Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Perang Iran–AS Buka Peluang, Rusia Raup Keuntungan dari Lonjakan Permintaan Energi

Perang Iran–AS Buka Peluang, Rusia Raup Keuntungan dari Lonjakan Permintaan Energi

Jum`at, 06 Maret 2026 23:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: Reuters/Evgenia Novozhenina


Dialeksis.com | Moskow - Konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat yang berlangsung dalam sepekan terakhir disebut membawa keuntungan ekonomi bagi Rusia. Pemerintah Rusia menyatakan perang di kawasan Timur Tengah itu mendorong lonjakan permintaan terhadap energi dari Moskow.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan situasi konflik membuat banyak negara mencari sumber pasokan energi alternatif yang lebih stabil.

“Kami melihat adanya peningkatan yang signifikan dalam permintaan terhadap sumber energi Rusia seiring dengan perang yang terjadi di Iran,” kata Peskov pada Jumat (6/3), seperti dikutip Al Jazeera.

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah pemerintah Amerika Serikat memberikan keringanan selama 30 hari yang memungkinkan India tetap membeli minyak dari Rusia, meskipun perdagangan energi global tengah terganggu akibat eskalasi konflik.

Ketegangan antara Iran, AS, dan Israel juga berdampak pada jalur strategis energi dunia, yakni Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital tersebut dilaporkan hampir sepenuhnya tertutup akibat meningkatnya risiko keamanan.

Penutupan jalur ini berpotensi mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta perdagangan gas alam cair (LNG), sehingga banyak negara mulai mencari alternatif pasokan energi.

Meski demikian, Peskov menegaskan Rusia tetap menjadi pemasok energi yang andal, baik melalui jaringan pipa maupun pengiriman gas alam cair.

Di tengah situasi tersebut, Rusia juga dilaporkan menjual minyak mentah jenis Urals ke India dengan harga premium sekitar US$4 hingga US$5 di atas harga acuan Brent per barel untuk pengiriman Maret hingga awal April.

Namun, Kremlin belum mengungkapkan secara rinci berapa volume tambahan minyak yang kemungkinan akan diekspor ke India setelah adanya keringanan dari Washington.

Sementara itu, analis energi dari Financial University Rusia, Igor Yushkov, menilai konflik di kawasan Teluk justru menciptakan peluang ekonomi bagi Moskow.

“Konflik di Selat Hormuz menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi peningkatan pendapatan Rusia dari ekspor energi,” ujarnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI