Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Industri Pengolahan Tancap Gas, IKFT Jadi Andalan Ekonomi di Tengah Gejolak Global

Industri Pengolahan Tancap Gas, IKFT Jadi Andalan Ekonomi di Tengah Gejolak Global

Selasa, 10 Februari 2026 18:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri
Ilustrasi industri tekstil. [Foto: dok. Kemenperin]

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Sektor industri pengolahan kembali menegaskan posisinya sebagai motor utama perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan laju pertumbuhan yang stabil dalam tiga tahun terakhir dan diproyeksikan mencapai 5,30% pada 2025.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai capaian tersebut mencerminkan daya tahan industri dalam negeri di tengah tekanan ekonomi global. Menurutnya, konsistensi kinerja sektor manufaktur menjadi pembeda utama dibandingkan sektor lain dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. 

“Industri pengolahan terus menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional berkat kontribusi sektor industri dalam negeri,” ujar Agus, Selasa (10/2/2026).

Salah satu penopang utama kinerja industri pengolahan berasal dari sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT). Sepanjang 2025, sektor ini mencatatkan pertumbuhan 5,11%, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,21%. Kontribusi IKFT terhadap PDB tercatat 3,87%, dengan porsi terbesar berasal dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.

Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT Kementerian Perindustrian, Sri Bimo Pratomo, menyebut sektor ini tetap resilien dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. 

“IKFT masih menjadi penopang penting industri pengolahan nonmigas dan mampu menjaga momentum pertumbuhan industri nasional,” katanya. 

Ia menambahkan, lonjakan pertumbuhan paling tinggi berasal dari subsektor kimia, farmasi, dan obat tradisional yang tumbuh hingga 8,35% pada 2025.

Dari sisi perdagangan, sektor IKFT mencatatkan kinerja ekspor yang solid dengan neraca surplus sepanjang Januari“November 2025. Nilai ekspor mencapai US$49,15 miliar, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kinerja tersebut turut ditopang oleh ekspor industri bahan kimia dan produk turunannya, serta peningkatan ekspor berbasis pertanian dan industri alas kaki.

Optimisme pelaku industri juga tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada di level ekspansif pada awal 2026. Pada Januari 2026, IKI tercatat di level 54,12, naik dari bulan sebelumnya. 

Pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim usaha yang kondusif serta mempercepat pendalaman struktur industri guna memperkuat daya saing dan mengurangi ketergantungan impor. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI