Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Data / Update Terkini Banjir Sumatera, 543 Warga Aceh Meninggal Dunia

Update Terkini Banjir Sumatera, 543 Warga Aceh Meninggal Dunia

Minggu, 04 Januari 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kondisi Krueng Peusangan, Bireun pasca banjir melanda Aceh pada akhir November 2025. Dokumen Mapala Alaska untuk dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Bencana alam hidrometeorologi berskala besar melanda tiga provinsi di wilayah barat Indonesia, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung berhari-hari memicu banjir, longsor, dan luapan sungai di puluhan kabupaten/kota, menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gelombang pengungsian dalam jumlah besar.

Berdasarkan rekapitulasi sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dilihat media dialeksis.com di situs resmi https://gis.bnpb.go.id/bansorsumatera2025/ total dampak bencana di tiga provinsi tersebut mencakup 52 kabupaten/kota, dengan 1.177 jiwa meninggal dunia, 148 orang dinyatakan hilang, serta ratusan ribu warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka

Juru Bicara Media Center Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, menyampaikan bahwa skala bencana kali ini tergolong luar biasa dan membutuhkan penanganan lintas sektor serta dukungan nasional.

“Bencana ini tidak hanya berdampak pada Aceh, tetapi juga Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Data sementara menunjukkan korban jiwa dan kerusakan yang sangat besar, sehingga penanganannya harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan,” ujar Murthalamuddin kepada media dialeksis.com, Minggu (4/1/2026).

Di Provinsi Aceh, bencana hidrometeorologi tercatat melanda 18 kabupaten/kota, mencakup 200 kecamatan dan 3.103 gampong. Jumlah warga terdampak mencapai 670.207 kepala keluarga atau setara 2.581.880 jiwa.

Dari jumlah tersebut, korban jiwa di Aceh tercatat 543 orang meninggal dunia, 31 orang hilang, 4.939 orang mengalami luka ringan, dan 474 orang luka berat. Selain itu, 217 ribu hingga 257.640 jiwa harus mengungsi di 1.008 titik pengungsian yang tersebar di berbagai wilayah.

Kerusakan infrastruktur di Aceh juga sangat signifikan. Tercatat 145.188 rumah warga rusak, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat dan hilang. Fasilitas umum tak luput dari dampak bencana, di antaranya 638 rumah ibadah, 193 fasilitas kesehatan, dan 1.312 sekolah mengalami kerusakan.

Tak hanya itu, 17 jembatan dan 38 ruas jalan dilaporkan rusak berat, menghambat akses distribusi bantuan dan mobilitas warga. Sektor pertanian dan perikanan turut terpukul, dengan 51.335 hektare sawah, 25.074 hektare kebun, serta 39.910 hektare tambak terdampak banjir dan lumpur.

“Kerusakan ini bukan hanya menyangkut bangunan, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat. Banyak sawah, kebun, dan tambak yang rusak total, sehingga pemulihan ekonomi warga akan membutuhkan waktu dan perhatian serius,” jelas Murthalamuddin.

Sementara itu, di Provinsi Sumatera Utara, bencana melanda 18 kabupaten/kota. Data sementara mencatat 365 jiwa meninggal dunia, 60 orang hilang, dan sekitar 13,9 ribu jiwa terpaksa mengungsi akibat banjir dan longsor.

Di Provinsi Sumatera Barat, bencana hidrometeorologi berdampak pada 16 kabupaten/kota, dengan korban 262 jiwa meninggal, 74 orang hilang, dan 10,8 ribu jiwa mengungsi. 

Murthalamuddin menegaskan bahwa saat ini pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, relawan, dan berbagai lembaga kemanusiaan masih memfokuskan upaya pada tanggap darurat, termasuk evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, serta pembukaan akses wilayah yang terisolasi.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan, mengingat kondisi hidrometeorologi di wilayah barat Indonesia masih berpotensi tidak stabil.

“Prioritas utama adalah keselamatan warga, pelayanan kesehatan, dan distribusi logistik. Setelah itu, baru kita masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi,” tutupnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI