DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ramadan tahun ini terasa berbeda di Hermes Palace Hotel Banda Aceh. Tak sekadar menghadirkan paket buka puasa bersama, hotel berbintang di jantung ibu kota Aceh itu mengusung konsep bertajuk Ngabuburit di Hermes, memadukan kekayaan kuliner Nusantara dengan sentuhan edukatif serta aksi kemanusiaan untuk korban banjir di Aceh.
General Manager Hermes Palace Hotel Banda Aceh yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Indonesian Hotel General Manager Association Aceh, Budi Syaiful, mengatakan bahwa setiap Ramadan pihaknya selalu menghadirkan konsep berbeda sebagai ciri khas.
“Kalau berbicara sejarahnya, sudah lima tahun terakhir setiap Ramadan kami selalu menggunakan konsep yang berbeda. Pernah kita ambil konsep Kapadokia, Aceh, Arab, Cina, Eropa, India, bahkan Colors of India dan tahun lalu Maroko. Nah, tahun ini konsepnya adalah Ngabuburit di Hermes,” ujar Budi saat ditemui di sela-sela buka puasa bersama oleh media dialeksis.com, Senin, 23 Februari 2026.
Mengusung tema ngabuburit, Hermes tak hanya menghadirkan sajian berbuka, tetapi juga suasana yang membangkitkan nostalgia masa lampau.
Dari sisi kuliner, hotel ini menampilkan ragam menu khas Nusantara yang berganti setiap hari.
Mulai dari makanan khas Aceh, Sumatera, Jawa, Bali hingga Makassar tersaji lengkap. Beberapa di antaranya seperti tekwan Palembang, gado-gado Betawi, sate lilit Bali, hingga aneka sambal khas daerah.
“Menu andalan sebetulnya semuanya andalan, dari mulai tajil sampai ke dessert. Karena konsepnya Nusantara, jadi kita ingin tamu bisa menikmati cita rasa Indonesia dari berbagai daerah,” kata Budi.
Sejumlah pengunjung sedang makan hidangan berbuka puasa Ramadhan di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Aceh, Senin (23/2/2026). Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.Yang menjadi daya tarik utama adalah kehadiran tujuh stan live cooking yang memasak langsung di hadapan tamu. Mulai dari aneka nasi goreng, berbagai jenis mi, martabak telur, hingga gorengan hangat yang disajikan segar.
“Setiap hari ada sekitar tujuh stall live cooking dan itu berbeda-beda. Kita ingin menjaga cita rasa dan kualitas sajian, sekaligus memberi pengalaman berbeda kepada tamu,” jelasnya.
Tak hanya soal makanan, konsep Ngabuburit di Hermes juga diwujudkan melalui dekorasi hotel yang kental dengan nuansa Nusantara. Sejak memasuki area hotel, tamu disambut dengan ornamen menyerupai saung dan warung tempo dulu.
Di dalam ruangan, terdapat replika rumah tradisional bergaya Betawi, hingga stan-stan kerajinan khas Indonesia. Bahkan, beberapa permainan tradisional turut dihadirkan sebagai bagian dari suasana ngabuburit.
“Ini juga bentuk edukasi untuk anak muda. Sekarang kan banyak yang sibuk dengan gadget. Kita ingin mereka juga mengenal kembali suasana dan budaya Nusantara, tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga merasakan atmosfernya,” ujar Budi.
Untuk paket berbuka puasa, Hermes Palace membanderol harga Rp175.000 per orang. Hotel juga menawarkan promo beli sembilan gratis satu, sehingga sepuluh orang bisa menikmati paket dengan harga lebih hemat.
Menurut Budi, harga tersebut sudah mencakup seluruh sajian, termasuk live cooking dan berbagai pilihan menu yang tersedia.
“Kita ingin memberikan pengalaman berbuka puasa yang mewah, nyaman, tapi tetap terjangkau untuk masyarakat,” katanya.
Yang membedakan Ramadan kali ini, Hermes juga menyelipkan misi kemanusiaan. Sebagian hasil penjualan paket buka puasa akan didonasikan untuk membantu korban banjir dan longsor di Aceh.
“Ini salah satu bentuk tanggung jawab kita. Kita sama-sama di Aceh, sama-sama merasakan dan punya empati terhadap saudara-saudara kita yang terdampak banjir,” tutur Budi.
Ia menambahkan, jumlah donasi akan diumumkan secara terbuka setiap pekan dan dipampang di area depan hotel sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat.
“Setiap minggu akan kita laporkan berapa yang sudah kita donasikan. Jadi masyarakat tahu dan ikut merasakan bahwa dengan berbuka di Hermes, mereka juga turut membantu,” katanya.
Dari sisi okupansi, Hermes Palace mencatat antusiasme tinggi selama Ramadan. Tamu yang datang tak hanya dari Aceh, tetapi juga dari luar daerah bahkan mancanegara seperti Malaysia.
“Weekend kemarin banyak tamu family. Tapi ada juga tamu corporate dari perusahaan-perusahaan besar. Bahkan besok ada sekitar 160 orang dari dua perusahaan besar,” ungkap Budi.
Untuk kapasitas, restoran Hermes mampu menampung lebih dari 400 orang. Jika jumlah tamu melebihi itu, pihak hotel menyiapkan ballroom dengan kapasitas serupa.
“Kita fleksibel. Kalau restoran penuh, kita bisa gunakan ballroom yang kapasitasnya juga sekitar 400 orang. Tamu harus merasakan sensasi makan di Hermes dengan begitu banyak variasi. Kita ingin mereka punya pengalaman berbeda dan berkesan,” jelasnya.