Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Menjelang Hardiknas 2026, Kadisdik Aceh Tekankan Transformasi Pendidikan yang Inklusif dan Adaptif

Menjelang Hardiknas 2026, Kadisdik Aceh Tekankan Transformasi Pendidikan yang Inklusif dan Adaptif

Jum`at, 01 Mei 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP. [Foto: Kolase Dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP, menyampaikan pandangan dan harapannya terhadap arah pembangunan pendidikan di Aceh ke depan. Ia menekankan pentingnya transformasi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, keterampilan abad 21, serta pemerataan akses pendidikan yang berkualitas.

Menurut Murthalamuddin, momentum Hardiknas harus dimaknai sebagai refleksi bersama atas capaian yang telah diraih sekaligus evaluasi terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi dunia pendidikan, khususnya di Aceh.

“Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi juga proses membangun manusia seutuhnya. Kita perlu memastikan bahwa setiap anak di Aceh, tanpa terkecuali, mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu, relevan, dan berkeadilan,” ujarnya kepada Dialeksis saat dihubungi, 1 Mei 2026. 

Ia menyoroti bahwa di era digital dan perubahan global yang cepat, sistem pendidikan harus mampu beradaptasi. Oleh karena itu, penguatan kompetensi guru menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Kita perlu terus mendorong peningkatan kapasitas guru, baik dalam penguasaan teknologi, metode pembelajaran inovatif, maupun pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Guru adalah ujung tombak perubahan,” tambahnya.

Selain itu, Murthalamuddin juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, sekolah, orang tua, dunia usaha, dan masyarakat harus bergerak bersama dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan produktif.

“Tidak mungkin pendidikan berjalan optimal jika hanya dibebankan kepada sekolah. Perlu sinergi yang kuat antara semua pihak. Dunia usaha, misalnya, dapat berperan dalam penguatan pendidikan vokasi agar lebih link and match dengan kebutuhan industri,” jelasnya.

Dalam pandangannya, pemerataan akses pendidikan di wilayah terpencil juga harus menjadi prioritas. Ia menyebutkan bahwa digitalisasi pendidikan harus diiringi dengan penyediaan infrastruktur yang memadai, termasuk akses internet dan sarana belajar.

“Kita tidak ingin ada kesenjangan digital yang justru memperlebar ketimpangan pendidikan. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur pendidikan harus merata hingga ke pelosok,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Murthalamuddin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Hardiknas 2026 sebagai momentum memperkuat komitmen bersama dalam memajukan pendidikan Aceh.

“Dengan pikiran yang terbuka, semangat kolaboratif, dan langkah yang terarah, saya yakin pendidikan Aceh akan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya. [ra]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI