Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Feature / Ketika Dosen Matematika Jatuh Cinta pada Dunia Jurnalistik

Ketika Dosen Matematika Jatuh Cinta pada Dunia Jurnalistik

Jum`at, 17 April 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Elga Safitri, Wartawan media Metro Aceh sebagai salah satu peserta Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh bersama Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh dan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pagi itu di Banda Aceh, ruang Ballroom Hotel Ayani terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena tak ada orang, melainkan karena setiap peserta larut dalam pikirannya masing-masing. 

Di antara puluhan peserta, seorang perempuan duduk tegak, matanya tertuju pada lembar soal yang seolah tak ada habisnya. Ia tak banyak bicara sejak awal. Hanya sesekali menarik napas panjang, lalu kembali menulis dengan tenang.

Namanya Elga Safitri, M.Pd. Seorang dosen matematika yang perlahan, sedang jatuh cinta pada dunia jurnalistik.

Dalam kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh bersama Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh dan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas Muhammadiyah Jakarta itu, Elga memilih jalan baru. 

Baginya, cinta pada jurnalistik bukan tentang banyak bicara, melainkan tentang bagaimana memahami dan menyampaikan pesan lewat tulisan.

“Soalnya banyak dan menguras energi, tapi saya menikmatinya,” ucapnya pelan kepada pewarta Dialeksis.com, Kamis, 16 April 2026.

Jika matematika adalah cinta pertamanya, maka jurnalistik adalah cinta yang datang kemudian.

Di kampung halamannya di Reuleut, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Elga tumbuh sebagai insan yang akrab dengan angka. Sejak kecil, ia sudah menemukan kebahagiaan dalam memecahkan soal matematika.

“Dari kecil saya suka matematika. Kalau berhasil memecahkan soal, apalagi yang sulit, rasanya luar biasa senang,” kenangnya. 

Kini ia mengajar di Universitas Al Muslim, membimbing mahasiswa memahami logika angka. Di sela-sela itu, ia juga mengajar les privat. 

"Itu yang membuat saya ingin jadi guru karena saya ingin orang lain juga merasakan paham," ujarnya.

Namun, seperti banyak kisah cinta lainnya, jurnalistik datang tanpa diduga. Awalnya, dunia menulis terasa asing baginya.

Dalam sehari-hari, ia biasanya bermesra dengan angka. Kali ini, ia harus bergelut saat berhadapan dengan kata-kata terkadang sulit ditaklukkan.

“Saya pernah dengar, yang suka matematika itu otak kiri, sedangkan menulis itu otak kanan. Jadi saya anggap ini tantangan baru,” katanya.

Tantangan itu ia terima. Sejak masa kuliah, ia mulai mencoba menulis. Tahun 2016, ia memenangkan lomba opini. Dari sana, benih cinta itu tumbuh.

Ia bergabung dengan pers mahasiswa, lalu menulis di berbagai media seperti Metro Aceh, Detik Aceh, hingga Relasi Nasional. 

Perlahan, ia menemukan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, tapi juga menyuarakan hal-hal yang dekat dengan hatinya.

“Saya tertarik menulis tentang pendidikan, terutama prestasi siswa,” ujarnya.

Di titik itu, jurnalistik bukan lagi sekadar hobi. Ia menjadi cara lain bagi Elga untuk mengajar, bukan di kelas, tapi di ruang publik.

Kembali ke ruang UKW, cinta itu diuji

Di hadapannya, soal demi soal menuntut ketelitian, kecepatan, dan daya tahan. Namun Elga tetap tenang, fokus, dan tekun. Seperti saat ia menghadapi soal matematika yang rumit, ia tidak terburu-buru. Ia menikmati prosesnya.

“Saya dapat banyak hal baru dari UKW ini. Cara berpikirnya, cara menyusun berita, itu membuka wawasan saya,” katanya.

Baginya, UKW bukan sekadar ujian. Ia adalah ruang belajar--tempat di mana cinta pada jurnalistik menemukan bentuk yang lebih matang.

Meski begitu, ia juga menyimpan harapan sederhana.

“Ke depan, mungkin bimbingan Pra UKW lebih banyak supaya peserta tidak terlalu kaget. Waktunya juga terasa kurang,” ucapnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI