DIALEKSIS.COM | Jakarta - Rencana PT RANS Entertainment Indonesia melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan target valuasi sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun terus menjadi perhatian publik. Di tengah antusiasme tersebut, pengusaha sekaligus konten kreator finansial Raymond Chin menilai ada satu hal yang justru lebih penting dicermati calon investor dibanding besarnya nilai IPO tersebut.
Melalui kanal YouTube pribadinya berjudul "RANS Mau IPO Senilai 2 Triliun, Untuk Apa?" yang tayang pada 26 Juni 2026 dan telah ditonton lebih dari 583 ribu kali, Raymond mengulas secara mendalam prospektus perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu.
Menurut Raymond, isu paling krusial bukanlah besarnya valuasi perusahaan maupun berbagai rumor yang selama ini berkembang, melainkan pengakuan resmi perusahaan sendiri mengenai ketergantungan bisnis terhadap figur pendirinya.
"Yang paling concerning justru pengakuan perusahaan sendiri. Risiko utama mereka bukan kompetitor, tetapi ketergantungan terhadap Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai figur utama," kata Raymond.
Ia menjelaskan, dalam dokumen prospektus yang diajukan kepada regulator, RANS secara terbuka mengungkapkan bahwa keberlangsungan bisnis sangat dipengaruhi oleh popularitas dan aktivitas Raffi Ahmad, Nagita Slavina, serta keluarga mereka sebagai wajah utama perusahaan.
Menurut Raymond, transparansi tersebut patut diapresiasi karena menunjukkan perusahaan tidak menutupi risiko bisnis yang dihadapi.
"Kalau Raffi atau Nagita mengalami persoalan reputasi, berhenti tampil di publik, atau aktivitas mereka menurun, bisnis inti perusahaan bisa langsung terkena dampaknya," ujarnya.
Raymond juga meluruskan anggapan masyarakat yang selama ini mengira RANS hanya mengandalkan kanal YouTube keluarga Raffi Ahmad.
Ia menjelaskan, RANS telah berkembang menjadi kelompok usaha yang memiliki empat lini bisnis utama, yakni produksi dan distribusi konten digital, pengelolaan intellectual property (IP), penyelenggaraan event dan aktivasi komersial, serta berbagai investasi strategis di sektor kosmetik, makanan dan minuman, restoran hingga taman hiburan.
Perusahaan tersebut juga memiliki 11 entitas anak usaha dan empat perusahaan asosiasi.
Menurut Raymond, aset terbesar RANS bukanlah gedung atau peralatan, melainkan sekitar 155 juta pengikut di berbagai platform media sosial yang menjadi pintu masuk untuk memasarkan berbagai produk dan layanan.
"Follower itulah yang menjadi jalan tol bisnis mereka. Dari sana kemudian dimonetisasi melalui event, endorsement, produk, IP, hingga berbagai kerja sama komersial," katanya.
Dalam analisanya, Raymond turut menyoroti laporan keuangan RANS.
Ia menyebut pendapatan perusahaan mengalami tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Pendapatan tercatat sekitar Rp437 miliar pada 2023, turun menjadi sekitar Rp410 miliar pada 2024, kemudian kembali turun menjadi sekitar Rp353 miliar pada 2025.
Sementara itu, laba bersih 2025 sebesar sekitar Rp56 miliar, turun sekitar 41 persen dibanding tahun sebelumnya.
Meski demikian, perusahaan tetap membagikan dividen sekitar Rp17 miliar kepada pemegang saham lama sebelum IPO.
Raymond menegaskan pembagian dividen tersebut bukan tindakan yang melanggar aturan karena berasal dari akumulasi laba tahun-tahun sebelumnya sebagaimana dijelaskan dalam prospektus perusahaan.
Namun, menurutnya, langkah tersebut tetap menjadi salah satu aspek yang layak diperhatikan investor ketika menilai tujuan perusahaan melakukan IPO.
"Investor tentu ingin mengetahui apakah dana IPO benar-benar untuk mempercepat pertumbuhan bisnis atau sekadar menjadi bagian dari strategi lainnya. Itu yang harus dibaca dari prospektus," katanya.
Raymond mengungkapkan, penurunan paling signifikan terjadi pada segmen brand ambassador dan talent management yang turun sekitar 51 persen dibanding tahun sebelumnya.
Baginya, penurunan tersebut layak menjadi perhatian karena bisnis endorsement merupakan sumber pendapatan yang paling erat kaitannya dengan popularitas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.
Meski demikian, ia juga mencatat kondisi keuangan perusahaan masih tergolong sehat.
Kas perusahaan meningkat hingga sekitar Rp100 miliar, total utang turun sekitar 23 persen menjadi Rp120 miliar, sementara margin laba kotor justru mengalami peningkatan.
"Dari sisi kesehatan perusahaan sebenarnya belum bisa dibilang dalam kondisi darurat. Mereka masih berjalan dengan baik," ujarnya.
Raymond melihat manajemen RANS juga menyadari risiko ketergantungan terhadap figur pendiri.
Karena itu, sebagian dana hasil IPO direncanakan digunakan untuk memperluas sumber pendapatan yang tidak bergantung sepenuhnya pada aktivitas Raffi Ahmad dan Nagita.
Salah satunya melalui kerja sama pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) bersama PT Fitloop Global Technology, pembangunan taman hiburan Cipungland, serta pengembangan bisnis penyelenggaraan konser.
Menurut Raymond, strategi diversifikasi tersebut secara bisnis cukup masuk akal.
"Kalau pendapatan nanti berasal dari tiket taman hiburan, konser, atau bisnis lain, ketergantungan terhadap figur Raffi dan Nagita tentu bisa berkurang," katanya.
Namun ia mempertanyakan apakah dana IPO sekitar Rp429 miliar cukup untuk membiayai transformasi bisnis tersebut dalam jangka panjang.
Di akhir analisanya, Raymond menilai valuasi IPO RANS tergolong premium.
Dengan harga penawaran sekitar Rp135 hingga Rp170 per saham, valuasi perusahaan diperkirakan berada pada kisaran price to earnings ratio (PER) sekitar 30 hingga 38 kali, jauh di atas rata-rata pasar saham Indonesia.
Karena itu, menurutnya, investor yang membeli saham RANS pada dasarnya tidak hanya membeli kinerja perusahaan saat ini, tetapi juga ekspektasi terhadap pertumbuhan bisnis di masa mendatang.
"Yang dibeli investor adalah harapan bahwa diversifikasi bisnis mereka berhasil. Kalau melihat track record tiga tahun terakhir, pertumbuhan memang sedang melambat. Tetapi kalau percaya strategi bisnis ke depan berhasil, tentu keputusan investasinya kembali kepada masing-masing investor," ujar Raymond.
Ia menambahkan, era ekonomi berbasis perhatian (attention economy) memang membuka peluang besar bagi perusahaan yang memiliki basis pengikut sangat kuat. Namun, menurutnya, perhatian publik saja tidak cukup apabila tidak dibangun di atas fondasi bisnis yang mampu bertahan tanpa bergantung pada satu figur utama.
"Attention memang aset besar. Tapi kalau fondasi bisnisnya belum cukup kuat berdiri sendiri, risikonya juga besar. Itu yang menurut saya harus dipahami calon investor sebelum membeli saham perusahaan seperti ini," pungkasnya.
