Selasa, 22 September 2026
Beranda / Berita / Aceh / 13 Nelayan Aceh Timur Pulang dari Thailand, Penantian Keluarga Berakhir

13 Nelayan Aceh Timur Pulang dari Thailand, Penantian Keluarga Berakhir

Senin, 21 September 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +


13 nelayan asal Kabupaten Aceh Timur  berhasil di pulangkan Pemerintah Indonesia. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Aceh Timur - Penantian keluarga 13 nelayan asal Kabupaten Aceh Timur akhirnya berakhir. Setelah menjalani proses hukum di Thailand, mereka kembali ke daerah asal dan berkumpul bersama keluarga pada Sabtu (19/9/2026). Kepulangan tersebut turut disambut Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky. 

Para nelayan itu merupakan awak KM Aneuk Manja yang ditangkap otoritas Thailand pada 10 Maret 2026 atas dugaan penangkapan ikan ilegal di zona ekonomi eksklusif negara tersebut. Mereka terdiri atas seorang kapten dan 12 anak buah kapal.

Kepastian mengenai persiapan pemulangan mulai disampaikan anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau Haji Uma, pada Selasa (15/9/2026). Setelah berkoordinasi dengan perwakilan Indonesia di Songkhla, ia menyebut ke-13 nelayan telah dibebaskan dan sedang menunggu pengaturan kepulangan bersama Imigrasi Phuket. Pemerintah Aceh juga dilibatkan untuk membantu kebutuhan perjalanan dan penjemputan. 

Tiga hari kemudian, Jumat (18/9/2026), rombongan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekitar pukul 20.00 WIB. Kedatangan mereka disambut Haji Uma bersama perwakilan Badan Penghubung Pemerintah Aceh. Anggota DPR RI asal Aceh, Ilham Pangestu, turut menjamu para nelayan makan malam.

Setelah bermalam, perjalanan dilanjutkan pada Sabtu (19/9/2026) menggunakan penerbangan Lion Air JT210 menuju Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Dari bandara itu, mereka dijemput dengan kendaraan Dinas Sosial Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Timur untuk meneruskan perjalanan melalui jalur darat ke kampung halaman. 

Dalam pembagian dukungan pemulangan, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memfasilitasi tiket pesawat dari Thailand ke Jakarta hingga Kualanamu dengan pendanaan Baitul Mal. Sementara itu, Haji Uma menanggung penginapan selama para nelayan berada di Jakarta, sebagaimana dilaporkan Mediasatunews.

Di Aceh Timur, Al-Farlaky bersama Ketua TP-PKK Aceh Timur, Lismawani, menyambut para nelayan yang kembali bertemu keluarga. Pemerintah kabupaten juga menyerahkan santunan uang dan bantuan lainnya.

Al-Farlaky menyampaikan apresiasi atas kerja sama pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten, serta pihak-pihak yang membantu pemulangan. Sebelumnya, ia telah menginstruksikan Kepala Dinas Perikanan Aceh Timur untuk menjemput rombongan di Kualanamu.

Kepulangan tersebut sekaligus menjadi pengingat mengenai pentingnya pemahaman batas wilayah saat melaut.

“Jangan sampai nelayan kita kembali memasuki wilayah negara lain. Karena itu, pemahaman mengenai batas-batas perairan harus terus disosialisasikan,” kata Al-Farlaky, sebagaimana diberitakan pada Minggu (20/9/2026).

Ia meminta Panglima Laot dan instansi terkait memperkuat edukasi kepada nelayan, terutama yang beraktivitas dekat perairan negara lain. Menurutnya, perlindungan nelayan juga perlu dilakukan melalui pencegahan agar kegiatan mencari ikan tidak kembali berujung pada persoalan hukum lintas negara. 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI