Selasa, 09 Juni 2026
Beranda / Ekonomi / Aceh Raup Surplus Dagang US$ 7,74 Juta, India Jadi Tujuan Ekspor Utama

Aceh Raup Surplus Dagang US$ 7,74 Juta, India Jadi Tujuan Ekspor Utama

Senin, 08 Juni 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi. [Foto: accurate.id]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Neraca perdagangan luar negeri Aceh pada April 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar US$ 7,74 juta. Surplus terjadi karena nilai ekspor masih lebih tinggi dibandingkan impor selama periode tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Agus Andria mengatakan nilai ekspor Aceh pada April 2026 mencapai US$ 56,99 juta, sedangkan impor tercatat sebesar US$ 49,25 juta.

"Dengan nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan nilai impor, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada bulan April 2026 mengalami surplus sebesar US$ 7,74 juta," kata Agus yang dilansir pada Senin (8/6/2026).

Secara bulanan, nilai ekspor Aceh turun 3,93% dibandingkan Maret 2026. Namun secara tahunan, ekspor masih tumbuh 7,55% dibandingkan April 2025.

BPS mencatat sekitar 79,97% ekspor Aceh atau senilai US$ 45,58 juta dikirim melalui pelabuhan di Aceh. Sisanya sebesar US$ 11,39 juta diekspor melalui pelabuhan di provinsi lain, terutama Sumatera Utara.

India menjadi tujuan ekspor terbesar Aceh dengan nilai mencapai US$ 38,14 juta. Komoditas utama yang dikirim ke negara tersebut adalah batu bara. Sementara itu, Thailand dan Vietnam menempati posisi berikutnya dengan nilai ekspor masing-masing US$ 4,49 juta dan US$ 4,29 juta.

Batu bara masih menjadi komoditas andalan ekspor Aceh dengan nilai US$ 45,57 juta atau sekitar 79,95% dari total ekspor. Selain itu, Aceh juga mengekspor kopi, rempah-rempah, serta berbagai produk kimia.

Di sisi lain, nilai impor Aceh pada April 2026 mencapai US$ 49,25 juta atau naik 14,09% dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut masih turun 3,07% dibandingkan April 2025.

Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$ 27,17 juta, disusul Aljazair sebesar US$ 18,74 juta. Komoditas utama yang diimpor dari kedua negara tersebut adalah gas propana atau butana. Adapun impor dari Tiongkok mencapai US$ 2,99 juta yang didominasi bahan kimia anorganik.

Secara keseluruhan, gas propana atau butana menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai US$ 45,91 juta atau sekitar 93,20% dari total impor Aceh.

BPS menilai kinerja perdagangan luar negeri Aceh sepanjang April 2025 hingga April 2026 masih menunjukkan tren positif. Dalam periode tersebut, neraca perdagangan lebih sering mencatatkan surplus, sementara defisit hanya terjadi pada Mei dan Oktober 2025. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI