Senin, 12 Oktober 2026
Beranda / Berita / Dunia / Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Laut, Jangkauan Salah Satunya Tembus 900 Km

Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Laut, Jangkauan Salah Satunya Tembus 900 Km

Senin, 12 Oktober 2026 11:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Personel militer Korea Utara memberikan penghormatan kepada patung mendiang pemimpin Kim Il Sung dan Kim Jong Il dalam rangka memperingati hari jadi ke-81 Partai Pekerja Korea di Bukit Mansu, Pyongyang, pada 10 Oktober 2026 [Foto: Kim Won Jin/AFP]


DIALEKSIS.COM | Seoul - Militer Korea Selatan melaporkan Korea Utara meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah perairan lepas pantai timur pada Senin (12/10/2026).

Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan menyebut salah satu rudal tersebut terbang lebih dari 900 kilometer setelah diluncurkan dari wilayah Pyongyang. Namun, militer Seoul belum mengungkapkan jumlah pasti rudal yang terdeteksi.

Penjaga Pantai Jepang juga melaporkan adanya dua proyektil tak dikenal yang diduga merupakan rudal balistik. Kedua proyektil tersebut diperkirakan telah jatuh.

Kantor Kepresidenan Korea Selatan mengecam peluncuran berulang yang dilakukan Pyongyang karena dinilai melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Seoul pun mendesak Korea Utara segera menghentikan tindakan tersebut.

Peluncuran terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, menyusul aktivitas uji coba persenjataan yang dilakukan kedua negara.

Diduga Respons atas Uji Coba Rudal Hipersonik Korsel

Juru bicara JCS, Jang Do-young, mengatakan peluncuran rudal Korea Utara diduga menjadi unjuk kekuatan setelah Korea Selatan melakukan uji coba rudal hipersonik.

Pada Kamis sebelumnya, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyaksikan langsung uji coba pertama rudal hipersonik negaranya. Langkah tersebut terbilang tidak biasa karena memperlihatkan pengujian senjata strategis kepada publik.

Kantor kepresidenan menyatakan rudal hipersonik itu, apabila dikembangkan sepenuhnya, berpotensi meningkatkan kemampuan Seoul untuk menyerang target penting secara mendadak di kawasan Semenanjung Korea.

Sementara itu, pada 3 Oktober, Korea Utara juga menguji rudal hipersonik jarak menengah yang dirancang untuk menghindari sistem pertahanan rudal Korea Selatan dan Jepang.

Ketegangan Perbatasan Ikut Memanas

Hubungan kedua Korea semakin tegang setelah ledakan ranjau darat melukai tiga tentara di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua negara.

Investigasi gabungan Korea Selatan dan PBB menyimpulkan dua ranjau tersebut ditanam oleh pasukan Korea Utara sekitar setahun sebelumnya. Namun, Pyongyang membantah tuduhan itu dan balik menuding Seoul melakukan provokasi.

Sebelumnya, Korea Selatan menyatakan tengah melakukan koordinasi awal untuk membuka jalan bagi dialog antara Korea Utara dan Amerika Serikat.

Presiden Lee Jae Myung sendiri telah berjanji membuka kembali dialog dengan Pyongyang sejak pidato pertamanya setelah menjabat pada 2025.

Namun, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un masih terus mengembangkan program senjata nuklir dan menolak tawaran Seoul serta Washington untuk melanjutkan diplomasi.

Perundingan Kim Jong Un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan pada 2019. Hingga kini, Pyongyang menuntut Washington mengakhiri kebijakan yang dianggap bermusuhan serta mencabut tuntutan denuklirisasi sebagai prasyarat dialog. [AP, Reuters/Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI