DIALEKSIS.COM | Kyiv - Rusia melancarkan salah satu serangan rudal balistik terbesar ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Minggu (19/7/2026). Serangan tersebut terjadi setelah Ukraina lebih dulu menggempur sejumlah target strategis di wilayah Rusia menggunakan drone.
Sedikitnya delapan orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan rudal dan drone Rusia di berbagai wilayah Ukraina.
Di Kyiv, satu orang meninggal dunia dan 15 lainnya terluka. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengatakan sejumlah bangunan tempat tinggal, gudang, supermarket, hingga asrama mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan udara ke Kyiv sebagai salah satu serangan rudal balistik terbesar sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022.
Selain Kyiv, tiga warga sipil juga dilaporkan tewas dalam serangan Rusia di wilayah Kharkiv, Ukraina timur laut.
Angkatan Udara Ukraina menyatakan berhasil mencegat 18 rudal serta 108 drone dari total 126 drone yang diluncurkan Rusia. Dari keseluruhan serangan tersebut, Rusia disebut menembakkan 25 rudal balistik.
Serangan Rusia ini terjadi sehari setelah Ukraina melancarkan serangan drone besar-besaran ke wilayah Rusia.
Dalam serangan itu, dua gudang milik Wildberries, perusahaan ritel daring terbesar di Rusia, serta sebuah depot minyak dilaporkan hancur. Sedikitnya sembilan orang tewas dan lebih dari 80 lainnya terluka. Serangan tersebut disebut sebagai serangan drone Ukraina paling mematikan di wilayah Rusia dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh 379 drone Ukraina di 19 wilayah.
Zelenskyy mengatakan target serangan Ukraina merupakan fasilitas yang digunakan Rusia untuk memasok komponen yang terkena sanksi internasional guna memproduksi drone serta peralatan navigasi.
Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina juga meningkatkan serangan terhadap sektor energi Rusia. Drone angkatan laut Ukraina dilaporkan menyerang dua kapal tanker minyak mentah yang terkait dengan Rusia, Louise 1 dan Banda, di Laut Hitam. Jalur tersebut menjadi salah satu rute penting ekspor minyak Rusia melalui laut.
Di tengah meningkatnya eskalasi perang, Ketua Komite Militer NATO Giuseppe Cavo Dragone menegaskan aliansi tersebut siap menghadapi kemungkinan langkah Rusia terhadap negara-negara di sayap timur NATO.
Menurutnya, Rusia akan menghadapi konsekuensi besar apabila melakukan tindakan terhadap Polandia maupun negara-negara Baltik seperti Lithuania, Latvia, dan Estonia.
Meski demikian, NATO tetap menegaskan bahwa gencatan senjata dan perundingan damai jangka panjang bagi Ukraina masih menjadi tujuan utama aliansi.
Sementara itu, Zelenskyy kembali mendesak negara-negara sekutu untuk memperkuat bantuan sistem pertahanan udara, khususnya rudal pencegat balistik.
Ia mengungkapkan Ukraina dan Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan politik terkait lisensi produksi rudal pencegat Patriot, dengan harapan produksi dapat dimulai sebelum akhir tahun. [cnbc]