Minggu, 19 Juli 2026
Beranda / Feature / Menjemput Nalar di Kampus, Pulang Menyulam Harapan di Jeulingke

Menjemput Nalar di Kampus, Pulang Menyulam Harapan di Jeulingke

Sabtu, 18 Juli 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Keuchik Gampong Jeulingke, H. Zulhan Hanafiah, S.Kom bersama Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. Foto: for Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Feature - Sepulang dari program Kepala Desa Masuk Kampus di Universitas Indonesia, Keuchik Gampong Jeulingke, H. Zulhan Hanafiah, S.Kom, membawa lebih dari sekadar sertifikat. Ia ingin menanamkan tradisi membaca, berdiskusi, dan berpikir berbasis pengetahuan di tengah masyarakat.

Aroma kopi menyeruak dari meja kecil di sudut Sadda Coffee, Lampineng, Banda Aceh. Sore itu, H. Zulhan Hanafiah menggenggam cangkirnya sesekali. Di hadapannya, lalu lintas kendaraan terdengar samar, bercampur dengan percakapan para pengunjung kedai.

Namun pikiran Keuchik Gampong Jeulingke itu seperti masih tertinggal jauh di Depok, Jawa Barat di antara pepohonan rindang, ruang kuliah, taman kampus, dan percakapan panjang bersama para kepala desa dari berbagai penjuru Indonesia.

“Dulu Universitas Indonesia hanya saya kenal dari berita dan buku pelajaran,” kata Zulhan kepada Dialeksis saat ditemui dalam perbincangan santai di kedai kopi tersebut.

Ia tersenyum kecil. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari ia akan duduk di ruang belajar salah satu kampus terkemuka di Indonesia itu. Bukan sebagai mahasiswa reguler, melainkan membawa nama Gampong Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Kesempatan tersebut datang melalui program Kepala Desa Masuk Kampus, sebuah kegiatan peningkatan kapasitas aparatur pemerintahan desa yang digagas Kementerian Dalam Negeri.

Bagi Zulhan, perjalanan itu bukan kunjungan wisata atau sekadar kesempatan meninggalkan rutinitas kantor keuchik. Ia memandangnya sebagai amanah sekaligus ruang untuk menguji kembali cara pemerintah gampong bekerja.

“Undangan ini bukan penghargaan untuk saya pribadi,” ujarnya. “Ini adalah kepercayaan bahwa gampong juga punya ruang untuk belajar, berdiskusi, dan melahirkan gagasan besar.”


Memasuki Ruang Gagasan

Kesan pertama Zulhan ketika memasuki kawasan Universitas Indonesia bukanlah kemegahan gedung-gedungnya. Perhatiannya justru tertuju pada suasana belajar yang tumbuh hampir di setiap sudut kampus.

Mahasiswa berjalan membawa buku. Beberapa duduk di bawah pohon. Sebagian lainnya berkumpul di taman dan pelataran fakultas, membicarakan sesuatu yang tak selalu dapat didengar oleh orang yang melintas.

Bagi Zulhan, pemandangan itu memperlihatkan bahwa belajar tidak dibatasi dinding ruang kuliah.

“Rasanya seperti memasuki tempat yang setiap sudutnya mengajak orang berpikir lebih jauh,” katanya.

Hari-harinya di kampus dipenuhi jadwal pembelajaran yang padat. Para peserta mendalami tata kelola pemerintahan desa, kepemimpinan, kebijakan publik, pengembangan ekonomi, inovasi pelayanan, dan penguatan kelembagaan.

Mereka juga diajak membicarakan tantangan desa yang semakin rumit. Pemerintah desa kini tidak hanya dituntut mampu mengurus administrasi dan pembangunan fisik, tetapi juga harus menghadapi perubahan teknologi, dinamika ekonomi, tuntutan transparansi, serta kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Di Kelas 16, tempat Zulhan belajar, para dosen tidak sekadar menyampaikan teori. Peserta diminta mengkritisi persoalan, membedah kebijakan, dan menawarkan jalan keluar berdasarkan pengalaman masing-masing.

Percakapan antara dosen dan kepala desa terkadang berlangsung panjang. Para akademisi datang membawa teori, metodologi, data, dan hasil penelitian. Sebaliknya, para kepala desa membawa persoalan nyata yang ditemui di lapangan: konflik warga, keterbatasan anggaran, pelayanan publik, kemiskinan, pengangguran, hingga lemahnya kapasitas aparatur.

Dari pertemuan dua dunia itu, Zulhan menemukan satu kesimpulan.

“Teori tanpa praktik akan kehilangan konteks,” ujarnya. “Sedangkan praktik tanpa teori sering kehilangan arah. Keduanya harus berjalan bersama.”


Belajar di Luar Kelas

Bagi Zulhan, pelajaran penting tidak selalu datang dari layar presentasi atau papan tulis.

Diskusi justru kerap berlanjut saat peserta berjalan menuju bus, ketika makan bersama, selama perjalanan menuju kampus, hingga malam hari di penginapan. Percakapan-percakapan informal itu mempertemukan pengalaman dari ratusan desa dengan latar belakang yang berbeda.

Ada kepala desa dari Sumatera Barat, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Sebagian memimpin wilayah pesisir. Sebagian lainnya datang dari pegunungan, kawasan hutan, pulau kecil, bahkan daerah perbatasan negara.

Nama jabatan mereka pun beragam. Di Aceh disebut keuchik. Di wilayah lain dikenal sebagai reje, wali nagari, kepala kampung, atau kepala desa.

Namun persoalan yang mereka bawa sering kali serupa: bagaimana menghadirkan pemerintahan yang dipercaya, pelayanan yang cepat, ekonomi yang tumbuh, serta kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Perbedaan itu justru menunjukkan betapa kayanya Indonesia,” kata Zulhan. “Kami datang dengan cerita yang berbeda, tetapi punya tujuan yang sama, yaitu memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat.”

Dari interaksi tersebut, Zulhan menyadari bahwa oleh-oleh paling berharga dari kampus bukan hanya materi perkuliahan. Ia membawa pulang jaringan antarkepala desa yang dapat menjadi ruang bertukar informasi dan praktik baik.

Menurut dia, jejaring itu penting agar satu desa dapat belajar dari keberhasilan maupun kegagalan desa lain tanpa harus mengulang kesalahan yang sama.


Gampong yang Memiliki Cerita

Perjalanan ke kampus juga mengubah cara Zulhan memandang potensi desa.

Selama ini, kata dia, potensi desa kerap dihitung sebatas luas tanah, hasil pertanian, objek wisata, atau jumlah produksi. Padahal setiap desa memiliki sejarah, identitas, tradisi, dan cerita yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi maupun sosial.

Jeulingke, misalnya, bukan sekadar kawasan permukiman di Kecamatan Syiah Kuala. Gampong ini tumbuh di tengah kawasan pendidikan dan aktivitas ekonomi Kota Banda Aceh. Letaknya berdekatan dengan perguruan tinggi, pusat perdagangan, tempat usaha, serta permukiman warga dengan latar belakang yang beragam.

Jeulingke juga memiliki sejarah, budaya lokal, kehidupan sosial, dan kekayaan kuliner yang dapat diperkenalkan lebih luas.

“Destinasi tidak hanya dibangun oleh keindahan alam,” kata Zulhan. “Ia juga dibangun oleh cerita yang menyertainya.”

Menurut dia, pantai, sawah, perkampungan nelayan, kuliner, atau tradisi masyarakat akan memiliki daya tarik lebih kuat apabila disampaikan melalui narasi yang baik. Cerita dapat membangun rasa penasaran sekaligus menciptakan hubungan emosional antara suatu tempat dan orang yang mengunjunginya.

Karena itu, membangun gampong tidak cukup dengan mendirikan gedung, memperbaiki jalan, atau memasang lampu penerangan. Pemerintah dan masyarakat juga perlu membangun cerita mengenai identitas gampong tersebut.


Kampus dan Meunasah

Di Universitas Indonesia, Zulhan merenungkan persamaan antara tradisi kampus dan kehidupan masyarakat Aceh.

Di gampong, persoalan biasanya diselesaikan melalui musyawarah. Warga datang membawa pendapat. Tokoh masyarakat, aparatur gampong, pemuda, dan unsur lainnya berdiskusi sebelum mengambil keputusan.

Di kampus, sebuah gagasan diuji melalui argumentasi, penelitian, data, dan perdebatan ilmiah.

Semula Zulhan melihat keduanya sebagai tradisi yang berbeda. Namun selama mengikuti program, ia menyimpulkan bahwa musyawarah gampong dan diskusi akademik memiliki semangat yang sama: mencari keputusan terbaik melalui pertukaran pikiran.

Gampong mempunyai pengalaman empiris dan pengetahuan langsung mengenai kehidupan masyarakat. Kampus memiliki teori, teknologi, metodologi, serta kemampuan menghasilkan inovasi.

“Ketika pengalaman desa dipadukan dengan kekuatan akademik, kebijakan akan lebih tepat sasaran,” katanya.

Kolaborasi itulah yang ingin ia bangun setelah kembali ke Banda Aceh. Letak Jeulingke yang berada di kawasan pendidikan memberi peluang besar untuk bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala dan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

Kerja sama tersebut dapat berbentuk penelitian, pendampingan ekonomi masyarakat, digitalisasi pelayanan, pengembangan usaha, pelatihan perangkat gampong, hingga penyediaan ruang belajar bagi pemuda.


Membawa Kampus Pulang

Zulhan tidak ingin perjalanan ke Universitas Indonesia berakhir sebagai kumpulan foto, sertifikat, dan cerita dalam pertemuan seremonial.

Ilmu yang diperoleh, menurut dia, harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata. Ia ingin mendorong tata kelola pemerintahan Gampong Jeulingke yang lebih profesional, transparan, dan adaptif.

Ia juga membayangkan hadirnya taman baca, ruang diskusi warga, serta forum pembelajaran yang mempertemukan perangkat gampong, pemuda, mahasiswa, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.

Budaya belajar, kata dia, tidak harus selalu dimulai dari gedung besar. Ia dapat tumbuh dari rak buku sederhana di kantor keuchik, diskusi rutin di meunasah, percakapan anak muda di warung kopi, maupun forum warga yang membahas persoalan gampong secara terbuka.

“Saya berharap Jeulingke tidak hanya dikenal karena posisinya yang strategis di ibu kota provinsi,” ujarnya. “Saya ingin Jeulingke juga dikenal karena budaya belajarnya.”

Baginya, gampong yang maju tidak semata-mata diukur dari mulusnya jalan atau megahnya bangunan. Kemajuan juga terlihat dari masyarakat yang terbuka terhadap pengetahuan, berani mengemukakan gagasan, dan bersedia menerima perubahan.

Seorang keuchik, menurut Zulhan, tidak boleh berhenti belajar hanya karena telah memperoleh jabatan. Sebab persoalan masyarakat bergerak lebih cepat dibandingkan masa jabatan seorang pemimpin.

“Kepala desa harus menjadi pembelajar sepanjang hayat,” katanya.

Menjelang petang, suasana Sadda Coffee semakin ramai. Cangkir kopi di hadapan Zulhan mulai kosong. Namun percakapan mengenai kampus dan masa depan Jeulingke belum kehilangan tenaga.

Ia kembali menegaskan bahwa makna Kepala Desa Masuk Kampus bukan sekadar membawa aparatur desa ke ruang kuliah. Tugas yang lebih besar justru dimulai ketika mereka pulang.

Mereka harus membawa budaya membaca, berpikir, meneliti, berdiskusi, dan menguji kebijakan ke tengah masyarakat.

Zulhan berangkat dari Jeulingke untuk menjemput pengetahuan di kampus. Ia pulang membawa keyakinan bahwa perubahan Indonesia tidak selalu harus dimulai dari ruang-ruang kekuasaan di Jakarta.

Perubahan dapat tumbuh dari meja musyawarah di kantor keuchik, dari taman baca kecil, dari percakapan di meunasah, dan dari gampong-gampong yang dipimpin oleh orang-orang yang tidak pernah berhenti belajar.

“Saat seorang keuchik terus belajar, yang sedang dibangun bukan hanya dirinya,” kata Zulhan. “Yang sedang dibangun adalah masa depan gampongnya.”

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI