DIALEKSIS.COM | Internasional - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, dipicu meningkatnya ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu pasokan energi global.
Dikutip dari CNBC pada Sabtu, 7 Maret 2026, harga minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 12,21 persen atau US$ 9,89 menjadi US$ 90,90 per barel. Sementara itu, harga minyak acuan global Brent meningkat 8,52 persen atau US$ 7,28 menjadi US$ 92,69 per barel.
Secara mingguan, harga WTI melonjak 35,63 persen. Kenaikan ini menjadi yang terbesar dalam sejarah kontrak berjangka sejak 1983. Adapun harga Brent naik sekitar 28 persen, menjadi lonjakan mingguan terbesar sejak April 2020.
Lonjakan harga minyak terjadi di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pada Jumat, Presiden AS Donald Trump menuntut Iran menyerah tanpa syarat. Pernyataan itu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan perang berkepanjangan yang berpotensi mengganggu pasar minyak dan gas global.
Konflik tersebut juga berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis bagi distribusi energi dunia. Lalu lintas kapal di kawasan itu dilaporkan hampir terhenti.
Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi mengatakan kepada Financial Times bahwa harga minyak mentah berpotensi mencapai US$ 150 per barel dalam beberapa pekan mendatang jika kapal tanker minyak tidak dapat melintasi Selat Hormuz.
“Hal ini bisa meruntuhkan perekonomian dunia,” kata Kaabi.
Pemerintahan Trump pada Jumat juga mengumumkan program asuransi senilai US$ 20 miliar untuk kapal tanker minyak yang beroperasi di Teluk Persia. Namun langkah tersebut belum banyak meredakan kekhawatiran pasar minyak global.
Di sisi lain, Irak dilaporkan telah menghentikan produksi minyak sekitar 1,5 juta barel per hari. Informasi ini disampaikan dua pejabat Irak kepada Reuters pada Selasa lalu. Kuwait juga mulai mengurangi produksi minyak karena kapasitas penyimpanan yang terbatas.
Analis pasar Kaneva memperkirakan pengurangan produksi minyak dapat mencapai 6 juta barel per hari pada akhir pekan depan jika Selat Hormuz masih tertutup bagi lalu lintas kapal.
Bank investasi JPMorgan juga memperkirakan Uni Emirat Arab akan menghadapi kendala pasokan minyak pada pekan depan.
Dampak kenaikan harga minyak juga mulai dirasakan di Amerika Serikat. Data dari organisasi perjalanan AAA menunjukkan harga rata-rata bensin reguler naik hampir 27 sen dalam sepekan terakhir hingga Kamis menjadi US$ 3,25 per galon.
Perang antara Iran dan Amerika Serikat telah memasuki hari ketujuh pada Jumat. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam konferensi pers pada Kamis mengatakan bahwa Amerika Serikat baru saja memulai pertempuran.