksud dari "Suara Langit" yang tidak membumi -- ilmu yang melambung tinggi ke angkasa namun kehilangan pijakan pada kerendahan hati (tawadhu) di atas bumi.

Padahal, ilmu merupakan titipan yang derajatnya ditinggikan oleh Sang Pencipta. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Mujadilah ayat 11:

"...Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan."

Ayat ini sering kali disalahpahami sebagai "kartu bebas hambatan" untuk merasa lebih mulia secara absolut. Padahal, pengangkatan derajat tersebut adalah hak prerogatif Allah, yang dibarengi dengan tanggung jawab moral yang besar. Ilmu yang benar seharusnya berbanding lurus dengan rasa taqwa kepada Allah (Hablum minallah) dan rasa kasih sayang kepada sesama manusia (Hablum minannas).

Kesombongan sering kali menyelinap melalui celah-celah kelebihan yang kita miliki. Bukan hanya soal ilmu, manusia juga kerap tergelincir karena merasa lebih unggul dalam hal harta maupun garis keturunan. Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

"Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi."

Seorang sahabat bertanya tentang seseorang yang suka berpakaian bagus, namun Nabi menjelaskan bahwa kesombongan yang sesungguhnya adalah "bahtul haqqi wa ghamthun naas" yang artinya menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Meremehkan manusia karena mereka tidak tahu apa yang kita tahu, atau karena mereka tidak memiliki apa yang kita punya, adalah bentuk pengkhianatan terhadap ilmu itu sendiri. Jika ilmu intelektual membuat kita merasa paling rasional sehingga menghina yang sederhana, atau jika ilmu agama membuat kita merasa paling suci sehingga menghakimi yang berdosa, maka sesungguhnya kita sedang meminum racun dalam piala emas.

Mengembalikan tawadhu dalam beragama dan berilmu berarti menyadari bahwa setiap pengetahuan yang kita miliki hanyalah setetes air di samudra tak bertepi. Orang yang benar-benar berilmu akan seperti padi; semakin berisi, ia akan semakin merunduk. Ia menyadari bahwa di atas orang yang berilmu, masih ada Yang Maha Mengetahui. [**]

Penulis: Muhamad Fawazul Alwi (Ketua PD Gerakan Pemuda Al Washliyah Aceh Barat, Mahasiswa Universitas Teuku Umar, juga Pemuda yang sedang mencari jati dirinya)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI