‎DIALEKSIS.COM | Jakarta - ‎Perjalanan panjang Habibi di ajang pencarian bakat calon ustadz dan ustadzah, AKSI Indonesia tahun 2026 akan mencapai puncaknya.
‎Pria bernama lengkap Habibi An Nawawi, Lc., M.DIPL ini secara konsisten mempertahankan performa terbaiknya di setiap penampilan, bahkan di Top 4 yang berlangsung Rabu (18/3/2026) pagi tadi, Habibi berhasil mengumpulkan poin tertinggi yakni 389 poin dari 4 dewan juri.
‎Posisi Habibi terpaut 3 poin dari Ustadz Kamal asal Yogyakarta diurutan kedua dan 6 poin dengan Isninda asal Boyolali di peringkat ketiga.‎
‎Luar biasanya, penampilan Habibi berhasil mencuri perhatian dewan juri sehingga Habibi mendapatkan Standing Ovation (SO) dari seluruh dewan Juri diakhir penampilannya.
‎Ketatnya persaingan di babak Top 4 memaksakan Rizkom dari Bekasi harus Wassalam dan meninggalkan panggung AKSI Indonesia 2026 setelah berhasil mengumpulkan 382 poin dan hanya selisih 1 poin dari Isninda.
‎Ketiga peserta akan kembali bersaing menyampaikan tausiah terbaik mereka di babak Grand Final AKSI Indonesia 2026 nanti malam, Rabu (18/3/2026) LIVE di INDOSIAR mulai pukul 20.00 WIB.
‎Dalam Tausiyahnya yang menggetarkan panggung AKSI, Habibi mengangkat tema "Antara Logika dan Hasrat, Menata Akal Mengendalikan Syahwat".
‎‎Putra Abon Sabirin Nawi ini mengupas pertentangan antara akal dan nafsu dalam kehidupan manusia, dengan menyoroti pentingnya ilmu sebagai penopang akal dan bahaya nafsu yang tidak terkendali.
‎Disampaikan dua tipikal manusia, yaitu pemuas yang mengikuti nafsu tanpa memperhatikan aturan, dan penyelaras yang mampu menyeimbangkan keinginan dengan tuntunan agama.
‎Habibi menekankan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang melahirkan ketakwaan, bukan sekadar kecerdasan. ‎Ilmu yang bermanfaat adalah yang tidak hanya menambah kecerdasan, tetapi juga meningkatkan ketakwaan kepada Allah. ‎Orang berilmu pun bisa tersesat jika ilmunya tidak diiringi rasa takut kepada Allah.
‎Menundukkan hawa nafsu diakui sebagai bentuk jihad terbesar, dengan balasan surga bagi yang berhasil.
‎Habibi berpesan setiap individu diharapkan mampu menata akal dan mengendalikan nafsu dalam mengambil keputusan. Keseimbangan antara logika dan hasrat menjadi kunci untuk tidak terjerumus pada kepuasan semu.
‎Kesimpulannya, hidup akan bermakna jika akal yang ditopang ilmu mampu mengendalikan nafsu, sehingga manusia tidak menjadi budak keinginan sendiri. [**]
Penulis: Aduwina Pakeh, S. Sos., M.Sc (‎Dosen Prodi Ilmu Administrasi Negara - UTU, juga Sekretaris PCNU Aceh Barat)