Jum`at, 30 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / Muda Bentara: Sejarah Aceh Dibayangi Persoalan yang Tak Tuntas

Muda Bentara: Sejarah Aceh Dibayangi Persoalan yang Tak Tuntas

Jum`at, 30 Oktober 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Peneliti lepas sekaligus aktivis Teuku Raja Muda D. Bentara. [Foto: doc pribadi/Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Aceh - Direktur Saman Research Institute (SRI) sekaligus aktivis Teuku Raja Muda D. Bentara menilai sejumlah peristiwa dalam sejarah Aceh berakar pada persoalan lama yang tak tuntas. Sisa persoalan itu, kata dia, dapat menjadi bahan bagi munculnya kejadian berikutnya.

“Sebagian besar sepertinya kelanjutan, sisa dari residu kejadian sebelumnya yang tidak pernah diselesaikan dengan menyeluruh, sehingga selalu ada bahan untuk memulai kejadian baru,” ujarnya kepada Dialeksis saat dihubungi, Jumat (30/10/2026).

Muda Bentara menyampaikan pandangan itu ketika ditanya tentang kemungkinan patahan dalam sejarah Aceh dan kemampuan berbagai riset menjelaskan hubungan antarperistiwa. Dalam pembacaannya, berakhirnya satu kejadian belum tentu menuntaskan persoalan yang melahirkannya.

Soal penyebab, Muda menduga ada kaitan dengan watak serta mekanisme perlindungan dalam masyarakat. “Mungkin karena watak, dan ada mekanisme proteksi yaitu tueng bila dan meukawom,” katanya.

Ia juga menyoroti kuatnya kisah perang dalam ingatan yang diwariskan, dari nyanyian pengantar tidur hingga buku bacaan. “Riwayat-riwayat selalu perkara perang, sejak dodaidi hingga buku bacaan,” tuturnya.

Tueng bila pernah dibahas Agus Budi Wibowo dalam kajian Tueng Bila as a Characteristic and Identity of Acehnese Culture, yang terbit di jurnal Akademika pada 2014. Wibowo mengaitkannya dengan pembelaan harga diri individu, keluarga, dan kelompok.

Kajian itu juga mencatat adanya mekanisme adat untuk mengakhiri pertikaian, antara lain melalui pengakuan kesalahan dan pemberian kompensasi.

Catatan tersebut, menurut Muda, membantu menjelaskan cara masyarakat menghentikan perselisihan dan memulihkan hubungan sosial. Pembahasan tentang tueng bila dengan demikian juga mencakup jalan untuk mengakhiri permusuhan.

Muda menjelaskan, dodaidi pun menyimpan pesan yang beragam. Tulisan mengenai tradisi itu di situs Majelis Adat Aceh Kota Lhokseumawe menyebut syair pengantar tidur tersebut memuat pesan keimanan, penghormatan kepada orang tua, tanggung jawab sosial, keberanian, kepahlawanan, dan kasih sayang.

Pengalaman perlawanan, dalam warisan itu, hadir bersama nilai pendidikan dan kepedulian terhadap sesama. Keragaman tersebut memberi ruang untuk membaca bagaimana masyarakat Aceh mewariskan pengalaman masa lalunya.

Menurut Muda, ketika ingin meluruskan sejarah yang kabur terpenting menelusuri hubungan antarperistiwa membutuhkan pembacaan atas arsip, kesaksian warga, dan konteks sosial. Dugaan tentang persoalan yang terus berulang perlu diuji melalui bukti.

"Pengalaman korban, perempuan, dan masyarakat biasa juga perlu mendapat tempat. Dari kesaksian mereka, dampak sebuah peristiwa terhadap keluarga dan kehidupan sehari-hari dapat dipahami lebih jauh," ungkapnya. 

"Pembacaan yang lebih luas memberi generasi muda kesempatan mengenal keberanian, kemampuan berdialog, serta cara masyarakat menyelesaikan perselisihan. Sejarah Aceh pun dapat dipahami melalui pengalaman membangun pengetahuan, merawat kehidupan, dan menjaga perdamaian," pungkasnya. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI