Selasa, 15 September 2026
Beranda / Berita / Dunia / Rusia Makin Agresif, NATO Perkuat Pertahanan Usai Drone Hantam Dekat Polandia

Rusia Makin Agresif, NATO Perkuat Pertahanan Usai Drone Hantam Dekat Polandia

Selasa, 15 September 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Tangkapan layar dari rekaman video yang dirilis oleh saluran TVN dan disediakan melalui AFPTV ini memperlihatkan sebuah benda yang diduga sebagai pesawat nirawak (drone) militer Rusia yang ditemukan di Laut Baltik, di lepas pantai Polandia [Foto: AFP]


DIALEKSIS.COM | Brussels - Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menjanjikan dukungan tambahan untuk Ukraina setelah serangkaian serangan drone Rusia terjadi di wilayah dekat perbatasan Polandia.

Rutte pada Senin (14/9/2026) menegaskan NATO tidak akan gentar melanjutkan dukungan kepada Kyiv. Aliansi beranggotakan 32 negara itu juga akan memperkuat pertahanan di sepanjang sayap timur yang berbatasan dengan Rusia.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah drone Rusia menghantam sebuah kereta api di dekat perbatasan Ukraina-Polandia pada Minggu. Serangan lain juga terjadi di dekat titik perlintasan berbeda. Menurut operator kereta api Ukraina, serangan terhadap kereta terjadi beberapa menit setelah delegasi diplomatik, termasuk mantan PM Inggris Boris Johnson dan mantan PM Swedia Carl Bildt, melewati stasiun tersebut.

Menteri Pertahanan Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz mengatakan pihaknya juga menemukan benda yang diduga drone militer Rusia di Laut Baltik, dekat Jaroslawiec.

PM Polandia Donald Tusk memperingatkan Rusia kemungkinan meningkatkan serangan dan aksi sabotase di wilayah perbatasan. Polandia pun akan berkonsultasi dengan sekutu NATO untuk menyiapkan respons bersama.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengklaim Rusia dan Ukraina telah sepakat menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing. Namun, kedua negara belum mengonfirmasi klaim tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut penghentian serangan terhadap fasilitas vital dapat menjadi langkah awal menuju perdamaian. Namun, Kremlin masih menuntut Ukraina menyerahkan wilayah dan melakukan demiliterisasi. [Aljazeera, Reuters, AP]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI