Kamis, 15 Oktober 2026
Beranda / Ekonomi / Harga Ayam dan Telur Jomplang, Amran Curiga Ada Permainan Middleman

Harga Ayam dan Telur Jomplang, Amran Curiga Ada Permainan Middleman

Rabu, 14 Oktober 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri
Ilustrasi ayam dan telur. [Foto: okoconews.com]

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti anomali harga ayam dan telur yang dinilai merugikan peternak maupun konsumen. Harga di tingkat produsen rendah, tetapi masyarakat justru harus membeli dengan harga jauh lebih mahal.

Amran mengungkapkan, harga ayam dan telur di tingkat produsen berada di kisaran Rp 20.000-Rp 21.000. Namun, harga di tingkat konsumen bisa mencapai Rp 40.000-Rp 45.000. Selisih harga tersebut memunculkan dugaan adanya permainan di rantai distribusi.

“Ada yang menarik, inflasi telur ayam, inflasi ayam, inflasi beras, itu yang paling menonjol. Tiga ini menonjol, tapi lucu. Di harga di produsen, di bawah HPP yang ditentukan pemerintah. Jadi, karena harga rendah, peternaknya demo. Tapi dalam waktu bersamaan, konsumen juga berteriak,” kata Amran dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu (14/10/2026).

Menurut Amran, dugaan permainan harga oleh perantara atau middleman harus ditelusuri dan ditindaklanjuti bersama aparat penegak hukum. Ia mengaku telah menyurati Kapolri untuk memperkuat koordinasi dalam memberantas praktik yang diduga membuat harga di tingkat konsumen melonjak.

“Harganya Rp 20.000, Rp 21.000. Tetapi di konsumen bisa Rp 40.000, Rp 45.000. Middleman ini, ada yang memainkan harga. Kami sudah menyurat ke Pak Kapolri. Kami sudah sepakat, beliau, kalau kolaborasi, kita harus perangi,” tegasnya.

Amran menilai persoalan tersebut perlu segera dibenahi karena Indonesia dinilai telah mampu memenuhi kebutuhan ayam dan telur, bahkan mengekspor kedua komoditas tersebut. Kondisi itu berbanding terbalik dengan keluhan peternak yang menghadapi harga jual rendah dan konsumen yang harus membayar lebih mahal.

“Ini peternak berjibaku, siang malam tidak tidur, kerja berproduksi. Kita surplus, kita ekspor. Tapi harga dalam negeri naik melampau,” ujarnya.

Selain menyoroti rantai distribusi, pemerintah mempercepat penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta memperkuat penyerapan telur produksi dalam negeri. Langkah ini ditujukan untuk membantu peternak menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mendukung stabilitas pasokan dan harga pangan. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI