DIALEKSIS.COM| Feature- Seragam “besi”yang dikenakan penuh lumpur. Derap sepatu mengibas air, diantara tumpukan kayu dan batu, melaju diantara puing-puing. Tidak kenal lelah, tidak ada istilah hari libur, semua penjuru terkena musibah dikunjungi.
Aceh Tengah yang porak poranda di segala penjuru, bahkan sampai saat ini Selasa (13/1/2026) masih ada 26 desa yang terisolasi. Belum bisa dilalui kenderaan roda empat, walau sebagian sudah bisa dilewati roda dua.
Namun bagi penegak hukum di negeri penghasil kopi arabika terbaik dunia ini, tidak ada kawasan terisolir di Aceh Tengah yang tidak mereka kunjungi. Mereka hadir di sana, bukan hanya menyerahkan bantuan kemanusian.
Namun, jajaran Polres Aceh Tengah ikut berbaur dengan masyarakat, memperbaiki fasilitas yang rusak. Menguatkan semangat juang masyarakat, dan hari hari awal bencana mengevakuasi masyarakat ke tempat yang lebih aman.
Untuk bantuan kemanusian, saban hari jajaran Polres Aceh Tengah bergerak. Mereka ada kalanya berpencar ke berbagai wilayah, terutama kawasan yang sulit dijangkau, harus mengandalkan kekuatan fisik, berjalan kaki.
Melintasi medan yang berat, tantanganya maut, meniti jembatan darurat, bergantung di seutas tali waja, semuanya dilalui pihak kepolisian Aceh Tengah demi menyapa masyarakat, menguatkan dan menyerahkan bantuan.
Aksi Polres Aceh Tengah dalam bencana ini, menambah rasa simpati masyarakat pada uniform coklat ini. Ucapan terima kasih mengalir. Mereka hadir sebagai polisi pengayom rakyat, apalagi ketika negeri ini dilanda bencana.
Gerak cepat dan tanpa kenal lelah ini, tentunya tidak terlepas dari sosok siapa yang memegang tongkat komando. Pimpinan yang merakyat dan dekat dengan bawahan, santun, memiliki rasa peduli yang tinggi.
Bahkan sosok pemegang tongkat komando ini juga ikut bersama anggotanya memanggul beras untuk diantarkan langsung kepada korban banjir bandang. Bila orang tidak melihat dua melati di pundaknya, susah orang mengenalinya.
Ketika Dialeksis.com bertemu dengan personil rombongan polisi di Kampung Kala Segi, Bintang, Aceh Tengah, dimana saat itu pihak kepolisian memberikan pelayanan medis dan menyerahkan bantuan.
“Bang udah jumpa dengan Pak Kapolres,”sebut salah seorang personil polisi yang duduk dekat dapur pengungsian di Kala Segi, menyapa penulis.
Ketika dijawab belum dan tidak kelihatan, spontan polisi ini menunjuk Kapolres yang sedang duduk di bak terbuka mobil dinas double cabin. Kapolres duduk bersama anggotanya di belakang, dalam bak terbuka, sehingga tidak ada beda antara komandan dengan anggota.
Kalau tidak melihat pangkat di pundaknya, susah membedakan yang mana Kapolres dan anggota Polres. Kebiasan itu bagai sudah melekat dalam diri AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H.
Ketika dia tidak mengenakan pakaian dinas, bagi orang yang belum mengenalnya, tidak percaya kalau dia Kapolres. Kepada personilnya yang lebih muda dia memanggil adik, ke yang lebih tua darinya dia panggil abang, bahkan ada yang dia panggil dengan om.
Ketika Aceh Tengah dilanda bencana yang luar biasa, belum pernah ada dalam sejarah, Muhammad Taupiq kembali menunjukan sosoknya sebagai Kapolres rakyat. Tidak pernah mengenal lelah, turun ke lapangan dan mengerahkan anggotanya untuk membantu masyarakat.
Siapa sosok lelaki yang dekat dengan masjid ini? dan sering memeluk seseorang ketika berjabat tangan, sambil menepuk bahu dengan lembut.
Sebelum bencana, ada agenda Polres Aceh Tengah, Jumat berkah. Setiap Jumat pagi pihak Polres Aceh Tengah membagikan sembako kepada masyarakat yang kurang mampu, yang pembagian digilir. Pihak Polres langsung mengantarnya ke lokasi.
Untuk kegiatan jumat berkah, Muhammad Taufiq mewanti wanti reje (kepala desa) dan aparaturnya, agar ketika pihaknya mengantarkan sembako untuk tidak repot repot menyambut pihaknya.
Dia adalah Kapolres Aceh Tengah AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H. Dia adalah buah hati dari pasangan Wahyu dengan Atih Setiawati. Dia dilahirkan di Lampung pada 20 Mei 1986. SD Way Halim Permai, SMP 4 dan SMU 10 semuanya di Bandar Lampung.
Dia lulusan Akpol tahun 2007, pertama ditugaskan di Tanjung Priuk Jakarta Utara. Pada Masuk ke Polda Aceh tahun 2015, setelah menamatkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).
Taufiq pernah bertugas sebagai Kapolsek kuta Alam Polresta Banda Aceh (2015), kemudian menjabat Kasat Reskrim Polres Langsa 2016. Selanjutnya Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh (2017).
Pada tahun 2022 dia menjabat Wakapolres Pidie, kemudian melanjutkan pendidikan di Sespim Polri tahun 2023). Usai dari sana dia berdinas di Korpolairud Baharkam Polri . Kemudian ditarik kembali ke Aceh menjabat Kasubdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Aceh.
Kini dia dipercayakan sebagai Kapolres Aceh Tengah. Dua melati di pundaknya, tidak membuat dia "milih" bersahabat, semua pihak dirangkulnya untuk dijadikan sahabat, apalagi dia dekat dengan masjid. Rasa persaudaraan itu dibangunya, demi suksesnya menjalankan tugas.
Kini, saat Aceh Tengah dilanda bencana, kembali sosok dua melati di pundak ini banyak mendapat pelukan dari masyarakat sambil meneteskan air mata. Ada ucapan terima kasih atas kepeduliannya dalam membasuh luka para korban bencana.
“Terima kasih Pak Kapolres dan jajaranya, semoga Allah membalas semua kebaikan ini dengan pahala dan diberikan kemudahan dalam bertugas”. Kalimat doa ini, walau berbeda redaksi, diucapkan para korban bencana yang dikunjungi uniform coklat penegak hukum ini.
Gayo berduka, ditengah bencana itu Allah mengirim sosok pemimpin di Kepolisian untuk berbagi duka dengan masyarakat. Sosok yang mengandalkan hati nurani dalam bertugas. Sosok yang santun, lembut dan peduli, namun tegas dalam mengayomi masyarakat. Terima kasih Muhammad Taufiq. [Baga}