Minggu, 01 November 2026
Beranda / Berita / Aceh / Sejarah Aceh Tak Hanya Soal Perang, Diplomasi dan Perdagangan Juga Perlu Diungkap

Sejarah Aceh Tak Hanya Soal Perang, Diplomasi dan Perdagangan Juga Perlu Diungkap

Sabtu, 31 Oktober 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Akademisi, peneliti, sekaligus antropolog budaya asal Aceh, Dr. Muhajir Al-Fairusy. Dokumen untuk dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sejarah Aceh selama ini kerap diwariskan melalui kisah peperangan, perlawanan terhadap penjajah, dan kepahlawanan tokoh-tokoh besar. 

Narasi tersebut memang menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat Aceh. Namun, jika sejarah hanya dilihat dari sudut perjuangan bersenjata, ada banyak sisi kehidupan masa lalu yang berisiko terabaikan.

Akademisi, peneliti, sekaligus antropolog budaya asal Aceh, Dr. Muhajir Al-Fairusy, menilai pemahaman sejarah Aceh perlu diperluas.

 Menurutnya, sejarah tidak semestinya hanya menjadi ruang untuk mengenang kejayaan dan perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan untuk memahami perjalanan peradaban masyarakat.

Muhajir yang saat ini aktif sebagai pengajar dan peneliti di STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh, mengatakan salah satu persoalan dalam pewarisan sejarah Aceh adalah kecenderungan menempatkan masa lalu dalam kerangka romantisme, terutama melalui narasi peperangan, perlawanan, dan kepahlawanan.

"Menurut saya, salah satu kesalahan terbesar kita dalam memahami dan mewariskan sejarah Aceh adalah terlalu sering menempatkan sejarah dalam kerangka romantisme masa lalu, terutama melalui narasi peperangan, perlawanan, dan kepahlawanan. Kita memang memiliki sejarah perjuangan yang panjang dan penting, tetapi sejarah Aceh sesungguhnya jauh lebih luas daripada itu," ujarnya kepada media dialeksis.com, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, dominasi kisah peperangan dalam narasi sejarah juga tidak terlepas dari kebudayaan maskulinitas yang berkembang dalam masyarakat. 

Akibatnya, pengalaman sejarah yang berkaitan dengan perdagangan, pendidikan, diplomasi, pengetahuan, lingkungan, dan kehidupan sosial belum mendapatkan perhatian yang seimbang.

Padahal, menurut Muhajir, sejarah juga berbicara tentang bagaimana masyarakat membangun peradaban, mengembangkan pengetahuan, menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik, mengelola lingkungan, serta merawat kehidupan sosial dan kebudayaan.

Ia menegaskan, persoalannya bukan karena masyarakat terlalu banyak mengingat perjuangan para pahlawan, melainkan belum cukup memberikan ruang bagi dimensi sejarah lainnya.

Akibatnya, sejarah terkadang diwariskan sebagai sesuatu yang harus dikagumi, bukan sebagai pengetahuan yang perlu dipahami, diuji, dan direfleksikan.

Kondisi tersebut berisiko membuat generasi muda hanya mengenal masa lalu Aceh melalui simbol-simbol kepahlawanan. 

Mereka mungkin mengetahui nama tokoh dan peristiwa besar, tetapi belum tentu memahami bagaimana masyarakat pada masa itu berpikir, bekerja, berdagang, mengembangkan pendidikan, menyelesaikan konflik, dan menghadapi perubahan.

"Jika cara pandang ini terus dipertahankan, ada risiko generasi muda hanya mengenal masa lalu Aceh melalui simbol-simbol kepahlawanan, tetapi kurang memahami proses sosial, ekonomi, intelektual, dan kebudayaan yang membentuk masyarakat Aceh," katanya.

Muhajir berpandangan, salah satu fungsi penting mempelajari sejarah adalah membangun kemampuan masyarakat dalam membaca persoalan masa kini.

Menurutnya, kebanggaan terhadap masa lalu tidak cukup menjadi modal untuk membangun masa depan. Masyarakat juga perlu memahami keberhasilan dan kegagalan yang pernah terjadi agar pengalaman sejarah dapat menjadi bahan refleksi dalam menghadapi berbagai persoalan.

Ia mencontohkan, Aceh saat ini masih berhadapan dengan berbagai tantangan, mulai dari persoalan lingkungan, ekonomi, pendidikan, kemiskinan, pengelolaan sumber daya alam, hingga perubahan sosial.

Berbagai persoalan tersebut, kata dia, sesungguhnya dapat dibaca melalui pengetahuan sejarah, terutama dengan mempelajari bagaimana masyarakat terdahulu mengelola hubungan dengan lingkungan, membangun jaringan ekonomi, dan mengembangkan pranata sosial.

Karena itu, sejarah seharusnya tidak berhenti sebagai catatan tentang kebesaran masa lalu, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan dan kecerdasan sosial untuk menghadapi masa depan. 

"Generasi muda Aceh perlu memiliki kebanggaan historis, tetapi kebanggaan itu harus disertai kemampuan berpikir kritis. Kita perlu menggeser orientasi dari sekadar mewariskan kebanggaan sejarah menuju membangun kesadaran sejarah," jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat yang memiliki kesadaran sejarah bukan hanya mengetahui asal-usulnya, tetapi juga mampu memahami arah yang ingin dituju.

Selain sejarah kerajaan dan tokoh-tokoh besar, Muhajir menilai sejarah sosial masyarakat perlu mendapat perhatian lebih luas dalam penelitian dan penulisan sejarah Aceh.

Menurutnya, pengalaman nelayan, petani, saudagar, perempuan, masyarakat pesisir, hingga masyarakat kepulauan merupakan bagian penting dari perjalanan peradaban Aceh.

Begitu pula tradisi kuliner, adat istiadat, praktik pengelolaan lingkungan, serta cara masyarakat menyelesaikan persoalan melalui pranata adat.

Berbagai pengalaman tersebut sering kali tidak muncul dalam narasi besar sejarah. Padahal, kehidupan sehari-hari masyarakat justru memperlihatkan bagaimana sebuah peradaban tumbuh, bertahan, dan mengalami perubahan.

Dalam konteks ini, ia melihat pendekatan antropologi memiliki peran penting untuk memperluas cara memahami sejarah.

Sejarah, menurutnya, tidak cukup hanya dibaca melalui arsip kerajaan, dokumen kolonial, dan catatan tokoh-tokoh besar. Peneliti juga perlu mendengarkan ingatan masyarakat, menelusuri tradisi lisan, membaca lanskap budaya, mengamati praktik adat, serta memahami bagaimana masyarakat memaknai pengalaman masa lalunya.

Pendekatan tersebut memungkinkan pengalaman kelompok masyarakat yang selama ini kurang terwakili dalam catatan sejarah mendapatkan ruang untuk didokumentasikan dan dipahami.

Muhajir menilai tantangan ke depan adalah membangun historiografi atau penulisan sejarah Aceh yang lebih berimbang dan inklusif.

Baginya, memperluas narasi sejarah bukan berarti mengurangi nilai perjuangan para pahlawan atau mengabaikan peristiwa peperangan yang telah membentuk perjalanan Aceh.

Sebaliknya, upaya tersebut diperlukan agar masyarakat dapat memahami Aceh secara lebih utuh, termasuk dimensi sosial, ekonomi, intelektual, diplomasi, pendidikan, dan kebudayaannya.

Ia ingin sejarah Aceh tidak hanya dikenal melalui kisah bagaimana masyarakat mempertahankan kedaulatan, tetapi juga bagaimana mereka membangun hubungan dengan dunia luar, mengembangkan perdagangan, menuntut ilmu, mengelola sumber daya alam, dan merawat kehidupan sosial.

"Secara konkret, saya ingin menegaskan bahwa Aceh bukan hanya sejarah tentang bagaimana masyarakatnya berperang dan mempertahankan kedaulatan, tetapi juga sejarah tentang bagaimana mereka berdagang, belajar, berdiplomasi, membangun pengetahuan, mengelola sumber daya alam, dan merawat kehidupan sosialnya," pungkas Muhajir.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI