Selasa, 26 Mei 2026
Beranda / Liputan Khusus / Diaspora / Safur Baktiar: Tragedi Kuala Batu Jadi Bab Lama Relasi Aceh dan Amerika

Safur Baktiar: Tragedi Kuala Batu Jadi Bab Lama Relasi Aceh dan Amerika

Senin, 25 Mei 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Warga Aceh yang menetap di Harrisburg, Amerika Serikat, Safur Baktiar. Foto: doc Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Harrisburg - Warga Aceh yang menetap di Harrisburg, Amerika Serikat, Safur Baktiar, mengingatkan kembali salah satu peristiwa penting dalam sejarah hubungan Aceh dan Amerika Serikat, yakni serangan Angkatan Laut Amerika ke Kuala Batu, Aceh, pada Februari 1832.

Peristiwa yang dikenal sebagai Ekspedisi Sumatra Pertama itu terjadi setelah kapal dagang Amerika Serikat, Friendship, diserang dan dijarah di Kuala Batu pada Februari 1831 saat berlayar untuk membeli lada. Dalam insiden tersebut, sejumlah awak kapal tewas, sementara Kapten Charles M. Endicott berhasil selamat dan kembali melaporkan peristiwa itu ke pemerintah Amerika Serikat.

Menurut Safur, kisah Kuala Batu menunjukkan bahwa Aceh sejak abad ke-19 sudah berada dalam pusaran perdagangan global. Komoditas lada membuat pantai barat Aceh menjadi salah satu titik penting bagi kapal-kapal asing, termasuk dari Amerika.



“Serangan Amerika ke Kuala Batu pada 1832 bukan peristiwa kecil. Ini bagian dari sejarah panjang bagaimana Aceh pernah berhubungan langsung dengan kekuatan dagang dan militer dunia,” kata Safur Baktiar kepada Dialeksis, Senin (25/5/2026).

Setelah laporan Kapten Endicott sampai ke Amerika, Presiden Andrew Jackson memerintahkan kapal perang USS Potomac di bawah pimpinan Komodor John Downes berlayar ke perairan Sumatra. Kapal itu tiba di Kuala Batu pada 5 Februari 1832 dan disebut menyamar sebagai kapal dagang Denmark untuk menjaga unsur kejutan.

Safur mengatakan, serangan itu kemudian berubah menjadi operasi militer besar. Pasukan marinir dan pelaut Amerika mendarat, menyerbu benteng pertahanan lokal, lalu membombardir kawasan Kuala Batu.

“Dalam catatan sejarah, serangan itu menewaskan ratusan penduduk lokal. Sementara di pihak Amerika, dua orang tewas dan sejumlah lainnya terluka. Ini tragedi kemanusiaan yang harus dibaca secara jernih,” ujarnya.

Sejumlah catatan menyebut korban di pihak Kuala Batu mencapai ratusan orang. Historia mencatat lebih dari 450 penduduk Kuala Batu tewas, termasuk warga sipil, sedangkan sumber sejarah Melayu menyebut lebih dari 150 orang tewas dalam serangan darat dan lebih dari 300 lainnya tewas akibat bombardir desa.

Safur menilai, peristiwa itu tidak cukup dilihat hanya dari sudut pembalasan Amerika atas penyerangan kapal dagang. Menurutnya, konteks perdagangan lada, relasi kuasa, serta ketegangan antara pedagang asing dan masyarakat lokal juga perlu dibaca secara berimbang.

“Jangan hanya dibaca sebagai tindakan perompakan lalu dibalas perang. Ada konteks ekonomi, perdagangan lada, dan relasi yang tidak setara antara pedagang asing dan masyarakat lokal,” kata Safur.

Ia menambahkan, warga Aceh di perantauan, terutama yang tinggal di Amerika, perlu mengenal bab sejarah ini. Bukan untuk membuka luka lama, melainkan agar generasi Aceh memahami bahwa daerahnya pernah menjadi bagian dari jalur penting perdagangan dunia.

“Bagi kami yang tinggal di Amerika, kisah Kuala Batu ini terasa dekat. Ada jejak Aceh dalam sejarah Amerika, walau jejak itu lahir dari tragedi,” ucapnya.


Dalam sejumlah rujukan sejarah, Ekspedisi Sumatra Pertama disebut sebagai salah satu operasi militer luar negeri awal Amerika Serikat di Asia. Naval History and Heritage Command juga mencatat peristiwa Sumatra 1832 sebagai bagian dari penggunaan kekuatan bersenjata Amerika di luar negeri, ketika pasukan laut mendarat untuk menghukum kawasan Quallah Battoo atau Kuala Batu atas gangguan terhadap pelayaran Amerika.

Safur berharap peristiwa Kuala Batu mendapat ruang lebih besar dalam literasi sejarah Aceh. Menurutnya, sejarah seperti ini dapat menjadi bahan refleksi tentang perdagangan, kedaulatan, dan posisi Aceh dalam hubungan internasional sejak masa lampau.

“Ini bukan sekadar cerita kapal, lada, dan meriam. Ini pelajaran tentang kehormatan, diplomasi yang gagal, dan mahalnya konflik ketika kepentingan dagang bertemu dengan kekuatan militer,” pungkas Safur.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI