DIALEKSIS.COM | Internasional - Amerika Serikat (AS) selama ini dinilai tidak pernah berani mengambil langkah militer langsung terhadap Korea Utara (Korut), meski negara tersebut secara terbuka mengembangkan senjata nuklir.
Korea Utara bahkan tercatat sebagai salah satu dari sembilan negara di dunia yang memiliki senjata pemusnah massal tersebut. Kondisi ini berbeda dengan Iran, yang pernah menjadi sasaran serangan AS dengan tuduhan tengah mengembangkan program nuklir.
Pada 2018 lalu, Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un dalam pidato Tahun Baru yang disiarkan televisi menyatakan bahwa AS tidak akan berani memulai perang dengan negaranya.
Kim menyebut Korea Utara telah berhasil mengembangkan senjata nuklir yang mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.
“Seluruh wilayah Amerika Serikat sekarang berada dalam jangkauan senjata nuklir kita, dan tombol senjata nuklir itu ada di meja saya. Ini adalah realitas, bukan ancaman,” ujar Kim Jong Un dalam pidato tersebut.
Kim juga menegaskan bahwa negaranya akan terus fokus mengembangkan hulu ledak nuklir dan rudal balistik agar siap dikerahkan.
“Tahun ini kami berkonsentrasi mengembangkan kepala nuklir dan rudal balistik untuk bisa dikerahkan,” kata Kim.
Menurutnya, senjata tersebut hanya akan digunakan apabila keamanan Korea Utara berada dalam ancaman.
Sementara itu, laman para ilmuwan atom The Bulletin memaparkan sejumlah alasan mengapa AS sulit menekan Korea Utara. Pertama, Washington dinilai tidak memiliki pengaruh ekonomi yang cukup kuat untuk memaksa Pyongyang tunduk melalui tekanan ekonomi.
Kedua, superioritas nuklir AS justru membuat Kim Jong Un semakin memandang senjata nuklir sebagai alat penting untuk mempertahankan kelangsungan rezimnya.
Korea Utara disebut harus terus menunjukkan keteguhan dalam menghadapi setiap krisis agar tidak tampak lemah di mata lawan-lawannya. Sikap inilah yang membuat Pyongyang mampu bertahan dan menolak tuntutan dari negara-negara yang secara kekuatan jauh lebih besar.
Dengan demikian, kepemilikan senjata nuklir menjadi salah satu faktor utama yang membuat Korea Utara memiliki posisi tawar kuat dan tidak mudah tunduk terhadap tekanan Amerika Serikat.