DIALEKSIS.COM | Kolom - Belakangan ini, isu tentang pejabat publik menikah lagi menghiasi jagat media sosial masyarakat Aceh. Dimulai dengan berita Mualem kawin lagi yang mendadak viral hingga melibatkan sosialita asal negeri jiran Malaysia. Belum reda isu Mualem, muncul pula isu pernikahan siri Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir Syamaun. Malah ada media online yang saban hari menggoreng isu ini.
Membaca berita-berita tersebut, membuat saya jadi bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Benarkah orang Aceh tukang kawin? Masalah ini memang sangat personal dan (mungkin) sedikit tabu dibicarakan, apalagi jika melibatkan figur publik. Karena masalah personal dan hanya perilaku segelintir orang, tentu saja pertanyaan “benarkah orang Aceh tukang kawin?” menjadi tidak relevan. Kita tidak bisa menarik kesimpulan dengan cara pukul rata begini.
Lalu, apakah masalah begini adalah hal yang tabu untuk dibicarakan dan sensitif dibahas? Saya yakin sekali, masalah beginian bukan sesuatu yang tabu dibicarakan terutama oleh orang Aceh. Dalam urusan ‘isi selangkangan’ orang Aceh tidak pernah ragu dan malu membahasnya. Masalah itu hanya perkara biasa saja.
Dalam salah satu hadih maja (ungkapan bijak yang hidup di tengah masyarakat Aceh), perkara isi selangkang bahkan disebutkan secara lugas dan tegas, sekalipun bukan dimaksudkan untuk mengumbar syahwat secara vulgar. Misalnya, orang Aceh paling sering mengutip, “ureueng Aceh munyoe hana teupeh boh kreh juet taraba (Orang Aceh kalau tak tersakiti hatinya, [maaf] testis boleh diremas/dipegang).”
Apakah itu ungkapan vulgar? Sama sekali tidak. Ungkapan ini hanya untuk menunjukkan bahwa dalam hal bersahabat dan berkawan, orang Aceh sering tidak memperdulikan ukuran apapun, termasuk sesuatu yang tabu. Hal-hal yang sangat pribadi pun tak menjadi ganjalan untuk disentuh demi nilai-nilai persahabatan.
Dalam pergaulan sehari-hari, masalah isi selangkang bahkan digunakan untuk menggambarkan seberapa berani dan jantannya seseorang. Ukuran seberapa besar isi selangkang dianggap mewakili keberanian, terutama saat dihadapkan pada hal-hal prinsipil dan atau ketika menantang lawan. “Munyoe na kreh kajak keunoe. Pat kapreh (Kalau kamu benaran punya testis, datang ke sini. Tunggu di mana)?”. Begitulah cara seorang pejantan Aceh mengajak duel orang-orang yang dipandang sebagai lawan. Sikap ini dianggap ‘meu-agam’ dan ‘na kreh’, atau laki banget!
Perang panjang di Aceh, baik perang melawan Portugis, Belanda, Jepang, dan bahkan perang dengan Indonesia, menjadi contoh seberapa jantan (na kreh) orang Aceh. Bagi orang Aceh, kejantanan tak hanya diukur dari seberapa kuat mereka berduel di ranjang, melainkan juga saat bertempur di medan perang. Hal ini sudah menjadi filosofi hidup di Aceh, bahwa kemulian seorang suami di Aceh bukanlah mati di ranjang sambil memeluk istrinya, melainkan syahid dalam perang melawan musuh. Tentang hal ini dapat kita pelajari dari Hikayat Prang Sabi karangan Teungku Syik di Pante Kulu, bahwa sebuah aib besar dan menjadi bahan pergunjingan di Aceh jika seorang suami mati di ranjang di rumah istrinya.
Bagi orang Aceh, meninggal di medan perang adalah sebuah kemuliaan. Makanya, jika seorang suami meninggal di dalam perang, istri mereka akan menuntut balas dan memilih melanjutkan perjuangan suaminya. Bahkan, untuk dapat menuntut balas, istri yang ditinggalkan rela menikah dengan lelaki lain, dari barisan pejuang, untuk dapat membalas kematian suaminya. Kisah hidup Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan lain-lain kiranya mampu menjelaskan tentang hal ini. Bahkan, dalam perang Aceh-Jakarta, banyak istri pejuang GAM misalnya memilih menikahi anggota GAM lain agar bisa menuntut balas. Jumlah wanita seperti ini tentu tidak sedikit di Aceh.
Wanita dan Sumber Keberanian
Lalu, mengapa para pejabat di Aceh sangat doyan kawin, seperti tergambar dari pemberitaan di media online belakangan ini? Apakah hal itu ada korelasi antara kejantanan dengan menikahi lebih satu wanita? Tentang perkara ini, saya belum menemukan referensi akademik yang memadai, setidaknya hingga tulisan ini ditulis.
Hanya saja, ada dalil yang membolehkan seorang laki-laki mengawini empat wanita asalkan mampu berlaku adil. Ini semacam pencerahan bagi kita bahwa Tuhan menempatkan persoalan kawin menjadi sangat penting. Sebagai pencipta, Tuhan tentu saja lebih mengetahui tentang seluk-beluk makhluk ciptaannya. Jangan-jangan di balik dalil bolehnya seorang laki-laki mengawini lebih dari satu wanita sebagai tanda dan berkaitan dengan soal kejantanan.
Diakui atau tidak, wanita memang menjadi penyemangat sang suami. Ada orang mengatakan, bahwa di balik kesuksesan seorang lelaki, ada wanita hebat di belakangnya. Ketika perang Badar, misalnya, Rasulullah membolehkan para istri-istri kaum muslimin ikut maju ke medan perang, mendukung para suami mereka. Mereka memang tidak ditempatkan di garis depan, melainkan sebagai tenaga support logistik dan pemberi semangat untuk suami. Bisa jadi juga, mereka melayani para suami di sela-sela rehat perang“dulu berperang ada jeda waktunya“untuk memulihkan stamina.
Kita juga teringat kisah tragis Kim Bok-dong saat Perang Dunia kedua, yang waktu itu berusia 14 tahun diperintahkan tentara pendudukan Jepang di Korea Selatan bekerja di pabrik seragam militer, tapi kemudian dikirim ke rumah pelacuran yang dikelola militer Jepang. Di tempat ini, dia harus melayani lebih kurang 15 serdadu Jepang setiap hari. Kisah-kisah soal rumah bordil yang dibangun serdadu Dai Nippon bukan isapan jempol belaka, kita bisa mencarinya di internet. Kita tidak tahu, apakah penyediaan rumah bordil tersebut semata-mata untuk memuaskan nafsu bejat serdadu atau untuk memberi semangat bagi mereka dalam perang di Asia Timur Raya.
Selain kasus Kim Bok-dong, kita juga membaca soal tragedi Nanking, ibukota Cina waktu itu. Dalam tragedi ini, ribuan perempuan dewasa dan anak-anak diperkosa, setelah dibunuh organ seksualnya dirusak. Selain untuk mempertontonkan kejantanan, juga sebagai kampanye melemahkan semangat lawan.
Di medan perang mana pun, perempuan sering menjadi objek untuk dilemahkan. Seolah-olah berlaku rumus, jika ingin merusak mental lawan, maka perkosa dulu wanitanya. Kalau perempuan di kubu lawan belum ditundukkan, maka akan sulit menghancurkan perlawanan musuh. Ini pula, saya kira, mengapa di medan perang, termasuk dalam perang Aceh, pemerkosaan menjadi senjata pamungkas membungkam lawan. Sebab, selama perempuan belum disentuh, mereka akan memberi energi lebih untuk para lelakinya berperang.
Saya ingat pernah membaca sebuah berita saat Piala Dunia 2014 di Brazil. Sebelum laga Belanda melawan Spanyol, skuad Timnas Belanda diperbolehkan berkumpul dengan keluarganya (istri, pacar atau teman dekat) padahal dulunya hal ini termasuk tabu dilakukan karena akan menurunkan stamina. Tetapi, apa yang terjadi? Belanda secara perkasa membungkam Spanyol dengan skor 5-1! Saya tidak tahu pasti apakah keperkasaan pasukan Orange tersebut punya kaitannya dengan dibolehkannya mereka bergaul (bercinta) dengan istri dan berkumpul bersama keluarga?
Aceh Tukang Kawin; Panggilan Sejarah?
Kembali ke topik bahasan kita soal orang Aceh tukang kawin. Jangan-jangan, perilaku pejabat publik Aceh yang doyan nikah adalah untuk menunaikan sebuah panggilan sejarah! Biasanya mereka akan merujuk pada penaklukan semenanjung melayu oleh Iskandar Muda hanya untuk bisa menikahi putri dari Pahang. Apakah benar demikian? Saya tidak cukup referensi untuk menjelaskan masalah ini.
Tapi, ada sedikit fakta yang ingin saya tunjukkan, terutama yang berkaitan dengan figur pemimpin di Aceh. Dari penelusuran singkat yang saya lakukan, kebanyakan pemimpin di Aceh, umumnya memiliki istri dua atau hidup dengan istri kedua. Salah satu figur yang kerap disebut adalah Abdullah Puteh, Gubernur Aceh yang pernah tersandung kasus korupsi pesawat.
Namun, urutannya bisa lebih panjang jika kita mulai memeriksa figur pemimpin Aceh setelah tsunami atau pasca-damai. Kita mulai dengan Irwandi Yusuf, di mana saat memimpin Aceh, sosok yang akrab disapa Tgk Agam ini hidup dengan istri kedua: Darwati A. Gani. Mantan propagandis Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ini bahkan kini memiliki istri ketiga, Steffy Burase. Wakilnya pada periode pertama, Muhammad Nazar, juga disebut-sebut hidup dengan istri kedua. Demikian pula dengan Nova Iriansyah, santer diberitakan memiliki istri kedua, Yunita Arafah.
Gubernur Muzakir Manaf juga masuk dalam daftar kita ini. Bahkan, sosok Panglima GAM yang akrab disapa Mualem ini memiliki istri lebih dari dua. Wakil Gubernur Fadhlullah juga kerap diberitakan memiliki istri kedua. Juga, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M. Nasir Syamaun, belakangan gencar diberitakan oleh media online sudah menikah siri. Jika kita telisik para pemimpin Aceh di tingkat Kabupaten/Kota juga akan kita dapati fakta bahwa sebagian dari mereka memiliki istri kedua.
Sepanjang yang saya ketahui, dari semua pemimpin Aceh pasca-damai, hanya Gubernur Zaini Abdullah yang tidak pernah diberitakan memiliki istri kedua. Saya sudah berusaha mencari beberapa sumber informasi alternatif saat menulis artikel ini, hasilnya nihil. Bisa jadi, mantan menteri luar negeri GAM ini memang hanya punya satu istri, seperti yang kita ketahui sejauh ini.
Saya tidak tahu apa motif para pemimpin Aceh pasca-damai ini memilih untuk kawin lagi. Apakah mereka percaya pada mitos yang menyebutkan bahwa salah satu ‘kunci sukses’ menjadi pemimpin di Aceh adalah hidup dengan istri kedua. Bahkan ada yang percaya, jika orang Aceh ingin sukses dalam karir, baik politik maupun ekonomi, mau tidak mau, harus berani beristri dua. Jika perlu dengan menikahi wanita dari luar Aceh.
Beberapa figur publik Aceh yang dianggap sukses dalam karir karena memiliki istri dari luar Aceh adalah Sofyan Djalil, Teuku Riefky Harsya, dan Abdullah Puteh. Jika kita periksa lagi, tentu saja masih banyak tokoh Aceh yang sukses berkarir di luar Aceh, memiliki istri yang bukan orang Aceh.
Di atas segalanya, lelaki yang menikahi lebih dari satu perempuan dipandang sebagai lelaki jantan. Bahkan, ukuran kejantanan pun kini dinilai dari seberapa perkasa seorang lelaki di atas ranjang. "Kita boleh tidak punya banyak duit, tapi selama kita kuat di ranjang, perempuan tak akan berpaling ke lain hati," kata temanku suatu ketika. Bahkan, lelaki yang menikahi lebih satu wanita dianggap memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.
Jadi, berita tentang Mualem kawin lagi atau Sekda yang menikah siri, yang terus digoreng belakangan ini di media online, harus dipandang sebagai sesuatu yang biasa saja. Boleh jadi mereka sedang menunaikan panggilan sejarah, bahwa orang Aceh haruslah jantan dan perkasa. Hanya saja, kita berharap tidak sampai muncul mitos bahwa kalau ingin menjadi pemimpin di Aceh, mau tidak mau, harus beristri dua!
Penulis: Taufik Al Mubarak, penulis buku Aceh Pungo, dan blogger yang tidak kunjung pensiun.