DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Aceh menghemat penggunaan air bersih. Imbauan ini disampaikan seiring menurunnya curah hujan di hampir seluruh wilayah Aceh.
BMKG mencatat, berdasarkan pemantauan terkini, intensitas hujan di Aceh berada pada kategori rendah dan diperkirakan kondisi tersebut akan berlangsung hingga 10 Februari 2026. Situasi ini menandai awal musim kemarau tahap pertama di sejumlah daerah.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda, Nasrol Aidi, mengatakan hasil analisis data dasarian terakhir menunjukkan minimnya curah hujan secara merata di Aceh.
"Kalau kita melihat analisis terakhir, termonitor bahwa curah hujan di seluruh Aceh cukup rendah," kata Nasrol kepada Dialeksis, Selasa.
Menurut BMKG, wilayah pesisir timur dan utara Aceh diperkirakan lebih dulu memasuki musim kemarau tahap awal pada Februari. Daerah tersebut meliputi Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen, Pidie, dan Pidie Jaya. Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di sebagian Aceh Besar, Banda Aceh, dan Sabang.
Nasrol menjelaskan, peralihan menuju musim kemarau pada awal Februari merupakan pola yang lazim secara klimatologis. Meski beberapa wilayah masih tercatat dalam periode musim hujan, curah hujan yang turun relatif rendah.
BMKG menilai pengelolaan air bersih menjadi penting untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kami mengimbau masyarakat agar lebih hemat dan bijak dalam penggunaan air, supaya tidak terjadi kekurangan air bersih dalam kehidupan sehari-hari," tutupnya.