Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Jelang Ramadan, Warga Desa Sahraja Aceh Timur Masih Tinggal di Tenda dan Krisis Air Bersih

Jelang Ramadan, Warga Desa Sahraja Aceh Timur Masih Tinggal di Tenda dan Krisis Air Bersih

Minggu, 15 Februari 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur. [Foto: Hendri Abik/Serambi Indonesia]


DIALEKSIS.COM | Idi Rayeuk - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, duka masih menyelimuti warga Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur.

Berbulan-bulan setelah bencana melanda, puluhan keluarga di kampung pedalaman itu masih bertahan di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan.

Ketiadaan akses air bersih menjadi persoalan paling mendesak yang dihadapi warga. Mereka terpaksa mengandalkan satu-satunya sumber air dari alur sungai di sekitar desa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci, hingga kebutuhan sanitasi.

Salah seorang warga, Hasan, menyampaikan langsung kondisi sulit yang mereka alami. Ia mengatakan, hingga kini warga belum mendapatkan fasilitas air bersih yang layak, sehingga terpaksa menggunakan air alur untuk semua keperluan.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kami warga Desa Sahraja memberitahukan kondisi kami saat ini yang sangat kekurangan air. Satu-satunya sumber air adalah air alur, maka kami gunakan semuanya di situ. Untuk mandi di situ, untuk mengambil air di situ, bahkan untuk buang air besar juga di situ,” kata Hasan dalam rekaman video yang diterima Dialeksis.com, Minggu, (15/2/2026).

Saat dikonfirmasi ulang oleh media dialeksis.com, ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat air yang mereka gunakan bercampur dengan limbah, sehingga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bagi warga, terutama anak-anak dan lansia.

“Air itu bercampur dengan kebutuhan kami sehari-hari. Jadi, kami sangat memohon kepada pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan pihak terkait untuk melihat kondisi kami saat ini,” ujarnya.

Menurut Hasan, warga Desa Sahraja saat ini masih tinggal di tenda-tenda darurat yang didirikan di pinggir jalan desa. Selain menghadapi krisis air bersih, mereka juga harus berhadapan dengan kondisi infrastruktur yang rusak parah.

Ia menyebutkan, badan jalan di desa tersebut mengalami kerusakan serius dan berlumpur, sehingga menyulitkan mobilitas warga maupun distribusi bantuan.

“Badan jalan sangat rusak di desa ini. Kami tinggal di tenda di pinggir jalan. Kondisinya sangat memprihatinkan dan sulit dilalui,” katanya.

Warga dari keempat dusun Desa Sahraja ini menghadapi persoalan yang sama, yakni keterbatasan air bersih dan tempat tinggal yang layak.

Kondisi ini semakin terasa berat karena Ramadan tinggal menghitung hari. Bagi warga, bulan suci yang biasanya disambut dengan suka cita kini justru dibayangi kesulitan hidup di pengungsian.

“Kami sangat berharap pemerintah bisa melihat langsung kondisi kami. Apalagi Ramadan sudah dekat, kami ingin bisa menjalani ibadah dengan layak,” tutur Hasan.

Keterbatasan air bersih tidak hanya berdampak pada kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berpotensi memicu krisis kesehatan. Tanpa fasilitas sanitasi yang memadai, risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare dan infeksi kulit menjadi ancaman nyata bagi warga.

Selain itu, kerusakan jalan juga memperparah isolasi desa pedalaman tersebut. Akses yang sulit membuat bantuan tidak selalu dapat menjangkau warga dengan cepat dan merata.

Warga berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat dapat segera mengambil langkah konkret, mulai dari penyediaan air bersih, pembangunan hunian sementara, hingga perbaikan infrastruktur jalan.

“Yang kami butuhkan sekarang adalah air bersih dan tempat tinggal yang layak. Kami berharap pemerintah bisa segera membantu,” pungkas Hasan. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI