DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Suasana pengajian di Masjid Baitul Muttaqin, Dusun Sederhana--yang juga dikenal sebagai Masjid Pancasila Kopelma Darussalam--berlangsung khidmat.
Dalam tausiahnya, Ustaz Dr Nurchalis Mukhtar mengupas makna Surah al-Baqarah ayat 187 tentang “benang putih dan benang hitam” sebagai batas waktu makan dan minum saat berpuasa.
Ustaz Nurchalis, yang merupakan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah, Al Jam’iyatul Washliyah, dan Muhammadiyah, menjelaskan bahwa ungkapan tersebut merupakan metafora dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan perbedaan antara malam dan siang.
Ia pun mengisahkan sebuah dialog ketika seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai makna ungkapan tersebut.
“Ya Rasul, saya menyimpan sehelai benang hitam dan sehelai benang putih di bawah bantal. Namun hingga malam, benang itu tidak berubah,” ujar sahabat tersebut, sebagaimana dikutip Ustaz Nurchalis dalam ceramahnya.
Menurut penjelasan Rasulullah, kata ustaz, benang hitam dan benang putih bukanlah makna harfiah, melainkan perumpamaan tentang gelapnya malam dan terangnya fajar. Batas menahan makan dan minum adalah hingga jelas perbedaan antara malam dan siang.
“Al-Qur’an menggunakan bahasa metafor agar manusia berpikir dan memahami makna di balik teks. Puasa bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga melatih kesadaran--mampu membedakan yang haq dan yang batil, yang terang dan yang gelap dalam kehidupan,” ujar Ustaz Nurchalis di hadapan jamaah.
Ia menambahkan, ayat tersebut juga mengajarkan ketelitian dalam beribadah. Umat Islam diminta memastikan waktu dengan benar sebelum memulai atau mengakhiri puasa. Dalam konteks kekinian, hal itu dapat dimaknai sebagai pentingnya merujuk pada ilmu dan panduan yang sahih.
Pengajian ditutup dengan doa bersama. Jamaah berharap kajian rutin di masjid tersebut terus berlanjut sebagai ruang memperdalam pemahaman agama sekaligus mempererat silaturahmi di lingkungan Kopelma Darussalam.