DIALEKSIS.COM | Internasional - Serangkaian serangan Iran terhadap Israel dalam konflik yang berlangsung sejak 2024 hingga 2026 menunjukkan adanya kerusakan fisik yang dapat diverifikasi, meski tingkat dampaknya kerap berbeda antara pernyataan resmi Israel, laporan media internasional, dan klaim dari pihak Iran.
Berdasarkan pernyataan resmi Israel, laporan Reuters dan Associated Press (AP), serta bukti citra satelit komersial, kerusakan paling jelas terlihat di Pangkalan Udara Nevatim di Israel selatan, sejumlah bangunan sipil di Tel Aviv, serta infrastruktur perkotaan di Arad dan Dimona pada fase perang tahun 2026.
Serangan langsung Iran pertama yang diakui luas terhadap Israel terjadi pada malam 13 - 14 April 2024. Dalam pengarahan resminya, juru bicara Israel Defense Forces (IDF) Laksamana Muda Daniel Hagari menyebut Iran meluncurkan lebih dari 300 ancaman, terdiri atas sekitar 170 drone, lebih dari 30 rudal jelajah, dan lebih dari 120 rudal balistik. IDF menyatakan 99 persen ancaman berhasil dicegat, sementara sebagian kecil rudal balistik sempat jatuh di area Pangkalan Udara Nevatim dan menyebabkan kerusakan ringan pada infrastruktur. IDF juga menyebut ada kerusakan pada sebuah jalan di wilayah Gunung Hermon.
Meski Israel menilai dampaknya terbatas, bukti independen memperkuat bahwa memang terjadi kerusakan nyata. AP, melalui analisis citra satelit Planet Labs, melaporkan adanya perbaikan pada taxiway di Nevatim, yang konsisten dengan video perbaikan yang sebelumnya dirilis militer Israel. Namun, pangkalan itu tetap beroperasi, dan tidak ada laporan korban jiwa dalam pernyataan resmi Israel pada saat itu.
Fase berikutnya terjadi pada 1 Oktober 2024. Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan IDF, Kepala Staf militer Israel menyebut Iran menembakkan sekitar 200 rudal dan menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi relatif kecil. Tel Nof Airbase dilaporkan tetap berfungsi normal. Di sisi lain, citra satelit Planet Labs yang dipublikasikan AP menunjukkan lubang besar pada atap hanggar di Nevatim, menandakan adanya kerusakan struktural yang bisa diverifikasi secara visual.
Kerusakan juga tercatat di wilayah sipil. Laporan media menyebut sebuah sekolah di Gedera mengalami kerusakan berat akibat hantaman rudal, meski tidak ada korban luka di lokasi tersebut. Dari sisi ekonomi, Otoritas Pajak Israel memperkirakan kerugian properti swasta mencapai 150–200 juta shekel, berdasarkan ribuan klaim kompensasi atas kerusakan bangunan, kendaraan, dan isi rumah.
Memasuki perang yang dimulai pada 28 Februari 2026, tingkat kerusakan yang terverifikasi terlihat lebih besar dan semakin menyentuh kawasan sipil serta fasilitas penerbangan. AP melaporkan bahwa layanan ambulans Israel, Magen David Adom, menyatakan seorang perempuan di area Tel Aviv meninggal setelah terluka dalam serangan rudal Iran pada malam 28 Februari 2026. Media Israel juga melaporkan adanya kerusakan parah pada sebuah blok residensial, meski rincian teknis mengenai titik jatuh dan jenis hulu ledak tidak selalu dipublikasikan secara lengkap.
Kerusakan pada infrastruktur penerbangan juga tercatat pada 18 Maret 2026. Reuters melaporkan Israel Airports Authority menyatakan tiga jet privat yang terparkir di Bandara Ben Gurion mengalami kerusakan parah akibat serpihan rudal yang berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel. The Times of Israel menambahkan bahwa satu pesawat dilaporkan terbakar, sementara dua lainnya mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda. Otoritas bandara menyebut ketiga pesawat itu rusak akibat debris pencegatan.
Puncak kerusakan sipil pada fase ini terjadi pada serangan 21–22 Maret 2026 di Dimona dan Arad. AP melaporkan rudal Iran menghantam dua komunitas di Israel selatan dan menyebabkan kerusakan luas pada bangunan-bangunan di lokasi terdampak. Di Arad, pekerja penyelamat yang dikutip AP menyebut sedikitnya 10 blok apartemen terdampak, dengan tiga di antaranya berisiko runtuh, dan setidaknya 64 orang dibawa ke rumah sakit. Reuters melaporkan dua rudal yang tidak berhasil dicegat menyebabkan lantai-lantai apartemen terbuka, memunculkan kawah, serta merusak sedikitnya delapan bangunan di Arad. Video yang diverifikasi Reuters juga menunjukkan api melalap lantai teratas sebuah apartemen sesaat setelah serangan.
Dalam konteks fasilitas nuklir dekat Dimona, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan tidak menerima laporan adanya kerusakan maupun peningkatan radiasi abnormal di pusat penelitian nuklir Israel di kawasan tersebut.
Secara keseluruhan, rangkaian serangan itu memperlihatkan perbedaan yang cukup jelas antara klaim resmi Israel, narasi Iran, dan bukti yang berhasil diverifikasi media internasional. Pada serangan April 2024, Israel mengakui adanya kerusakan minor di Nevatim dan Hermon, sementara analisis citra satelit menunjukkan adanya perbaikan yang konsisten dengan dampak serangan. Pada serangan Oktober 2024, Israel kembali menekankan bahwa dampaknya terbatas, tetapi bukti visual memperlihatkan kerusakan struktural yang nyata di Nevatim.
Sementara itu, pada perang 2026, verifikasi menjadi lebih menantang karena tingginya intensitas serangan dan maraknya disinformasi. AFP Fact Check, misalnya, mendokumentasikan adanya materi visual keliru yang disebarkan sebagai seolah-olah memperlihatkan serangan di Tel Aviv, padahal rekaman tersebut berasal dari peristiwa lain. Karena itu, laporan dari Reuters dan AP yang mengutip lembaga resmi Israel serta memverifikasi video dan citra lapangan menjadi rujukan paling kuat untuk menilai kerusakan aktual.
Secara keseluruhan, konflik ini menunjukkan bahwa di tengah derasnya klaim dari masing-masing pihak, fakta di lapangan tidak selalu mudah dipastikan. Perbedaan informasi menjadi hal yang tak terhindarkan, sehingga verifikasi dari sumber independen tetap menjadi kunci untuk memahami gambaran sebenarnya dari dampak konflik yang terus berkembang ini.