Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / IKI Februari 2026 Masih Ekspansi, 19 Subsektor Industri Tumbuh

IKI Februari 2026 Masih Ekspansi, 19 Subsektor Industri Tumbuh

Sabtu, 28 Februari 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, mayoritas subsektor industri masih tumbuh. Dari 23 subsektor yang disurvei, sebanyak 19 subsektor berada pada fase ekspansi dan berkontribusi 92,9% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. [Foto: dok. kemenperin]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kinerja industri pengolahan nasional tetap menunjukkan daya tahan pada awal 2026. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 tercatat sebesar 54,02 atau masih berada di level ekspansi. 

Meski turun tipis 0,10 poin dibanding Januari 2026, capaian ini lebih tinggi 0,87 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi level tertinggi kedua sejak pertama kali dirilis pada November 2022.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, mayoritas subsektor industri masih tumbuh. Dari 23 subsektor yang disurvei, sebanyak 19 subsektor berada pada fase ekspansi dan berkontribusi 92,9% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman serta Industri Alat Angkutan Lainnya,” ujar Febri dalam pernyataan resmi yang diterima pada Sabtu (28/2/2026).

Menurutnya, ekspansi tersebut didorong peningkatan permintaan dari sejumlah sektor seperti makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta alas kaki. Kenaikan penjualan sepeda motor pada Januari 2026 yang mencapai 577.763 unit atau tumbuh 3,11% secara tahunan turut menopang kinerja industri alat angkutan.

Di sisi lain, Kemenperin menyoroti adanya anomali antara kenaikan konsumsi rumah tangga dan kinerja industri dalam negeri. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan konsumsi pakaian dan alas kaki meningkat dari 2,73% pada 2024 menjadi 4,52% pada 2025. Namun, industri pakaian jadi yang berorientasi pasar domestik justru tercatat mengalami kontraksi.

“Dengan demikian, terdapat indikasi kuat bahwa kenaikan permintaan tersebut lebih banyak dipenuhi oleh produk impor,” kata Febri.

Sementara itu, empat subsektor yang mengalami kontraksi meliputi industri kayu dan turunannya, industri barang galian non logam, industri komputer dan elektronik, serta reparasi dan pemasangan mesin. Sekretaris Direktorat Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Sri Bimo Pratomo menjelaskan, kontraksi barang galian non logam dipicu turunnya permintaan proyek pemerintah di awal tahun anggaran dan periode Ramadan. 

“Kemungkinan besar proyek-proyek akan mulai berjalan setelah lebaran,” ujarnya.

Meski demikian, secara umum iklim usaha masih dinilai positif. Sebanyak 77,6% responden menyatakan kondisi usaha membaik atau stabil, dengan tingkat optimisme mencapai 73,5%. Seluruh variabel pembentuk IKI, yakni pesanan, produksi, dan persediaan, tetap berada di zona ekspansi, dengan variabel produksi mencatatkan ekspansi tertinggi sejak Januari 2025. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI