DIALEKSIS.COM | Caracas - Tim penyelamat masih berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang tertimbun reruntuhan setelah gempa kembar mengguncang Venezuela. Hingga tiga hari pascabencana, sedikitnya 920 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 51.000 lainnya masih tercatat hilang.
Dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi pada Rabu menghancurkan wilayah pesisir, terutama di sekitar La Guaira. Pemerintah mulai membatasi akses menuju kawasan tersebut karena kepadatan lalu lintas dinilai menghambat proses pencarian dan evakuasi.
Di tengah keterbatasan jumlah tim penyelamat, banyak warga berusaha menyelamatkan korban secara mandiri dengan menggali puing-puing menggunakan tangan. Organisasi kemanusiaan mengingatkan bahwa peluang menemukan korban selamat semakin kecil karena masa emas penyelamatan selama 72 jam hampir berakhir.
Pemerintah Venezuela mewajibkan setiap orang yang ingin memasuki kawasan terdampak di sekitar La Guaira untuk memperoleh izin resmi, meski belum menjelaskan secara rinci mekanisme pemberian izin tersebut.
Presiden Majelis Nasional Jorge Rodriguez menegaskan pemerintah tidak akan menutupi besarnya dampak bencana tersebut.
"Setiap orang yang berhasil diselamatkan adalah sebuah keajaiban. Kami sama sekali tidak akan menyembunyikan apa pun tentang besarnya tragedi ini," ujarnya.
Pemerintah juga menyalurkan bantuan makanan dan air bersih kepada para penyintas. Pelaksana Tugas Presiden Delcy Rodriguez mengatakan seluruh kemampuan negara dikerahkan untuk menyelamatkan korban yang masih hidup pada masa-masa kritis ini.
Ia juga menyambut kedatangan bantuan kemanusiaan serta tim penyelamat dari berbagai negara. Menurut pemerintah, sedikitnya 861 relawan internasional dari Amerika Serikat, Meksiko, El Salvador, Swiss, Kolombia, dan sejumlah negara lainnya telah tiba di Venezuela, sementara tim tambahan masih dalam perjalanan.
Delcy Rodriguez menyebut wilayah La Guaira kini berada di bawah pengamanan ketat militer. Namun, sejumlah warga menilai bantuan yang datang masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan para korban.
Sementara itu, jumlah korban diperkirakan terus meningkat. Basis data digital independen mencatat puluhan ribu laporan orang hilang, meski sebagian kemungkinan merupakan laporan ganda atau berasal dari individu yang kehilangan akses komunikasi akibat terputusnya jaringan telepon.
Hingga Jumat, lebih dari 3.300 orang mengalami luka-luka dan 243 korban berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan bencana ini dapat berdampak pada sekitar 6,76 juta penduduk, termasuk sekitar dua juta warga yang berada di Caracas.
Para ahli menilai besarnya kerusakan dipicu oleh rangkaian gempa dangkal yang terjadi dalam waktu berdekatan. Kondisi tersebut membuat banyak bangunan mengalami keruntuhan hebat dan memicu kekhawatiran warga untuk kembali ke rumah mereka.
Direktur Regional Palang Merah Internasional untuk Amerika, Loyce Pace, mengatakan banyak penyintas masih memilih bertahan di tempat terbuka karena khawatir akan terjadi gempa susulan dan bangunan yang tersisa tidak lagi aman. [Aljazeera, AP]
