Selasa, 27 Oktober 2026
Beranda / Berita / Aceh / Ketua IKAN Banda Aceh Minta Polisi Berantas Narkoba hingga ke Akar-akarnya

Ketua IKAN Banda Aceh Minta Polisi Berantas Narkoba hingga ke Akar-akarnya

Selasa, 27 Oktober 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Inspirasi Keluarga Anti Narkoba (IKAN) Kota Banda Aceh, Rusmadi. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Inspirasi Keluarga Anti Narkoba (IKAN) Kota Banda Aceh, Rusmadi, meminta Polisi di Aceh memperkuat pemberantasan narkotika hingga ke akar-akarnya. 

Ia menegaskan, penindakan tidak boleh hanya menyasar pelaku di lapangan, tetapi juga harus membongkar jaringan besar yang memasok dan mengendalikan peredaran narkoba.

Desakan tersebut mengemuka setelah pengungkapan laboratorium pengolahan sabu di Kabupaten Pidie, Aceh, dengan barang bukti yang diberitakan mencapai 1,2 ton.

 Pengungkapan kasus itu melibatkan aparat gabungan, termasuk Mabes Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Bea Cukai.

Rusmadi menilai, pengungkapan kasus berskala besar tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat upaya pemberantasan narkoba di Aceh secara menyeluruh.

“Pemberantasan narkoba harus dilakukan sampai ke akar-akarnya. Jangan hanya menangkap pelaku di lapangan atau menyita barang bukti, tetapi jaringan di balik peredaran narkoba juga harus diungkap,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, penanganan kasus narkotika perlu dilanjutkan dengan penelusuran terhadap pemasok bahan baku, jalur distribusi, sumber pendanaan, serta pihak-pihak lain yang terbukti terlibat dalam jaringan tersebut.

Ia berharap aparat penegak hukum bekerja secara profesional dan transparan agar pengungkapan kasus tidak berhenti pada penangkapan awal.

“Yang paling penting adalah bagaimana jaringan narkoba ini benar-benar diputus. Kalau hanya pelaku tertentu yang ditangkap, sementara pemasok dan pengendali jaringan tidak terungkap, peredaran narkoba berpotensi terus berulang,” ujarnya. 

Rusmadi memandang persoalan narkoba bukan semata-mata masalah hukum, melainkan ancaman serius terhadap keluarga dan masa depan generasi muda. 

Penyalahgunaan narkotika dapat menimbulkan persoalan sosial yang lebih luas sehingga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Karena itu, ia mendorong agar upaya penegakan hukum berjalan beriringan dengan pencegahan melalui edukasi, pengawasan keluarga, dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya narkotika.

“Keluarga dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah penyalahgunaan narkoba. Kita perlu membangun kepedulian bersama agar generasi muda tidak terjerumus dan masyarakat berani melaporkan dugaan peredaran narkotika kepada pihak berwenang,” katanya.

Ia juga berharap masyarakat tidak takut berpartisipasi dalam upaya pencegahan, dengan tetap mengutamakan keselamatan dan menyampaikan informasi kepada aparat melalui saluran yang tepat.

Menurutnya, keberhasilan pemberantasan narkotika perlu dilihat dari kemampuan aparat memutus jaringan peredaran, menindak pihak yang terbukti bertanggung jawab, dan mencegah narkoba kembali menyebar di tengah masyarakat.

Pengungkapan laboratorium sabu di Pidie diharapkan menjadi langkah awal untuk mengungkap jaringan yang lebih luas. 

Penanganan perkara tetap harus didasarkan pada bukti dan proses hukum yang berlaku, dengan menghormati asas praduga tak bersalah.

Rusmadi mengapresiasi langkah kepolisian dalam menggerebek lokasi yang diduga menjadi tempat produksi narkoba di Pidie. Ia berharap pengungkapan tersebut menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih luas. 

"Kita berharap sinergi antara kepolisian, lembaga terkait, pemerintah, keluarga, dan masyarakat semakin kuat sehingga upaya pemberantasan narkoba di Aceh dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan," tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI